Pemerintah Harus Dukung Kesenian Wayang Bambu

Salah satu karya kesenian Wayang Bambu, Ciri Khas menggunakan bambu untuk pembuatan Wayang (Foto By : Reza Hardiyani)
_

Kesenian wayang bambu merupakan salah satu harta budaya bangsa yang berharga, dan sudah sepatutnya untuk didukung dalam setiap aksinya. Namun, sampai saat ini dukungan dari pemerintah masih dirasa amat belum cukup untuk bisa melestarikan kesenian budaya asli Indonesia ini. Hal itu, disayangkan oleh Ki Drajat Iskandar, pembuat Wayang Bambu dari Kota Bogor.

“Pemerintah harusnya lebih peka terhadap seniman di Kota Bogor. Kami ini bukan berarti ingin di hargai, tapi hargailah karya kami ini,” kata Ki Drajat.

Menurut Ki Drajat, jika melihat fungsi dan peran dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan seharusnya anggaran untuk para seniman itu ada, apalagi digunakan untuk mempopulerkan kesenian Kota Bogor

“Seniman-seniwati pantas juga jadi penerima honorer, bisa dihitung senima-seniwati di kota Bogor, karena bisa dihitung seniman-seniwati di kota bogor kenapa karena mereka mendukung kebudayaan Bogor,” tegas Ki Drajat.

Kri Drajat mengharapkan agar pemerintah bisa menjadi induk wadah daripada seniman-seniwati, khususnya  kota Bogor

“Kalo tidak ada seniman, tidak akan berkembang kesenian budaya disini” Ujarnya.

Ki Drajat juga merasa resah melihat kesenian dari perorangan, kelompok, paguyuban bahkan partai yang mengatasnamakan seni budaya dan hanya untuk ditunggangi. Padahal  seni budaya itu bukan untuk ditunggangi, tapi untuk dilestarikan, dikaryakan dan diperkenalkan.

Untuk membuat wayang bambu ini, Ki Drajat tidak mengambil langsung dari bambu di pohon yang ditebang hal itu dirasa kurang efektif. Besek bambulah yang digunakan ki drajat dalam membuat wayang bambu, hal itu juga untuk mengurangi vuloume sampah yang biasa berserakan di jalan. Ki Drajat berinovasi dengan menggunakan besek bambu yang sering dibuang setelah isinya di makan, dan timbullah ide membuat wayang dari bambu. Secara kebetulan, bambu juga sangat banyak di daerah ini. Akhirnya lama kelamaan berkembang menjadi sebuah kese¬nian baru yang khas dari kota Bogor.

Untuk proses pembuatan dilaksanakan dengan waktu 3 hari sampai seminggu dilihat dari kondisi cuaca. Apalagi di Kota Bogor yang sering turun hujan. Hal ini karena pembuatan wayang bambu menggunakan pemanas matahari.

“Karena kepala wayang enggak mungkin bisa jadi begitu saja. Harus telatent,” kata Ki Drajat.

Diakui Ki Drajat, pembuatan wayang bambu cukup sulit karena harus menjalin bilah-bilah bambu yang rumit. Terutama pada saat membuat suvenir wayang bambu dalam botol yang membutuhkan 3 kali eksperimen untuk mendapatkan bentuk yang sempurna. Wayang bambu dari Cijahe ini memang tak hanya dibuat untuk dipertontonkan, akan tetapi dieskpor sebagai souvenir ke berbagai negara, seperti China, Australia, Jepang dan sebagainya.

“Selain wayang bambu utuk di pergelarkan dengan sebuah cerita di atas panggung, saya buat juga dalam bentuk mini sebagai souvenir khas Bogor,“ jelas Ki Drajat.

Share This: