Pengemudi Angkutan Barang Unjuk Rasa di Balaikota DKI, Protes Aturan Ganjil Genap

_

Lebih dari 400 pengemudi mobil bak terbuka, mobil boks dan angkutan barang lainnya yang tergabung dalam Asosiasi Pengemudi Angkutan Barang (APABI), Selasa (27/8/2019) siang melakukan unjuk rasa di depan Kantor Gubernur (Balaikota) DKI Jakarta.

Mereka ingin menyampaikan pernyataan sikap kepada Pemprov DKI, terkait aturan Ganjil Genap bagi kendaraan yang melintasi jalan-jalan tertentu di Jakarta,

Dalam pernyataan sikap yang ditandatangani oleh Koordinator APABI, Rusli Sudin, ada 4 (empat) hal yang ingin disampikan.

Pertama, Ganjil Genap menyengsarakan para pengemudi angkutan barang yang beroperasi ataupun yang melintas di wilayah DKI Jakarta.

Kedua, Ganjil-Genap menghambat kelancaran distribusi barang yang berujung kerugian pada para pengemudi angkutan barang, masyarakat maupun pelaku usaha/bisnis.

Ketiga, Jakarta adalah Kota Bisnis atau kota jasa sehingga kelancaran dan k’eoepatan dalam distribusi barang sangat diperlukan untuk meningkatkan daya saing para pelaku usaha.

Keempat, Peraturan Ganjl-Genap sangat merugikan para Pengemudi Angkutan Barang yang berprofesi sebagai jasa mengantar barang karena akan semakin sulit mencari nafkah untuk keluarganya.

Dan kelima, Memperhatikan hal-hal tersebut APABI menyatakan menolak Ganjil Genap dterapkan bagi angkutan barang.

“Karena mobil angkutan barang adalah ujung tombak distribusi barang dan menghambat distribusi barang beralti menyusahkan para Pengemudi dan masyarakat,” kata Rusli Sudin. 

Para pengemudi yang datang ke Jl. Merdeka Selatan dengan menbawa mobil masing-masing awaknya ingin memarkir mobil mereka di jalan persis di depan Balaikota, namun aparat yang berjaga mengamankan unjuk rasa melarang, hanya mengijinkan mereka membawa dua mobil pick-up yang dilengkapi sound system.

Mereka sempat melakukan orasi di depan Balaikota, sampai kemudian sepuluh orang perwakilan pengemudi diijinkan masuk ke Balaikota, dan diterima oleh Kepala Bidang Angkutan Jalan Raya Dishub DKI, Massdes Arouffy.

Di depan Arouffy perwakilan para pengemudi menjelaskan alasan mereka untuk dibebaskan dari aturan ganjil genap, karena selain menyulitkan pekerjaan mereka, perekonomian juga terancam terganggu karena peran mereka yang cukup vital dalam distribusi barang.

“Kalau sekarang ini kami agak repot. Apalagi kalau perluasan ganjil genap yang diperluas, kami tidak bisa bergerak sama sekali,” kata seorang pengemudi.

Perwakilan pengemudi lainnya mengeluh karena dengan adanya aturan ganjil genap, mereka seringkali menjadi korban pungli aparat di lapangan. “Katanya baru uji coba, tapi kalau masuk jalan ganjil genap kami sudah ditilang,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut Arouffy sempat menawarkan agar plat nomor mobil milik anggota APABI beralih menjadi kuning, supaya mereka dibebaskan dari aturan ganjil genap. Tetapi usulan itu ditolak oleh para pengemudi karena akan menyukitkan mereka.

“Kalau ganti plat kuning berarti mobil milik koperasi dong, bukan milik kami lagi. Belum lagi kami garus ganti SIM, STNK, yang semuanya harus memakai duit. Menurut kami tidak usah dikuningkan, toh mobil kami cirinya jelas, karena semua menggunakan plat nomor dengan kepala angka sembilan!” kata Zebua, dari Mitra Go Box Indonesia.

Menurut Arouffy, aturan ganjil genap yang diperluas masih dalam sosialisasi. Pemprov DKI juga masih terus menerima masukan-masukan dari masyarakat, sebelum aturan diberlakukan.

“Kemarin kami menerima masukan dari penyendang disabilitas, sebelumnya dari pengemudi online. Kita tampung dulu semua, termasuk hari ini, sebelum kami putuskan. Tidak ada sanksi selama uji coba. Kalau ada petugas yang menindak, silahkan beritahu kami,” kata Arouffy seraya berjanji akan mengundang lagi APABI sebelum aturan perluasan ganjil genap diberlakukan.

Koordinator APABI Rusli Sudin berharap Pemprov DKI menerima aspirasi mereka. Jika tuntutan tidak dipenuhi, APABI akan kembali lagi degan jumlah pengunjuk rasa yang lebih besar.

Share This: