Pembuat Film Adalah Profesi Serius

Niniek L Karim (kiri) dan Yustisia Arif dari Inklusi Film.
_

Membuat film tidak seperti membuat telor ceplok. Itu adalah profesi yang harus dipelajari. Untuk menjadi pembuat film yang baik, orang harus belajar dengan serius. Misalnya kuliah di
IKJ selama 6 tahun, itu pun harus magang dulu. 

Dosen Fakultas Psikologi UI yang juga dikenal sebagai artis film, Niniek L. Karim yang tampil sebagai pembicara dalam Training of Trainers (ToT), yang diadakan oleh Pusbang Film bersama Inklusi Film di Perpustakaan Kemendikbud, Selasa (14/8/2018).

“Jangan dengan begini nanti mereka langsung membuat film. Nanti dulu. Jangan berikan sesuatu yang semu. Tentang bakat dan minat itu karunia ilahi. Kalau punya bakat, sekolahlah,” tandas Niniek.

ToT diadakan selama dua hari, dibuka oleh Kepala Bidang Apresiasi dan Tenaga Perfilman Pusbangfilm Sanggupri, M.Hum. Selain Niniek L Kariem, pembicara lainnya dalam sesi pertama adalah Yustisia Arief, dari Inklusi Film.

Dalam sesi yang dipandu oleh Budi Sumarno dari KCFI, Ninik L Karim menambahkan, dalam konteks belajar film, banyak sekali yang bisa kita lalukan. Misalnya di LSF, kita bisa berperan untuk mengatakan film yang tidak sesuai umur.

Menanggapi pernyataan Ninik L Karim, Yustisia Arif dari Inklusi Film menjelaskan bahwa ToT yang diadakan hanya sebagai pilot project. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah sosialisasi tentang disabilitas.

“Bahwa nanti penyandang disabilitas bisa membuat film adalah bonus,” kata Yustisia.

Menurut Sanggupri dari Pusbang Film, kegiatan ini bukan untuk mencetak pembuat film profesional, tetapi bagian dari apresiasi film. Namun Sanggupri berharap, dari sini akan lahir pemikiran-pemikiran dan konsep untuk membuat modul dan kurikulum pembelajaran film bagi disabilitas.

 

 

 

 

Share This: