Penggunaan Nama Benyamin Adalah Insiatif Penulis Sebagai Strategi Pemasaran

_

Penggunaan nama Benyamin dalam film “Benyamin Biang Kerok” pada film yang dibuat tahun 1972 dan “Biang Kerok Beruntung” tahun 1973 adalah insiatif penulis tergugat rekonvensi. Surat Perjanjian Lisensi antara Yayasan Benyamin Suaeb dengan Penggugat II Tidak Membuktikan Apapun tidak membuktikan terhadap perkara a quo.Pemakaian nama Benyamin adalah sebagai strategi pemasaran karena yang bersangkutan adalah legenda Betawi.

Demikian, antara lain, isi jawaban penulis cerita asli film “Benyamin Biang Kerok”, Syamsul Fuad, dalam jawaban yang disampaikan kepada Majelis Hakim, pada sidang di PN Jakarta Pusat, Selasa (8/8/2018) pagi.

Syamsul Fuad digugat balik oleh PT Falcon dan Ody Mulya Hidayat dari Max Pictures dalam kasus film “Biang Kerok” yang dibintangi oleh aktor Reza Rahadian. PT Falcon dan Ody menggugat ganti rugi sebesar Rp.50 milyar kepada Syamsul, karena dinilai telah membuat opini negatif, sehingga film “Biang Kerok” gagal dalam pemasaran.

Dalam jawabannya kemarin, Syamsul yang didampingu pengacaranya M. Arsyad menyampaikan, telah terjadi pelanggaran atas hak cipta milik penggugat konvensi / tergugat rekonvensi, karena tergugat rekonvensi tidak pernah memberikan ijin kepada siapa pun untuk memodifiikasi cerita maupun karakter Pengki.

Sinopsis film “Biang Kerok” telah membuktikan bahwa penggugat konvensi / tergugat rekonvensi telah memodifikasi karakter Pengki tanpa ijin.

Surat Perjanjian Lisensi antara Yayasan Benyamin Suaeb dengan Tergugat II telah membuktikan bahwa nilai jual karakter Pengki sangat besar, mencapai Rp.500.000.000,- sehingga sangat wajar apabila Penggugat Konvensi / Tergugat Reconvensi menuntut kompensasi atas nilai cerita dan karakter Pengki.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Penulis Cerita asli film “Benyamin Biang Kerok” Syamsul Fuad menggugat PT Falcon dan Ody Mulya Hidayat dari Max Pictures di Pengadilan Niaga Jakarta, karena membuat film “Biang Kerok” tanpa ijin darinya. Syamsul menuntut kompensasi sebesar Rp.1 milyar plus Rp.1000 dari hasil penjualan tiket.

PT Falcon dan Ody lalu menggugat balik Syamsul melalui PN Jakarta Pusat, dengan tuntutan ganti rugi Rp.50 milyar.

“Bukti-bukti telah menunjukkan bahwa sayalah pemilik cerita dan karakter di dalamnya. Mereka tidak pernah minta ijin kepada saya!,” kata Syamsul usai sidang.

Share This: