Pendidikan Bermasalah, Akibatkan Kemerosotan Ahlak dan Kemiskinan

Wakil Ketua DPD RI Nono Sampono (ketiga dari kiri) bersama Meteri Ristek dan Dikti M. Nasir (baju putih), Sekjen DPD RI (kedua dari kanan) berfoto bersma undangan lainnya, usai membuka Festival Beasiswa Nusantara II di Gedung Parlemen Jakarta, Sabtu (24/11). Foto: HW
_

Apabila pendidikan generasi muda bermasalah, akibatnya akan membawa kemerosotan ahlak dan kemiskinan pada bangsa. Yang merasakan dampaknya bukan hanya di pusat saja, tetapi juga di daerah-daerah.

Sekjen dan Wakil Ketua DPD berfoto dengan latar belakang mahasiswa dan pelajar yang menghadiri Festival Beasiswa Nusantara II di Gedung Parlemen Senayan Jakarta, Sabtu (24/11). Foto: HW

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Letnan Jenderal TNI Mar (Purn.) Dr. Nono Sampono, S.Pi., M.Si. mengatakan hal itu ketika memberi sambutan dalam pembukaan Festival Beasiswa II Nusantara (FBN), yang berlangsung di Gedung Parlemen Senayan, Jakarta, Sabtu (24/11/2018).

“Karena itu kita harus peduli dengan pendidikan bagi generasi muda di Indonesia, supaya anak-anak kita berkualitas dan ke depan negara semakin maju,” kata Nono Sampono.

(FBN) II diadakan oleh DPD bekerjasama Asosiasi Dosen dan Forum Rektor Indonesia. Acara yang berlangsung hingga tanggal Minggu (25/11) besok, dihadiri antara lain oleh Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohammad Nasir dan perwakilan dari Kedubes Ukrania untuk Indonesia dan Sekjen DPD RI Reydonnyzar Moenek.

Festival Beasiswa Nusantara I, tahun lalu diadakan di
di Kompleks Kemendikbud Jl. Jenderal Sudirman Jakarta. Gedung parlemen dijadikan tempat kegiatan, menurut Nono, karena gedung ini merupakan rumah masyarakat yang boleh digunakan oleh siapa saja.

Tahun lalu dari target 7000 orang yang datang 12 ribu.
Kali ini ditargetkan akan dihadiri oleh 15 ribu pelajar dan mahasiswa. Tetapi karena antusiasme begitu besar dari calon penerima beasiswa, menurut Nono, maka target pengunjung dinaikan jadi 30 ribu. Itu pun masih ada 41 ribu yang ingin datang.

“Tingginya antusiasme pelajar itu gambaran anak-anak muda ingin menyongsong masa depan lebih baik.
Yang datang juga dari berbagai status sosial, dan lebih banyak dari strata bawah,” kata Nono.

Kegiatan ini diharapkan dapat menjangkau anak-anak berkualitas di seluruh Nusantara dari berbagai strata.

Menristek Dikti Mohammad Nasir dalam sambutannya mengatakan, FBN II sesuai misi dan nawacita Presiden Jokwi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla untuk meningkatkan daya saing bangsa.

Menurut menteri, saat ini daya saing Bangsa Indonesia masih rendah. Dalam Global Competity integrity Indonesia menduduki posisi ke-36 dari 137 negara, naik satu tingkat dari posisi sebelumnya

Rendahnya daya saing itu, menurut Nasir, disebabkan hambatan dalam pendidikan tinggi dan pelatihan.
Bila dibandingkan dengan negara lain, Indonesia masih berkutat dengan kualitas pendidikan tinggi.

Dari 4.600 perguruan tinggi, yang masuk 500 besar dunia hanya ada tiga, yakni Universitas Indonesia, ITB dan UGM. UI berada di posisi 277, ITB posisi 341 ITB dan UGM ada di posisi ke 490. Sedangkan Cina ada puluhan perguruan tinggi yang masuk 500 besar dunia.

“Oleh karena itu presiden mendorong peningkatan daya saing melalui pemberian beasiswa, yakni 20,1 juta siswa 41.800 mahasiswa bidikmisi dan afirmasi di Papua dan Papua Barat,” kata Menristek Moh. Nasir.

Menteri menambahkan, karya tulis mahasiswa kita masih sedikit yang masuk jurnal iptek internasional. Sejak 20 tahun lalu karya mahasiswa selalu di bawah Thailand. Selain itu, masalah kedua, inovasi teknologi sangat rendah. Kita kalah jauh dengan Iran.

Sejak 2015 ada cuma 52 ada hasil inovasi mahasiswa masuk ke perusahaan berbasis teknologi. Sedangkan pada tahun 2004 – 2014, Iran memiliki 1000 inovasi mahasiswa yang masuk ke perusahaan berbasis teknologi.

“Namun sejak tahu 2016 – 2018 di Indonesia ada 956 karya inovatif yang sudah masuk perusahaan berbasis teknologi. Sesuai arahan presiden, tahun 2019 target minimal ada 1000 karya inovasi mahasiswa yang masuk perusahaan,” tambah Menristek.

 

 

Share This: