Parfi Kuningan akan Selenggarakan Kongres Luar Biasa.

Aspar Paturusi (memegang mike) bersama anggota DPO Parfi yang terpilih dalam Kongres di Mataram, Lombok, 28 Agustus 2016 lalu. (Foto: HW)
_
Wieke Widowati bersama Andryega da Silva, ketika menghadiri Kongres Parfi di Mataram, Lombok, 26 – 29 Agustus 2016. (Foto: HW)

Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) yang bermarkas di di Lt. IV Gedung PPHUI Jalan Rasuna Said, Kuningan Jakarta, berencana untuk mengadakan Kongres Luar Biasa (KLB), untuk memilih Ketua Umum yang baru beserta pengurusnya. KLN juga dimksudkanuntuk menyatukan kubu Parfi yang kini terpecah-pecah.

Seperti diketahui, selain Parfi Kuningan, kini ada Parfi 56 yang dipimpin oleh artis Marcella Zalianti, dan Parfi di bawah pimpinan aktor senior Sultan Saladin yang mengaku mendapat mandat dari Aa Gatot Brajamusti untuk mengurus Parfi.

Sultan Saladin, pemegang mandat Parfi dari Aa Gatot Brajamusti. (Foto: HW)

Untuk menyelenggarakan KLB itu DPO telah menunjuk Panitia Penyelenggara dengan Ketua Aspar Paturusi, Sekretaris Mawardi Harlan, dan tiga anggota yang terdiri dari Syaiful Amri, Dian Hasri dan Laily Sagita. SK penetapan mereka dibuat tanggal 26 Januari 2017 di Jakarta.

Sebelumnya DPO Parfi memberhentikan Wieke Widowati yang diangkat sebagai Ketua Umum, pada 18 Januari 2017 lalu.

Menurut Ketua DPO Parfi Aspar Paturusi, Wieke diberhentikan karena dinilai tidak bisa menjalankan amanat DPO. Wieke tidak mampu menyusun pengurus dalam waktu yang ditentukan, selama satu bulan. Bahkan sudah lewat satu minggu dari batas waktu yang ditentukan. Adapun KLB diharapkan bisa menyatukan semua unsur Parfi yang kini terpecah-pecah.

“Semua bisa bertarung di situ, supaya nanti muncul satu Parfi saja. Tidak bagus kalau terlalu banyak Parfi,” kata Aspar melalui telepon, Senin (27/2) pagi.

Seperti diberitakan sebelumnya, Dewan Pembina Organisasi (DPO) Parfi telahmengangkat Wieke Widowati, pada 18 Januari 2017 lalu, untuk menggantikan Andreanus Dedi Darmawan alias Andryega da Silva sebagai Ketua Umum. Keputusan itu diambil setelah DPO mempelajari mosi tidak percaya 30 Pengurus PB Parfi terhadap kepemimpinan Andryega, yang diangkat pada 30 Agustus 2016 menggantikan Aa Gatot Brajamusti.

Kubu Sultan Saladin sendiri tidak pernah mengakui kubu Parfi Kuningan, yang dinilai tidak mendapat dukungan mayoritas dalam Kongres Parfi ke-15 di Lombok, akhir Agustus 2016 lalu.

Kubu Parfi Kuningan dan kubu Sultan Saladin lalu mengajukan ke Dirjen AHU Kemenkumham untuk mendapatkan legalitas organisasi, atas nama masing-masing. Namun Kemenkumham melakukan meminta keduapihak untuk bermediasi.

Aspar berpendapat, langkah mediasi itu terlalu lama, sedangkan KLB langkah yang cepat dan tepat untuk menyatukan Parfi.

Sultan Saladin yang dihubungi mengatakan tidak setuju dengan wacana untuk mengadakan KLB, karena saat ini Kemenkumham sedang mengupayakan mediasi.

“Saya belum tentu setuju dengan KLB yang terkesan terburu-buru,” kata Sultan Saladin. “Saya menunggu surat dari Kemenkumham. Harusnya kita hormati dong pemerintah yang sudah sudah payah mengupayakan mediasi, tidak bisa kita sepelekan begitu saja,” kata Saladin yang mengaku prihatin dengan nasib Wieke Widowati, Senin (27/2) pagi.

Wieke Widowati sendiri belum bisa memberi keterangan. Melalui telepon dia mengatakan sedang berada di bandara, karena akan berangkat ke luar kota bersama keluarganya. Wieke tidak bisa memastikan sampai kapan berada di luar kota.

“Karena saya ada pekerjaan di luar kota, belum tahu kapan akan kembali ke Jakarta. Nanti saya kabari ya,” katanya sambil menutup telepon, Senin (27/2) pagi.

 

 

Share This: