Pementasan Lakon “Trisara Tinayuh”, Pesan Untuk Pemimpin Agar Tak Lupa Diri

WO Sriwedari mementaskan lakon Trisara Tinayuh di Teater Kautamaan Gedung Perwayangan TMII, Minggu (4/4/2018) sore. - Foto HW
_

Di tengan ancaman semakin menyusutnya jumlah penonton karena pergeseran selera, Wayang Orang (WO) masih tetap mempesona. Setidaknya itulah yang dipertunjukkan oleh WO Sriwedari asal Surakarta, Jawa Tengah, di Teater Kautamaan Gedung Perwayangan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Minggu (4/3/2018) sore.

Foto: HW

Tari-tarian indah memikat, koreografi adegan perkelahian atau humor-humor yang disampaikan oleh pemain, masih memikat dan menghibur penggemarnya. Guyonan tidak hanya disampaikan dalam goro-goro oleh para Punakawan (Semar, Gareng, Petruk dan Bagong), tetapi hampir di setiap babak dialog-dialog yang mengundang tawa, kerap bermunculan.

Foto: HW

Jadi bukan hanya para punakawan yang melucu. Bahkan para Dewi, Ksatrya dari Pandawa  maupun para Kurawa, ikut melucu. Hasilnya penonton terhibur. Wayang orang tidak lagi terlalu terikat dengan pakem, meskipun cerita yang dimainkan masih tetap sama.

Lakon Trisara Tinayuh mengisahkan tentang Arjuna telah memiliki tiga pusaka utama (Trisara) yakni Pasopati, Pulanggeni, dan Sarotama yang berarti telah memiliki Jati diri, Kebijaksanaan dan Keteguhan. Namun ketika Arjuna yang merasa telah mencapai titik kemuliaannya, ia menjadi lupa diri. Akibanya banyak yang mendendam dan berusaha menghancurkan kerajaan ksatria Madukara.

Parahnya, ketika tiga pusaka ini raib, Arjuna malah menyalahkan orang-orang disekellingnya. Akhirnya terjadi kekacauan di dalam ksatria. Apalagi ditambah dengan kehadiran Gondang Jagad dan Gondang Buwana yang terus mencari Arjuna yang diakui sebagai ayah kandungnya.

Agus Prasetyo S.Sn selaku sutradara pementasan mengaku bahwa cerita Trisara Tinayuh merupakan Carangan (pengembangan) dari berbagai cerita pakem pewayangan yang sudah dikenal selama ini.

“Ini memang carangan, tetapi kita pentaskan karena konstekstual dengan keadaan saat ini dimana banyak pemimpin yang lupa diri ketika sudah menjabat,” kata Agus yang dalam pentas berperan sebagai Prabu Kresna.

Lepas dari inovasi yang diekspresikan dalam pementasan, persoalan bahasa memang membuat wayang menjadi tontonan yang sangat segmented. Karena wayang orang menggunakan Bahasa Jawa yang halus (kromo inggil), maka hanya mereka yang bisa berbahasa Jawa saja yang bisa menikmati cerita wayang.

Persoalan lain yang perlu diperhatikan adalah, penggunaan teknologi moderan untuk pertunjukkan wayang untuk menciptakan efek-efek khusus atau trik-trik dalam adegan. Misalnya penggunaan layar multimedia untuk menggambarkan latar belakang yang lebih sesuai dengan jalannya cerita, atau pemakaian sling untuk menggambarkan tokoh yang sedang terbang.

Dalam pementasan hari Minggu kemarin, baik latar belakang maupun efek yang digunakan sangat monton. Layar tidak berubah sepanjang pertandingan, dan efek yang dimunculkan adalah semburan asap (smoke gun) yang sesekali muncul.

Pergelaran ini sendiri melibatkan sebagian besar tim kreatif dan pemain dari kelompok seni Wayang Orang (WO) Sriwedari dari Solo, dan para seniman alumni Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Ada sekitar 150 seniman, dari mulai tim kreatif, Dalang, Sutradara, aktor dan aktris panggung, Pengrawit (Pemusik), Swarawati (penyanyi), dan pendukung lainnya.

Menurut pengusaha Eny Sulistyowati yang juga menjabat sebagai Humas Senawangi ((Sekertariat Nasional Pewayangan Indonesia), apa yang ditampilkan  Minggu sore lalu sudah diwarnai dengan berbagai inovasi. Bentuk layar yang berbeda dan permainan yang lebih lentur.

Menurutnya, berbagai inovasi sudah pernah dilakukan, dan bisa saja ke depan akan terus dilakukan perbaikan-perbaikan, demi merangkul segmen penonton yang makin sedikit (anak muda)

“Mungkin saja kita akan gunakan layar multimedia, supaya suasananya lebih hidup. Kita berharap generasi muda juga akan mencintai kesenian wayang. Namun kami ingatkan, kegiatan pementasan wayang, apapun bentuknya, harus mendapat dukungan dari pemerintah.

Selama ini, tutur Eny, WO Sriwedari yang sudah dianggap salah ikon kota Solo, mendapat perhatian dari Pemkot Solo.  Apalagi disana juga ada Institut Seni Indonesia yang melahirkan banyak seniman yang  harus disalurkan bakatnya.

 

Share This: