Penjual Madu Baduy, Kadang Harus Menahan Lapar Selama 2 Hari

Aril, warga Cisadane, Kanekes (Baduy Luar) sedang menjajakan madu di stasiun Depok Lama. (Foto-foto: HW)
_

Madu merupakan cairan kental berwarna kuning kecoklatan yang sangat bermanfaat bagi kesehatan manusia. Oleh karena itu madu selalu dicari oleh mereka yang mengetahui manfaatnya bagi kesehatan. Di Indonesia, salah satu tempat penghasil madu asli terkenal adalah Pulau Sumbawa, meski pun madu dari lebah liar, bisa ditemukan di hutan mana pun.

Sekarang tidak sulit mendapatkan madu asli. Akhir-akhir ini masyarakat di kota-kota besar, khususnya di Jabodetebek, pasti sering melihat orang-orang berpakaian serba hitam dengan ikat kepala berwarna biru, yang menjual madu. Mereka biasanya mangkal di pasar-pasar atau stasiun yang bisa dilewati banyak orang. Para penjual madu itu berasal dari Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, atau lebih dikenal dengan sebutan Baduy Luar.

Aril, pemuda berusia 25 tahun dari Kampung Cisadane, Kanekes mengaku setiap minggu mengambil madu di kampungnya, dan dijual di Jabodetabek. Aril tidak sendiri, banyak orang sekampungnya, atau orang-orang Kanekes lainnya yang menjual madu ke kota. Ketika ditemui di Stasiun Depok Lama, Aril berjualan bersama seorang kakak dan dua orang tetangganya dari Kampung Cisadane.

“Biasanya kami bawa sepuluh botol seorang, kalau sudah laku kami ambil lagi di kampung,” kata Aril. “Biasanya sepuluh botol itu bisa laku empat atau lima hari. Kadang kalau lagi ramai bisa dua hari.”

Madu yang dibawanya tidak dijajakan di satu tempat saja. Kadan jika di suatu tempat tidak laku, dia akan membawanya ke tempat lain. Biasanya ia dan teman-teman atau saudaranya naik kereta api commuter line atau berjalan kaki.

“Kemarin kami jalan kaki dari Depok Baru sampai Jatinegera,” kata Aril.

Di kampungnya Aril – komunitas Baduy Luar yang menjajakan madu lainnya – tidak “memproduksi” atau mengambil sendiri madu dari hutan. Biasanya yang pergi ke hutan warga Baduy Dalam, lalu dijual ke orang Baduy Luar. Nah Baduy Luar itulah yang menjajakannya ke kota-kota. Selain menjual madu, mereka juga menjual gelang-gelang anyaman kayu dan Koja (tas yang dibuat dari kulit kayu khas Baduy).

“Kami membeli dari orang Cikeusik. Kalau kami minta madu, mereka pergi ke hutan sebentar, lalu baliknya bawa madu. Cuma sebentar ke hutannya,” tutur Aril.

Setiap botol madu oleh orang Baduy Dalam dihargai Rp.60 ribu – 80 ribu. Penjual seperti Aril menghargai Rp.100 ribu kepada pembelinya. Jadi tiap botol ia mendapat keuntungan antara Rp.20 ribu – Rp. 40 ribu. Tetapi keuntungan yang dibawa pulang tidak utuh, karena ia harus membayar biaya transportasi dan makan.

Tentu saja jika ia harus makan normal dalam ukuran masyarakat kota – dua sampai tiga kali sehari – keuntungan yang diperolehnya tidak akan bisa dibawa pulang, mungkin nombok. Nah orang seperti Aril punya kiat agar bisa membawa pulang uang ke rumah, yakni hanya makan satu kali dalam sehari.

“Kadang tidak makan seharian, atau bahkan sampai dua hari kalau dagangan lagi sepi,” kata Aril dengan nada datar. “Samalah dengan di kampung. Cuma bedanya kalau dikampug makanan gratis,” tambahnya.

Bagi masyarakat Baduy, makan sehari sekali atau bahkan tidak makan dalam sehari atau dua hari merupakan hal biasa. Fisik mereka sudah terlatih, walau pun dengan perut kosong mereka harus membawa beban yang berat dan berjalan jauh melalui medan yang berat di kampungnya. Lauk yang dimakan untuk menemani nasi pun sederhana, hanya berupa ikan asin atau garam.

“Kalau di sini paling makan sama tempe. Kadang dengan ikan emas. Kan di kampung mah tidak ada ikan,” kata Aril.

Meski pun umumnya warga Baduy bertani, tetapi hasil tani mereka tidak dimakan. Padi yang disimpan di lumbung hanya digunakan untuk acara tertentu atau dalam keadaan darurat. Untuk konsumsi sehari-hari mereka membeli beras di kampung-kampung di luar Desa Kanekes.

“Uang keuntungan jual madu nanti akan saya tabung, supaya kalau berumahtangga bisa membantu orangtua,” kata Aril.

Tetapi tabungannya juga kadang terpakai untuk membeli kebutuhan lain, terutama membeli beras, untuk menyambung hidup.

“Kadang tabungan juga kepake buat beli beras atau buat membeli kebutuhan apa saja. Yah namanya orang hidup, ada aja perlunya,” kata Aril dalam bahasa Indonesia bercampur Sunda Baduy.

 

 

 

 

 

 

Share This: