Pariwisata akan Jadi Penghasil Devisa Terbesar Bagi Indonesia.

Menpar Arief Yahya (Foto: hw)
_

Melihat tren pertumbuhannya yang terus meningkat, pariwisata Indonesia diprediksi akan menjadi penghasil devisa terbesar bagi Indonesia.

Menpar Arief Yahya (Foto: hw)

Tahun 2017 devisa yang dihasilkan mencapai 15,20 milyar dolar, masih di bawah devisa dari CPO (crude palm oil / minyak sawit) yang mencapai 16 milyar dolar. Tahun 2018 yang masih berjalan ini devisa dari pariwisata telah menyentuh angka 16 milyar dolar, tahun 2019 diharapkan mencapai 20 milyar dolar.

“Tagetnya 17 milyar dolar, memang tidak tercapai. Tetapi kemungkinan sampai akhir tahun 2018 ini bisa melewati angka 16 milyar dolar, melewati devisa CPO!” kata Menteri Pariwisata Arief Yahya dalam Seminar Indonesia Tourism Outlook 2019 yang diadakan oleh Forum Wartawan Pariwisata (Forwarpar) di Hotel Borobudur Jakarta, Selasa (27/11/2018).

Tidak tercapainya target pariwisata Indonesia diakibatkan bencana alam yang terjadi, seperti meletusnya Gunung Agung tahun lalu, dan gempa bumi di berbagai di daerah tahun ini.

Menurut Menpar, pertumbuhan pariwisata menunjukkan tren positif, wisatawan yang datang ke Indonesia meningkat dan kontribusinya terhadap perekonomian Indonesia cukup besar.

Tahun 2015 Indonesia berada masuk ke tiga besar dunia untuk pariwisata, tahun 2017 masuk lima besar. Pada tahun 2019 Indonesia diproyeksikan berada di 10 besar dunia.

“Kita akan terus berusaha selain menjadi tujuan wisata terbesar di dunia, juga akan menjadi yang terbaik,” kata Arief.

Pertumbuhan pariwisata di suatu negara, menurut Arief, sangat tergantung pada regulasi dan teknologi yang digunakan. Bila regulasinya baik, maka pariwisata akan berkembang.

Vietnam adalah negara yang pertumbuhan pariwisatanya mencapai 29 persen, melampaui Indonesia. Keberhasilan Vietnam karena negara itu berhasil melakukan deregulasi besar-besaran.

“Kalau performance pariwisata ingin bagus, ubahlah regulasi. Hanya regulasi dan teknologilah yang bisa membuat pariwisata kita tumbuh 20 persen,” kata Menpar.

Menurut Arif, investasi di bidang pariwisata tidak terlalu besar dibandingkan investasi di bidang lain, namun hasilnya cukup signifikan dan bisa menyentuh sampai ke lapisan bawah.

Dampak yang positif dari pariwisata adalah peningkatan PAD, devisa dan tersedia lapangan kerja.

Beberapa daerah mengalami pertumbuhan pendapatan daerah yang cukup tinggi sebagai dampak pariwisata. Contohnya Kabupaten Samosir, Sumatera Utara yang PADnya (Pendapatan Asli Daerah) naik hingga 81 %.

 

 

 

 

 

 

 

Share This: