Pengurus Pafindo Audiensi ke Pusbang Film

Pengurus Pafindo dan Pejabnat dari ubang Film sedang bertukar cendera mata, dalam pertemuan di Kantor Pusbang Film, Kamis (9/3) sore. (Foto: HW)
_
  1. Jajaran pengurus Perkumpulan Artis Film Indonesia (Pafindo), Kamis (9/3) melakukan audiensi ke Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbang Film) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, jalan Jendral Sudirman Jakarta.

Kedatangan Pengurus Pafindo ke Pusbang Film dipimpin oleh Ketua Umum Pafindo RM Bagiono, SH, MBA didampingi oleh Wakil Ketua Umum Rizal Gibran dan Bendahara Umum Yanti Yaseer. Pengurus lain yang m kmenyertai adalah bintang sinetron, Sartana dan Rita Hasan, aktor film Syamsul Adnan, penulis scenario dan novel Irfan Wijaya, komedian Prapto Pempek dan Lilik Dwipu.

Sedangkan dari Pusbang Film diwakili oleh, antara lain, Kepala Bidang Apresiasi dan Tenaga Perfilman M Sanggupri, M.Hum, Kepala Bidang Perizinan dan Pengendalian Film Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbang Film) M. Kholid Fathoni dan Kasubag pengarsipan Pusat Pengembangan (Pusbang) Rita Siregar. Kepala Pusbang Film Dr.Maman Wijaya yang sedianya akan menemui, berhalangan karena harus mengikuti Rapat Pimpinan (Rapim) dengan Mendikbud.

Dalam kesempatan tersebut pengurus Pafindo menyampaikan usulan kegiatan yang bisa disinergikan dengan program Pusbang Film. Kegiatan yang diusulkan adalah Seminar Sehari, Workshop proses kerja produksi film dan pemeranan; Nonton dan Diskusi Film; Lomba Penulisan Skenario dan nonton film Get Lost, film yang diproduksi oleh Ketua Umum Pafindo RM Bagiono.

“Kami harapkan kegiatan yang kami usulkan ini sesuai dengan visi dan missi Pusbang Film yang telah disusun menjadi program yang siap dijalankan, dan kami siap bekerjasama untuk menjalankannya,” kata Bagiono.

Waketum Pafindo Rizal Djibran memaparkan tentang pentingnya sertifikasi bagi aktor dan pekerja film, untuk mengantisipasi perdagangan bebas yang akan berlaku di Indonesia.

“Ke depan semua aktor dan pekerja film itu harus memiliki sertifikasi. Sebab kalau tidak, kita akan menjadi penonton di negeri sendiri. Sebanyak apa pun Piala Citra yang kita miliki, tidak ada gunanya ketika pasar bebas berlaku,” kata bintang film dan sinetron yang juga berprofesi sebagai dosen ini.

Hal lain yang disampaikan Rizal adalah tentang materi ajar untuk anak dalam bentuk audiovisual. Setiap tokoh-tokoh penting yang tercatat dalam sejarah Indonesia, harus difilmkan, dan itu akan menjadi materi untuk pelajaran sejarah.

“Jadi nanti kalau film-film itu sudah dibuat, anak-anak di sekolah tidak perlu membaca buku lagi. Guru tinggal mengambil film yang sesuai dengan pelajaran sejarah, lalu diputarkan di depan anak-anak. Tetapi pembuatannya juga harus berkualitas, supaya menarik,” tambah Rizal.

Komedian Prapto Mpek Mpek menyarankan agar kegiatan perfilman bisa dipadukan dengan pariwisata daerah. Banyak daerah di Indonesia yang belum dieksplor ke dalam film, padahal alamnya sangat indah dan menarik untuk pariwisata.

“Kadang kalau kita datang ke daerah membawa usulan pembuatan film, kepada daerah langsung berteriak: kita tidak punya uang! Saya bilang uang nanti kita yang carikan. Kebetulan saya juga bergabung di Komunitas masyarakat Sumbagsel atau Sumatera Bagian Selatan. Di situ ada Pak Jimly Ashidiqi dan Pak Susno Duadji. Mereka bisa diajak ngomong,” kata Prapto.

Pihak Pusbang Film tertarik dengan usulan yang ditawarkan Pafindo, karena materinya sesuai dengan program yang akan dijalankan oleh Pusbang Film.

“Banyak program Pusbang Film yang sesuai dengan usulan Pafindo. Kita berterima kasih sekali, karena ada program yang akan dijalankan dengan pihak luar, kami kira Pafindo bisa membantu. Semua nanti akan kita bicarakan teknisnya.Tapi saya melihat usulan Pafindo ini kan bagian dari masyarakat, dan pemerintah merasa perlu untuk bekerjasama dengan komponen masyarakat, karena pemerintah tidak bisa bekerja sendiri,” Kepala Bidang Apresiasi dan Tenaga Perfilman M Sanggupri, M.Hum.

Share This: