Bisakah Pariwisata Babel Jadi Pelopor Geliat Pariwisata Indonesia?

_

Sektor pariwisata merupakan penyumbang devisa negara terbesar pada tahun 2019.  Realisasi devisa dari sektor pariwisata mencapai Rp 280 triliun. Jumlah itu telah mengalahkan sumbangan devisa dari sektor migas.

 

Pemeriksaan suhu tubuh penumpang di Bandara Depati Amir, Pangkalpinang.

Mengingat begitu besarnya potensi pendapatan yang diperoleh negara dari sektor pariwisata, maka pemerintah terus berusaha memperbaiki semua hal yang menyangkut pariwisata, agar wisatawan mancanegara (Wisman) tertarik datang ke Indonesia.

Indonesia beruntung memiliki Bali, yang merupakan tujuan wisata dunia nomor wahid di dunia.

Mie Koba, salah satu kuliner khas Bangka yang enak.

Namun Indonesia bukan hanya Bali, masih banyak daerah lain di Indonesia yang memiliki keindahan alam, keunikan budaya, dan hal-hal lain yang ingin dirasakan oleh Wisman.

Sayangnya masih banyak sekali faktor yang membuat pariwisata di luar Bali belum terlalu menarik perhatian Wisman maupun Wisnus. Untuk itulah pemerintah selalu berusaha memperbaiki kekurangan sambil mempromosikan destinasi wisata di luar Bali. <

Di tengah upaya pemerintah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan jumlah wisman yang datang ke Indonesia, virus corona (covid-19) melanda dunia. Untuk mencegah penyebarluasan virus mematikan itu, semua negara memperketat arus keluar masuk orang dari dan ke negaranya. Tak terkecuali Indonesia.

Banyak destinasi ditutup, rencana perjalanan dikurangi atau bahkan dibatalkan. Sehingga pariwisata, yang sangat tergantung pada kunjungan wisatawan, sangat merasakan dampaknya.

“Yang paling merasakan dampaknya adalah hotel, penerbangan atau transportasi lainnya, restoran atau penjualan kuliner oleh masyarakat,” kata Kepala Pengembangan Wisata Regional I Kemenparekraf, Hari Santosa Sungkari, ketika membuka kegiatan sosialisasi CHSE di Hotel Santika Pangkal Pinang, Rabu (9/9/2020) pagi.

CHSE adalah singkatan dari Cleanliness, Healthy, Safety dan Environmental Substainability. Protokol kesehatan yang diterapkan di daerah wisata harus berbasis pada CHSE.

Sosialisasi Peotokol CHSE yang diadakan Kemenparekraf di Hotel Santika Pangkalpinang, Rabu (9/9/2020)

“Covid-19 memang membuat hampir semua sektor lumpuh,” kata Sungkari. “Namun manusia tidak boleh pasrah, harus tetap berikhtiar. Di bidang pariwisata, kita harus menemukan cara agar wisata bergerak.”

Pertanyaannya kemudian, darimana Indonesia harus memulai. Apa yang harus dilakukan agar wisatawan maupun masyarakat tetap merasa aman bila mengunjungi kawasan wisata.

Provinsi Bangka Belitung (Babel), menurut Sungkari bisa mulai menggerakan sektor pariwisatanya, karena, kasus covid-19 yang terkonfirnasi di Babel masih rendah. Wisatawan boleh datang asal protokol kesehatan berdasar CHSE dijalankan dengan baik.

Ada beberapa alasan yang dimiliki Babel untuk menggerakan pariwisata. Selain memiliki beberapa destinasi menarik, Babel juga dekat dari Jakarta sehingga bisa ditempuh dalam waktu yang cepat.

Sungkari juga menyarankan agar Babel, khususnya Pulau Bangka mulai berkreasi menciptakan pariwisata yang unik. Benar-benar galian tambang, atau situs-situs pertambangan timah yang ada sejak jaman kolonial, bisa direkayasa untuk menjadi tujuan wisata bagi Wisman yang kakek-kakeknya pernah tinggal di Bangka.

“Di Jakarta saja ada kuburan Belanda yang jadi obyek pariwisata, bahkan bisa dijadikan tempat pre wedding,” kata Sungkari. “Jadi pariwisata itu bukan soal keindahannya, tetapi keunikannya.”

Bangka memiliki tempat seperti yang dikatakan oleh Hari Santosa Sungkari. Pemukiman Bangka Tin Winning (BTW) yang berlokasi di Kota Sungailiat, atau tepatnya di Tamansari Kota Sungailiat merupakan komplek perumahan yang berisi bangunan-bangunan peninggalan Belanda.

Perwakilan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Babel, Darwan menjelaskan, p<span;>ariwisata merupakan salah satu penggerak ekonomi yang sangat penting di Provinsi Bangka Belitung (Babel).

Sampai Januari 2020 tercatat 40 ribu wisatawan datang ke Babel. Namun semenjak merebak pandemi Corona di seluruh dunia, pariwisata di Babel mendadak anjlok. Hal ini menimbulkan dampak yang sangat besar bagi pelaku pariwisata, khususnya penerbangan, hotel dan restoran.

“Jika  sektor pariwisata dari sekarang tidak dihidupkan,  bagaimana sektor ekonomi bergerak. Apalagi Provinsi Bangka Belitung sangat tergantung pada pariwisata,” kata Plt. Keduanya  Provinsi Babel, Darwan.

Darwan yakin pariwisata di Babel akan tumbuh karena Babel memikiki banyak tempat yang bisa ditawarkan kepada wisatawan.

“Kami memiliki obyek-obyek wisata menarik, terutama di Belitung. Kalau kuliner, Bangka tempatnya. Di sini kaya ikan dan semuanya segar. Meskipun ada beberapa etnis di sini, tetapi di Babel tidak ada konflik horizontal,” kata Dalwan.

Menurut Darwan, Babel diprediksi akan meningkat bila dua kawasan ekonomi (KEK), masing-masing Tanjung Kelayang dan Sukapura sudah dibuka. Selain itu Belitung akan ditetapkan sebagai geopark global oleh Unesco.

Di Pulau Bangka ada 2 KEK, yakni di Sukapura dan KEK Tanjung Gunung. Keduanya sudah diusulkan Dewan KEK Nasional.

Menurut </span;><span;>Ketua Prodi Administrasi Hotel STP NHI Bandung, Pudin Saepudin, S.ST.Par..MP.Par., meskipun belum ditemukan vaksin covid-19, Bangka sudah bisa membuka pariwisatanya dengan menerapkan protokol kesehatan berbasis CHSE.

Pengelola tempat wisata, hotel, homestay, restoran dan tempat-tempat kuliner lainnya sudah harus menerapkan protokol kesehatan tersebut.

“Setiap tempat yang akan dikunjungi wisatawan harus menerapkan protokol kesehatan. Tamu harus memakai masker dan mencuci tangan dengan sanitizer atau sabun, diperiksa suhu badannya dengan thermogun dann karyawan mengenakan masker, face shield dan sarung tangan,” kata Pudin.

<span;>Ia juga menyarankan agar pengelola tempat wisata membuat buku panduan untuk memudahkan wisatawan, membuat pembatas dan jarak dalam antrian, serta mengurangi penggunaan uang tunai.

Babel sendiri telah membuka pariwisata, ditandai dengan melaunching video new normal  pada  I Juli 2020 lalu.

Share This: