“Pengabdi Setan”: Joko Anwar Kembali Menghidupkan Zombie

_

Penonton film Indonesia tahun 1980-an pasti tahu dengan film “Pengabdi Setan”, film yang cukup fenomenal ketika itu karena trik-trik yang menarik. Kali ini Rapi Films, produsernya bekerjasama dengan sutradara Joko Anwar dan mempercayakannya untuk meremake film “Pengabdi Setan”. Skenarionya juga ditulis langsung oleh Joko Anwar.

Film ini mengisahkan tentang sebuah keluarga menengah yang bangkrut gara-gara isteri dari sang kepala keluarga yang telah memiliki anak 4, menderita sakit aneh selama 3 tahun. Ibu dari keempat anak itu akhirnya meninggal dunia, dan sang papak lalu memutuskan untuk kerja di luar kota meninggalkan anak-anak.

Tak lama kemudian, anak-anak merasa bahwa Ibu kembali berada di rumah. Situasi semakin menyeramkan ketika mereka mengetahui bahwa Ibu datang lagi tidak sekedar untuk menjenguk, tapi untuk menjemput mereka.

Setidaknya ada dua hal yang membuat kita penasaran dengan film ini. Pertama ini adalah film remake dari judul yang sama, yang dibuat tahun 1980 oleh sutradara spesialis film horor dan laga ketika itu, Sisworo Gautama. Yang kedua, sutradaranya sendiri saat ini, Joko Anwar.

Seperti diketahui, Joko Anwar merupakan sutradara yang cukup disegani di tanah air. Filmnya Copy of My Mind, terpilih sebagai Film Terbaik Festival Film Indonesia 2015.

Nah, seperti apa jadinya jika seorang Joko Anwar mengerjakan film horor, genre yang selama ini kerap dihindari oleh sineas-sineas kelas atas, karena genre ini termasuk banyak pembuatnya dan tergolong genre yang susah naik kelas di Indonesia, walau digemari penonton.

Dalam “Pengabdi Setan” versi 2017 ini, Joko Anwar tidak beranjak dari setting tahun 1980-an. Joko coba menghadirkan suasana saat itu melalui penokohan, tata artistik dan modal untuk menakut-nakuti penonton.

Rumah dan perabot tua, lingkungan penuh pohon-pohon besar, area pemakaman yang terletak tidak jauh dari rumah dan bisa dilihat dari jendela dan suasana sepi, sudah menyiratkan kesan menakutkan dari cerita yang akan dipaparkan selanjutnya.

Resep untuk menakut-nakuti penonton masih tetap sama: masih kemunculan hantu yang mendadak dengan suara musik mengagetkan, set-set yang terkesan penuh misteri dan dingin.

Tokoh ibu yang terus-menerus mengigau sambil tidur terlentang karena penyakitnya, memberi pesan jelas bahwa dialah tokoh utama yang akan membawa teror menakutan dalam rumah. Terlebih pakaian panjangnya yang berwarna puith kusam dan rambut terurai, makin melengkapi tujuan yang ingin dicapai.

Lalu lonceng yang dipegang dan dibunyikan sewaktu-waktu untuk memanggil anggota keluarga, juga menjadi elemen yang kuat untuk menghadirkan suasana horor lainnya.

Teror

Teror itu dimulai setelah sang ayah pergi. Keempat anak-anaknya mulai merasakan keanehan di rumah. Nenek mereka yang lumpuh mati kecebur di sumur. Anak Pak Ustadz, lelaki berani yang bersedia menolong, akhirnya mati terseret mobil setelah motornya oleng karena ia nyaris menabrak seseorang. Matinya anak ustadz terseret mobil merupakan adegan terbaik dalam film ini, walau terlihat mengerikan.

Sejak itu rumah keluarga itu mulai didatangi oleh hantu ibu mereka. Puncaknya adalah penampakan puluhan hantu di pekuburan, dan mulai mendatangangi rumah tua itu. Pak Ustadz yang awalnya meyakinkan bahwa shalat yang khusus dapat mengusir hantu, akhirnya terbunuh juga oleh hantu-hantu.

Segala macam cara dilakukan oleh Joko Anwar untuk menghadirkan sebuah tontonan yang bisa meneror penonton. Walau pun ada resep mengagetkan penonton, Joko banyak menggiring penonton untuk menghadapi teror yang akan muncul kemudian. Ia seperti menjerang air, panasnya naik pelan-pelan hingga mendidih.

Yang berbeda dari film Joko Anwar ini adalah menghadirkan hantu secara fisik. Jadi hantu tidak hanya sekedar roh yang menampakan diri, atau pun kalau marah, di hanya melemparkan benda-bendar tanpa memperlihatkan wujud nyatanya.

Hantu-hantu dalam film Joko Anwar berubah jadi zombie yang menyerang dan mengejar-ngejar manusia – layaknya seperti zombie dalam film-film Hollywood yang sering kita temui. Bedanya dalam film-film Hollywood pada umumnya, zombie tercipta karena manusia terpapar virus, bukan hantu dari alam lain.

Meskipun ada pula hantu yang digambarkan menjadi zombie seperti dalam Dead Snow (2009) yang menggambarkan tentara Nazi bangkit dari kuburnya, tetapi sebagai masyarakat rasional, pembuat film di barat memposisikan zombie sebagai manusia yang sakit tertapar virus aneh.

Dalam film ini Joko Anwar rupanya tidak mau terlalu melenceng jauh dari “Pengabdi Setan” tahun 1980 yang juga menampilkan zombie. Joko benar-benar ingin menghadirkan suasana tahun 1980-an secara artistik. Suasana itu makin kuat dengan terdengarnya suara sandiwara radio “Butir Butir Pasir di Laut”.

Sandiwara radio “Butir Butir Pasir di Laut” dengan sutradara John Simamora yang diputar RRI akan mengingatkan orang-orang yang pernah hidup di masa itu ke 70-an. Sandiwara radio ini mengudara di RRI tahun 1974 – 1984.

Yang terasa agak mengganggu adalah konstum para pemain anak-anak yang terkesan mewah dan kekinian. Dengan kostum itu mereka tidak mengesankan anak-anak yang hidup pada tahun 1980-an. Apalagi jika mengingat ayah mereka telah bangkrut karena harus membiayai ibu mereka yang sakit.

Seperti kata ungkapan, tidak ada yang baru di atas bumi, begitu pula dengan konsep yang dibawa Joko, meski pun harus dihargai pula apresiasinya terhadap film horor, khususnya “Pengabdi Setan”, yang menurutnya sudah digila-gilai sejak dia duduk di bangku sekolah, dan ia terobsesi untuk membuatnya kembali.

Share This: