Pembacaan Puisi-puisi Palestina

Penyanyi rock Renny Djayoesman, ikut membaca puisi dalam acara "Doa Untuk Palestina" di TIM, Kamis (24/8/2017) malam. (Foto: HW)
_

Indonesia sebagai bangsa yang pernah mengalami penjajahan dan ketertindasan – sebelum akhirnya mengibarkan kemerdekaan – merasakan betapa sedih dan nestapanya sebagai negeri yang tertindas. Negeri yang tiada kemerdekaan dan kebebasan, merendahkan nilai-nilai kemanusiaan dan sulitnya mendapat keadilan.

Atas keterkaitan nilai-nilai luhur kemanusiaan tersebut, serta sebagai sesama anak bangsa yang pernah merasakan penjajahan di tanah air, KH Mustopha Bisri dan kawan-kawan mengadakan Malam Pembacaan Puisi-puisi Palestina yang diberinama Doa Untuk Palestina. Acara diadakan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki Jakarta, Kamis (24/8/2017) malam.

Acara yang dipandu oleh MC mantan model Ratih Sanggarwati dan Inayah Wahid ini menampilkan para pembaca puisi dari berbagai kalangan. Para penyair yang membacakan puisi antara lain Asep Zamzam Noor, Taufik Ismail, Jose Rizal Manua dan Sutardji Calzoum Bachri.

Prof. Mahfud MD. (Foto: HW)

Kemudian dari kalangan artis ada Slamet Rahardjo dan Renny Djajoesman, mantan Ketua MK Prof.Mahfud MD, tokoh Muhammadyah Prof. Syafi’ie Maarif, Dr. Quraish Shihab dan anaknya mantan presenter televisi Najwa Shihab dan lain-lain. Pembacaan puisi ini juga dihadiri Mendikbud Muhadjier Effendy.

Antusiasme masyarakat, terutama Kaum Nahdliyin untuk menyaksikan acara ini cukup tinggi. Seluruh kursi di Graha Bhakti Budaya terisi, bahkan sampai ke balkon. Bagi masyarakat yang tidak mendapatkan tempat di dalam, panitia menyediakan sebuah layar di luar gedung, yang menampilkan suasana pembacaan puisi di dalam.

Meski pun hanya menyaksikan dari layar dan harus duduk di lantai, penonton yang berada di luar mengikuti pemnacaan puisi dengan serius.

Karena banyak yang berpartisipasi dalam acara tersebut, setiap pembaca puisi, hanya diberi kesempatan untuk membawakan satu atau dua puisi. Acara ini juga dimeriahkan oleh Grup Laela Majenun dan Kumpulan Bunyi Sunya.

Penyair Taufik Ismail membawakan dua puisi, yang salah satunya langsung diterjemahkan dari bahasa Arab.

“Saya pernah ingin membacakan puisi ini di Palestina. Tetapi ketika saya ke sana, saya hanya bisa sampai ke perbatasan, tidak boleh masuk Palestina dan membaca puisi di perbatasan. Dan saya masih ingin kembali ke sana,” kata Taufik Ismail.

Puisi-puisi yang dibacakan umumnya menggambarkan harapan, keinginan, kemarahan dan bahkan keputusasaan rakyat Palestina, yang sampai saat ini masih berada di bawah cengkeraman Israel.

Ketua Panita Pembacaan Puisi-puisi Palestina, Ulil Abshar Abdala dalam sambutannya mengatakan, Tragedi kemanusiaan yang terjadi di bumi Palestina mengetuk hati nurani kita sebagai sesama anak manusia.

Fitrah kita sebagai manusia selalu mendambakan suasana damai dan kasih sayang. Sebagai mahluk sosial, manusia satu sama lain saling berbagi. Setiap kita saling terkait dalam hubungan baik emosi, sosial, dan berbagai hubungan kemanusiaan lainnya.

“Karenanya menjadi kewajiban kita bersama untuk saling berbuat baik terhadap sesama. Kepada saudara-saudara kita yang hari ini sedang dilanda duka karena teror dan tekanan dalam suasana perang, kuta turut prihatin dan berdoa, semoga penderitaan saudara kita segera bisa diakhiri,” katanya.
.

Share This: