Pencipta Lagu “Burung Camar” Somasi 8 Media Online Karena Memakai Fotonya Tanpa Ijin

_

Pencipta lagu Burung Camar — yang dinyanyikan oleh penyanyi Vina Panduwinata — Aryono Huboyo Djati, mensomasi delapan media online karena menggunakan fotonya dengan obyek sineas Tino Saroengallo (almarhum).

Ke delapan media yang memuat fotonya tanpa ijin, yakni Grid.id, Trlbunnews.com, Detik com, Metronews com, MataMata.com. Poliklitik, Kapanlagl com, dan Merdeka.com.
Foto dengan obyek Tino Saroengallo dimuat kedelapan media tersebut tepat pada hari wafatnya sang sineas, 27 Juli 2018 lalu.

Pelanggaran darl kedelapan media tersebut berbeda-beda. Mulai darl penerbltan tanpa ljln, sepertl yang dllakukan Detik.com, MetroTVNews.com, MataMata com, penghilangan tandatangan Aryono dari foto, sepertl yang dllakukan Grid.id, manipulasi foto menjadi hltam-putih dengan pangkasan oleh Kapanlagi.com yang kemudlan dlterbltkan ulang oleh Merdeka.com tanpa pengecekan, sampal menjadi gambar vector, sebagaimana yang ada di Politiktik.com. bahkan penggamtian tandatangan Aryono dengan Grid.id di TribunNews.com.

Foto dengan obyek Tino Saroengallo dimuat kedelapan media tersebut tepat pada hari wafatnya sang sineas, 27 Juli 2018 lalu. Potret Itu dibidik tahun 2016, atas permlntaan Tlno sendiri untuk buku yang telah dipersiapkannya , namun baru disiarkan akun lnstagram Matajeli sesaat setelah kabar hembusan nafas terakhlr

Yang membuat Aryono berang, foto itu akan dibuat untuk cover buku tentang Tino Saroengallo yang akan diterbitkan tepat pada 100 hari kematian almarhum. Foto itu sendiri sudah diunggah di akun instagram milik Aryono yang terkunci. Hanya orang-orang yang mengikutinya yang bisa melihat.

Aryono menuturkan, potret Itu dibidik tahun 2016, atas permlntaan Tino sendiri untuk buku yang telah dipersiapkannya , namun baru disiarkan akun lnsugram Matajeli sesaat setelah kabar hembusan nafas terakhlr

Namun “pengaman” itu bukan halangan bagi orang-orang yang ingin mengambil foto Aryono. “Cara paling mudah kan dengan di screenshot. Nah itu yang mereka lakukan. Celakanya ada yang menghapus watermark saya dan mengedit ulang. Itu pelanggaran luar biasa,” kata Aryono ketika bertemu di Reading Room, Kemang Timur, Jakarta, Kamis (9/8/2018) sore.

Berang dengan perlakuan yang diterimanya, Aryono melalui sahabat sekaligus kuasa hukumnya, Ary Pangka, mengirimkan somasi ke beberapa media yang telah memuat fotonya secara tidak sah. Beberapa ada yang menanggapi dan mengaku salah, tetapi ada pula yang tidak menggubris. Haryono menyerahkan kepada kuasa hukumnya.

Aryono mengaku baru mengetahui adanya pemanfaatan ilegal karyanva pada tanggal 31 Juli 2018, satelah ia menggoogle dengan kata kunci Tlno Saroengallo. Ia penasaran dengan permlntaan Noorca M. Massardi untuk menggunakan potret almarhum Tino yang beresolusi tinggi untuk penerbitan sebuah buku yang rencananya diluncurkan pada Peringatan 100 Harl Tino Saroengallo.

Aryono lalu menulis sebuah status di Facebook menegur Grid.id, media pertama yang ia dapati menerbitkan potret Tino, karyanya, sebagal llustrasl berita kepergian Tino dan menyatakan akan mengirim tagihan, sementara hasll pembayarannva akan dlserahkan ke keluarga Tino, mengingat keluarga Tino telah menghablskan banyak uang untuk biaya pengobatan.

Teguran yang disampalkan pada Grid.id hanya ditanggapi dengan penurunan foto tersebut dan pengumuman pemuatan foto yang dlgunakan di berita terkait karena adanya keberatan dari pemilik foto, seolah-olah dengan demikian pelanggaran hak cipta adalah sesuatu yang bisa dihentikan.

Pengacara Aryono, Paulus Irawan, SH atau yang dikenal dengan panggilan Iwan Pangka mengatakan, pasal 28 Undang Undang Hak Cipta jelas menyebutkan, setiap karya cipta mengandung hak moral dan hak ekonomi bagi penciptanya. Hak moral itu melekat, tidak bisa dihapuskan,” kata .

Menurut Iwan, seseorang atau badan hukum tidak bisa begitu saja menggunakan karya orang lain tanpa seijin penciptanya. Apalagi kemudian sengaja mengubah atau menghilangkan nama penciptanyan dan diganti dengan nama orang lain.

“Kita perlu membangun kesadaran pentingnya hak cipta, khususnya kepada media. Karena media harus menjadi penjaga kebenaran. Sebab bukan tidak mungkin karya foto di tempatnya bekerja juga akan dipakai oleh orang lain tanpa ijin,” tambah Iwan.

 

 

 

Share This: