Pemusik Areng Widodo Meninggal Dunia

Areng Widodo (Foto: HW)
_

Pemusik senior Areng Widodo, Kamis malam (31/10/2019) meninggal dunia. Areng menghembuskan nafas terakhir setelah dirawat selama beberapa bulan di RS Paru Cisarua Bogor.

“Malam ini jenazahnya disemayamkan di RS UKI Jakarta, dan akan dimakamkan besok di TPU Pondok Rangon, Jakarta Timur. Jamnya belum tahu,” kata aktor Iwan Burnani, sahabat almarhum sejak di Bengkel Teater WS Rendra, di Yogyakarta.

Kepergian Areng merupakan kehilangan besar bagi dunia musik Indonesia.  Areng Widodo adalah seniman musik yang tetap bertahan selama puluhan tahun.

Dikenal sebagai pencipta lagu, dan kini menjadi penata musik untuk film maupun sinetron. Di usianya yang tidak muda lagi, Areng tetap berkarya sampai sebelum ia masuk rumah sakit.

Areng Widodo lahir di Salatiga, Jawa Tengah, 14 Desember…(tahun tidak disebutkan). Lulus SMP tahun 1968 melanjutkan ke Sekolah Melukis di Yogyakarta, lalu membuat grup musik bersama Inisistri, Nanu dan Bambang Tanti (adik Tanti Josepha).

Bergabung di Bengkel Teater WS Rendra tahun 1969 – 1975, lalu bergabung dengan grup musik di Golden Wing, Palembang tahun 1975 – 1978. Setelah Golden Wing bubar, Areng membentuk grup musik bersama teman-temannya dan berkeliling ke berbagai kota di Sulawesi Tengah untuk mengadakan tur. Ketika itu ia menciptakan lagu-lagu. Sekembalinya ke Yogya bertemu dengan Madji Malik (adik kandung Cemelia Malik). Setelah mendengarkan lagu-lagu karya Areng, Madji memperkenalkannya dengan Achmad Albar (Iyek) dan lagu-lagunya – antara lain “Syair Kehidupan” dinyanyikan oleh Achmad Albar.

Ternyata lagu-lagu ciptaan Areng menjadi hit. Sejak itu datang permintaan dari grup musik dan penyanyi lain untuk dibuatkan lagu. Ia lalu menciptakan lagu untuk Nicky Astria (“Jarum Neraka”), Farid Hardja, Mell Shandy, Ikan Fawzy, Bangkit Sanjaya, Freddy Tamaela, Yossi Lucky, El Pamas dll.

Dari dunia musik ia mendapat BASF Award untuk lagu Nona Manis.

Tahun 80 mulai menjadi Penata Musik Film untuk film “Tujuh Wanita Dalam Tugas Rahasia”, “Bibir Bibir Bergincu” (Mardali Syarif, Bibir), “Pelangi di Nusa Laut” (MT Rizal), “Sesal” (Sophian Sophiaan) dan banyak lagi.

Dari karya-karya musiknya di film ia telah meraih beberapa penghargaan. Setelah diunggulkan lewat karya musik film Malioboro pada FFI 1989, meraih Citra pada FFI 1990 dalam Jangan Renggut Cintaku. Cuma masuk unggulan untuk Boss Carmad dan Lagu untuk Seruni pada FFI 1991. Pada Festival Sinetron Indonesia (FSI) 1994 jadi calon pemenang untuk Salah Asoehan. Yang memulai penataan musik film pada 1980-an ini belakangan juga terjun ke sinetron. Termasuk dalam Noktah Merah Perkawinan (1996).

Untuk mengenang almarhum, hasil wawancara dengan beliau yang pernah diturunkan pada 17 April 2017, kembali dimuat.

Membuat lagu untuk Iyek

Dari tempat tinggalnya di Bogor, ia masih mencipta lagu dan mengerjakan ilustrasi musik untuk film dan sinetron. Saat ini dia sedang mengerjakan lagu-lagu untuk penyanyi gaek Achmad Albar (Iyek) dan ilustrasi musik beberapa judul film.

Apa yang membuat Areng tetap kreatif, berikut wawancaranya:

Anda mungkin salah satu dari sedikit seniman yang sudah berumur, tapi masih tetap produktif sampai saat ini. Apa rahasianya? 

Puji Tuhanlah sampai sekarang aku masih dipakai. Sekarang aku persiapan membuat lagu untuk Iyek, ada penyanyi baru juga. Ada 3 musik film yang aku kerjakan, ada 2 film lagi menunggu.Orang seangkatan aku yang sudah menyerah juga banyak, yang jadi boss ada. Syukur saya masih bisa berkecimpung di dunia ini.

Karena saya ini bekerja bukan untuk hidup, tetapi hidup untuk bekerja, untuk berkarya. Kalau saya berkarya untuk hidup, nanti pada fase tertentu kalau sudah setle saya berhenti. Tinggal nikmatin hidup, tidak berkarya, lama-lama sakit, mati buntutnya. Kita hidup itu punya missi, karena kita sebagai seniman punya bakat dikasih sama Yang di Atas. Kita hidup itu untuk mempraktekkan apa yang dikasih Tuhan ke kita untuk mengimplementasikan bakat kita. Hidup kita itu untuk berkarya, berkarya, berkarya, tidak ada berhentinya. Berhenti kalau sudah mati.

Foto: HW

Konon Anda tidak belajar musik secara khusus, tapi belajar seni lukis, bagaimana ceritanya bisa jadi pemusik? Kemampuan musik dari mana?

Aku otodidak. Sejak kecil kan punya grup band. Sampai di Yogya punya grup, aku main bass. Jadi kecil itu babe (bapak) main musik di gereja. Dari situ aku belajar musik, belajar gitar. Dari situ aku belajar sama teman-teman, sama tetangga. Lulus SMP aku masuk ke sekolah seni lukis di Yogya. Di Yogya malah bikin grup musik sama Nanu, sam Inisisri, sama Bambang Tanti. Mulai bikin band, nyari-nyari job di Solo, Semarang, Yogya. Makin maju lagi setelah bergabung dengan Golden Wing di Palembang.

Pernah bergabung di Bengkel Teater bersama WS Rendra, untuk apa?

Tujuan ke Bengkel kepingin belajar sastra, aku tidak suka teater. Tapi di bengkel kan harus main teater,ikut latihan dan ikut keharusan yang ada di Bengkel. Kegunaan belajar sastra kan aku nulis lirik baguslah. Jadi kalau bikin lirik aku enggak sembarangan, karena pelajaran dari Mas Willy. Waktu di bengkel aku punuya band bersama Inisistri, Nanu dan Bambang Tanti, adiknya Tanti Josepha. Kita punya grup main di Yogya, Solo, Semarang itu band SMA.

Bagaimana bisa bergabung dengan Goldeng Wing?

Waktu itu aku kan baca majalah Aktuil. Di situ ada berita Golden Wing cari pemain bass, karena pemain bassnya mau diganti. Aku kebetulan punya teman yang akhirnya jadi saudara angkat, Iie namanya. Dia kuliah di Yogya. Dia orang Palembang. Akhirnya aku dibawa ke Palembang, ikut audisi dan diterima. Kira-kira 3 – 4 tahun bubar Golden Wing aku hijrah ke Jakarta. Mulai jadi pencipta lagu, jadi penata musik film, tapi enggak sempat ngegrup di Jakarta, karena pekerjaan terlalu banyak. Kebetulan karierku di film cepat. Film ke satu dan seterusnya tidak terlalu jauh. Beberapakali masuk nominasi lalu dapat Piala Citra. Lagu juga begitu. Setelah “Syair Kehidupan” lalu disusul dengan lagu-lagu lain.

Foto: HW

Kalau bikin aransemen kan harus membuat partitur kan?
Prakteknya kalau musisi kita jaman dulu jaranglah bikin partitur. Ada yang bikin partitur ada, tapi banyak juga yang berinteraksi langsung. Bikin partitur juga aku bisa juga. Waktu di Yogya kan aku jadi guide, bergaul dengan turis-turis yang musisi. Dengan mereka kita suka tukar pikiran dan diskusi.

Dari Yogya aku kan ikut Bangau Putih di Bogor. Di situ kan banyak bule yang pemusik, yang sekolah musik, hobi musik. Saling belajarlah, menimba ilmu.

Soal partitur itu enggak begitu vitallah. Itu cuma cara doang. Yang penting hasilnya oke. Kecuali kalau tingkat kesulitannya tinggi. Tapi rata-rata enggaklah. Kalau anak band dulu kan langsung jadi aja. Jaman dulu kan anak musik jarang yang sekolah. Sekolah musik aja cuma ada di Yogya dan Medan. Kita sekolah musik itu susah. Mahal. Pemusik dulu kebanyakan otodidak. Sekarang sekoleh musik di mana-mana, bisa belajar di google. Dulu untuk dengar lagu Beatles aja dengerin lagu Australia, seminggu sekali. Yang punya piringan hitam cuma orang-orang tertentu.

 

Waktu tahun 70-an grup musik di Indonesia kan banyak sekali. Seperti apa asyiknya waktu itu?

Asyiknya proyek kita rame banget. Misalnya El Pamas mau rekaman, dia pesan sama kita (saya). Dibikinin meledak. Aku banyak kerjasama dengan El Pamas, Grass Rock. Jadi kolaborasinya enak banget. Kalau dulu ada grup mau rekaman pesan lagu sama kita, penyanyi juga begitu. Jadi setahun itu saya bisa nanganin 11 album, 11 film, belum lagi sinetron. Banyak rumah produksi yang saya pegang. Waktu itu benar-benar kurang waktu istirahat.

Apa sih bedanya pemusik dulu dengan sekarang?

Sekarang ini sekolah-sekolah musik banyak, belajar bisa di manapun, bisa langsung maupun dari internet. Pemusik sekarang mendapat banyak kemudahaan yang dulu kita tidak dapat. Dulu kita jadi penata musik film kalau tidak kenal orang film, tidak dikasih kita. Dulu ada yang coba-coba, kepepet lalu kita disuruh coba bikin. Kalau sekarang kan banyak anak-anak yang sekolah scoring di Amerika. Dulu sutradara aja jarang yang dari akademisi.

 Ketika masa jaya dulu apa yang bisa dibeli?

Semua bisa dibeli. Apa saja kita bisa beli. Apa yang kita mau bisa kecapailah. Kita prosesing musik juga sering di luar negeri. Di Australia, Jepang atau Amerika. Sekarang dengan banyaknya tayangan stripping kesempatan bagi pemusik malah semakin sedikit. Dulu karya kita bisa muncul di semua stasiun televisi. Sekarang malah tidak.

Secara kepuasan batin?

Sama aja. Tapi kalau hidupku setelah itu bukan di panggung. Aku berkarya buat penyanyi-2 kalau ada penyanyi sukses karena lagu kita, bangga juga. Ada penyanyi yang dulunya tidak laku/= begitu bawain lagu kita naik. Itu ada kepuasan sendiri.

Kalau jaman di Golden Wing dulu manggung. Jaman di Yogya dan Sulawesi sama grup juga. Sama-sama enak, tergantung situasinya. Waktu itu aku masih bujang, mau ke mana-mana cuek aja. Setelah banyak rekaman sudah berkeluarga, lebih banyak waktu bersama keluarga.

Dan tidak grup ya/ waktu itu kita megang sendiri, punya anak buah. Proyeknya kan aku yang pegang. Lebih total apa yang kita mau.

 

Kalau kepuasan di film bagaimana?

Sama aja sih. Tapi kalau di musik buat penyanyi-penyanyi didengar orang seluruh Indoensia. Film belum tentu didengar oleh seluruh orang Indonesia. Film kita kan tidak diputar di pelosok-pelosok. Kalau lagu kan diputar sampai ke pelosok-pelosok. Tapi kalau di film itu persaudaraannya asyik. Aku nongkrong di TIM, bertemu saudara-saudara, dengan sineas-sineas aktor, aktris.

Di situ banyak anak-anak IKJ, sutradara-sutradara, kan ngumpulnya di TIM kalau jaman dulu, aktor aktris. Da Kita bukan cuma ngobrol doang, tapi ikut berpartisipasi ngisi musik. Kita nongkrong di situ ada andilnyalah dalam dunia perfilman. Dan kebetulan Tuhan ngasih berkah aku laris banget waktu itu. Tahun 1980-an sampai 2002 aku laris banget. Setahun bisa 11 – 14 film. Enggak pernah kosong. Kebetulan prestasi lumayan, beberapa kali dapat Citra, di televisi dapat Piala Vidia. Artinya apa yang kita kerjakan dapat penghargaan.

Karena aku ngumpul sama sineas, sama astrada, sama editor, kita jadi belajar nyata sama mereka. Jadi bukan ngerti musiknya doang, tapi ngerti disain produksi, ngerti post pro. Pokoknya ngerti bagaimana terciptanya sebuah film sejak awalah. Jadi itu keuntungan kita.

 

Ketika pertama kali dikasih kerjaan menata musik film belum sedalam itu pemahamannya tentang musik film?

Belum. Tapi aku kan pede orangnya. Dulu sewaktu di Bengkel Teater ada pelajaran, kita lihat lukisan, dipasangin lilin di depan lukisan itu, diputerin lagu-lagu klasik, dan di situ kita berimajinasi. Dari situlah kita bisa berimajinasi. Tapi kalau soal teknis kemudian diajarin sama sutradara, sama editor. Boleh dibilang aku ini kan setengah otodidak. Aku tidak sekolah musik. Tapi langsung praktek belajar dengan para sineas. Dan kebetulan jaman itu kan Penata Musik tidak sampai sepuluh orang di Indonesia. Jadi kita dapat job terus, belajar terus.

Waktu di Yogya aku berteman dengan anak-anak AMI (Akademi Musik Indonesia). Aku memakai tenaga mereka kalau bikin musik, pemain biolanya dari AMI, pemain cellonya. Aku tidak kuliah di AMI. Sampai di Jakarta juga aku pakai mahasiswa-mahasiswa IKJ untuk proyek-proyek musikku.

 

Dari tahun ke tahun, pentaan musik untuk film berubah enggak karakternya?

Harus berubah. Harus ngikutin jaman kan. Kebetulan aku orangnya ikut perkembangan jaman. Aku tidak mau kerja dengan orang yang seumur. Aku banyak kerja dengan anak-anak muda, supaya dapat masukan. Senioritas dalam dunia musik itu juga agak merepotkan, karena para senior itu selalu merasa karyanyalah yang terbaik. Padahal dunia berkembang.

 Pernah mengalami hal yang paling pahit dalam kehidupan?

Pernah! Saya kira semua musisi pernah mengalami hal itu. Kecuali kalau cuma jadi seniman 5 tahun. Kalau aku kan puluhan tahun. Ngalamin stagnasi pernah. Kalau begitu kan pengaruhnya terhadap ekonomi. Jadi aku ini pernah ngalamin yang paling enak sampai yang paling sulit sebagai seniman. Kalau enggak ngalami begitu namanya bukan seniman.

Anak-anak mengikuti jejak dalam bermusik?

Anak saya yang pertama, Caesilia Avida Sarah, dulu waktu kecil belajar musik, tapi kemudian tertarik di film. Sekarang sudah semesater 8 Jurusan Seni Media Rekam di ISI Yogyakarta, dan adiknya Holly Caesar baru lulus dari Sekolah Menengah Musik di Yogyakarta. Dia sudah main ke kafe-kafe.

Selalu aku tanamkan kepada mereka, bahwa dunia seni itu tidak seindah yang kamu bayangkan. Kecuali kamu dalamin banget. Berat atau ringan harus dihadapin.

Anda kan sekarang jadi orangtua tunggal. Bagaimana mendidik anak-anak tanpa ada isteri bersama Anda? (Areng telah berpisah dengan isterinya, Sandra MC Kaseger, sejak 10 tahun lalu).

Saya sama isteri itu punya komitmen. Mesiki pun kita sudah pisah, tapi kalau anak-anak membutuhkan kita harus hadir. Misalnya kalau anak-anak ujian kita datang ke Yogya menemani mereka. Lalu setelah selesai kita pulang ke Jakarta, kita pisah. Untuk finansial juga begitu.

Kepada anak-anak juga kami tekankan bahwa mereka harus hormati ibunya. Ibunya juga bilang anak-anak harus menghormati aku. Kalau demi kepentingan anak, apa pun harus dikalahin. Kita harus bisa hadir kalau dibutuhkan. Aku enggak mau gara-gara perceraian anak jadi korban. Anak-anak tetap harus merasa mereka punya orangtua yang utuh. 

Tidak pernah berpikir untuk pensiun dari dunia musik?

Seniman itu kan tidak ada pensiunnya. Kalau masih bisa berkarya tidak pensiun. Kalau sudah tidak bisa berkarya, itulah pensiunnya. Karya itu tidak bisa ditahan. Terus berkarya. Sampai enggak kuat badannya baru pensiun. Kayanya kalau pensiun enggak kebayang ya. Malah bingung.

Kalau memang Tuhan mengijinkan, di masa tuaku aku kepingin melukis lagi. Aku kan senirupa juga. Aku kepingin nulis lagi. Tapi kayanya kalau musik tidak bisa berhenti ya. Aku kan orangnya tidak suka nganggur. Tinggal di rumah enggak bisa, kalau di rumah ada aja yang dikerjain.

 

 

Share This: