Pengrajin Kujang Satu-Satunya di Bogor

Sosok Wahyu Affand Suradinata, Ahli Pembuat Kujang dari Bogor (Sumber : GaleriIndonesiaKaya)
_

Kecintaan akan budaya Indonesia dan kesenangan akan cerita sejarah leluhur bangsa menjadi faktor utama Wahyu Affandi Suradinata dalam mendirikan usaha kerajinan Kujang, senjata tradisional khas Jawa Barat. Tugu Kujang yang berdiri kokoh di seputaran Kebun Raya Bogor menjadi simbol dan keyakinan wahyu bahwa usaha kerajinan ini akan terus berkembang dan memiliki potensi pasar yang baik. “Kalau bukan kita yang melestarikan budaya bangsa, siapa lagi? Ujar Wahyu, Sebagai satu-satunya Pengrajin Kujang di Kota Bogor.

Berawal dari tahun 1993, pada saat itu ia diperkenalkan kujang oleh gurunya yang bernama Anis Jati Sunda. Mulai saat itulah, ketertarikan terhadap kujang terus ia perdalam dengan mencari informasi mengenai asal-usul senjata khas tradisional yang asal mulanya dari pantun Bogor, Kerajaan Pajajaran. Setelah mendapatkan banyak informasi, wahyu mulai mencoba untuk membuat replika kujang pertamanya dengan melihat koleksi kujang dari museum-museum, dekoleptor, dan orang-orang yang mencintai kujang. Pembuatan kujang pertama, ia peroleh dengan menggunakan bahan baku dari besi tua yang dibelinya. Dengan gigihnya ia mengerjaan replika kujang pada saat istirahat ataupun libur sekolah yang saat itu, Wahyu masih mengajar di STM pada tahun 1995.

Selama lima tahun pertama dari tahun 1995 hingga tahun 2000 pembuatan kujang hanya dilakukan berdasarkan Hobi, tidak untuk diperjualbelikan. Lalu, Mulai tahun 2000 berdasarkan saran gurunya, bahwa kerja keras membuat kujang adalah bagian dari seni, dan harus bisa diberikan nilai baik dari segi nilai seni ataupun dari bahan bakunya, apalagi membuat kujang itu tidak sembarangan. Pembuatan kujang yang dibuatnya selama 10 tahun pertama masih amatiran dan masih menerima upah sukarela dari pembeli.

Fokus Usaha, Rela Berhenti Ngajar
Keputusan untuk fokus mengembangkan usaha pembuatan kujang, dibarengi dengan keputusan untuk mengorbankan karirnya megajar dan mengundurkan diri menjadi guru di STM pada 2010. “Segala sesuatu ade resikonya, tapi alhamdulilah melalui usaha ini saja saya bisa menafkahi keluarga”. Papar Wahyu.

Share This: