Pentas di Jakarta, Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara Surabaya, Buktikan Masih Eksis!

Pementasan lakon "Guruku Tersayang (Bui)". (Foto: PKL Irama Budaya Sinar Nusantara)
_

Perkumpulan Kesenian Ludruk (PKL) Irama Budaya Sinar Nusantara (IBSN), Surabaya, akan mentas di beberapa tempat di Jakarta. Pada 17 Agustus akan main di Anjungan Jawa Timur Taman Mini Indonesia Indah, 18 dan 19 Agustus di Taman Ismail Marzuki gedung Graha Bakti Budaya, Cikini, Jakarta Pusat. 

Ada dua kisah yang akan ditampilkan yakni : “Cak Durrasim Sang Pahlawan” yang ditulis berdasarkan pengakuan keluarga alm Cak Durrasim, kemudian lakon berjudul “Guruku Tersayang ( BUI )” mengadaptasi naskah lakon karya teatrawan Akhudiat.

Seniman ludruk Surabaya, Cak Meimura yang kini menjadi Pimpinan Ludruk IBSN menjelaskan, lakon “Guruku Tersayang (BUI) menggambarkan kisah seorang guru yang masuk penjara gara-gara uang BOS. Seniman ludruk Surabaya juga akan diperkuat dengan kehadiran seniman ludruk senior Prapto Pempek, Agus Pengampon, dan lain-lain.

Meimura sadar tampil di Jakarta berhadapan dengan penonton yang belum fanatik dengan kesenian Ludruk adalah resiko besar. Tetapi menurutnya, itu sudah dipertimbangkan masak-masak.

“Penjagaan terhadap eksistensi kesenian Ludruk, Inovasi dan Regenerasi yang sudah kami lakukan dan militansi seluruh anggota menjadi modal yang akan kami desakkan kepada penonton di Ibukota RI itu, katanya. 

“Jujur, kami ingin pentas di Istana President, seperti kala Bung Karno memimpin negri ini, salah satu alasannnya ialah, di era President Joko Widodo, Undang Undang Pemajuan Kebudayaan disahkan, tentunya juga bakal dijadikan pedoman untuk melaksanakan pembangunan berkesenian di Nusantara ini untuk mencapai keadilan dan kesejahteraan Seniman,” tambah Meimura.

Ia menuturkan, proses menuju pentas di Jakarta ini sangat sangat mengesankan. Respon datang dari berbagai pihak. Antara lain anggota Komisi IX DPR Indah Kurnia C, Rektor Universitas Sunan Giri Surabaya Gunawan Aji , dr.ZquifIi dari Bengkel Muda Surabaya, DR Basuki Babusalam Anggota DPR Provinsi jatim, Wakil Ketua dan beberapa anggota DPRD Surabaya.

Juga ikut membantu Walikota Surabaya Tri Risma Harini, Staf Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kota Surabaya, beberapa bank swasta dan pemerintah, dan banyak lagi.

“Mereka tidak saja memikirkan kami hari ini, tapi juga memikirkan bagaimana nasib seniman dan kesenian ludruk kdepan, Luar biasa,“ ujar Meimura.

Saat ini kondisi Perkumpulan Kesenian Ludruk Irama Budaya Sinar Nusantara, cukup Prima. Proses ludruk anak anak dan yang senior berjalan dengan cukup baik, kekompakan semakin meningkat.

“Kedepan kami agendakan pentas diluar Taman Hiburan Rakyat, mengisi ruang ruang publik di kota Surabaya dalam rangka memperkokoh posisi kesenian Ludruk sebagai ICON kota Surabaya,” tambah Meimura.

Kehadiran generasi muda terdirik seperti Lilik Dwipu, Ayu Ray, Nur Afiah, Sri Wahyuni, Nirmala Puspa, yang memiliki pendidikan formal kesenian, menurutnya, adalah ”sesuatu” untuk perkembangan perkumpulan kesenian ludruk.

Loyalitas mereka bertemu dengan militansi para seniman Ludruk senior di Irama Budaya Sinar Nusantara, menurut Meimura, bagai “Tumbu ketemu Tutup”.

“Saya tidak bisa bayangkan bila kehidupan berbangsa dan bernegara ini tanpa kehidupan berkesenian. Kesenian di negri kita ini senantiasa diciptakan sebagai tontonan dan tuntunan. Seiring dengan perkembangan waktu dan peradaban global, seringkali kita menghadapi percepatan diluar dugaan, yang terjadi kemudian ialah, anak anak kita terpisahkan dalam mengapresiasi seni budaya,” papar Meimura.

Meimura sadar seiring kemajuan jaman, masyarakat menuntut ludruk melalukan inovasi-inovasi. Dan itu sudah dilakukan dengan mengadaptasi naskah-naskah penulis terkenal dunia, seperti pementasan naskah karya  Fransesco Lyn,  yang disadur dengan judul “Mentang-mentang Bidadari New York Ojo Keminggris.

“Yang kedua kami mainkan dengan Rotary Club  di Konjen Amerika, penontonnya anak-anak muda. Membludag,” tutur Memimura.

Pertunjukkan di Jakarta juga memiliki missi khusus, untuk menunjukkan bahwa ludruk, kesenian yang berjasa bagi bangsa di masa revolusi, masih tetap eksis.

Share This: