Penulis Cerita Film “Biang Kerok” Syamsul Fuad: “Saya Hanya Minta Hak Saya”

H. Syamsul Fuad saat hadir di PN Jakarta Pusat, Kamis (23/3/2017) pagi. - Foto: TIS
_

Dengan langkah  pelan dan penuh kehati-hatian, penulis cerita asli film “Benyamin Biang Kerok”, Syamsul Fuad hadir di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis (22/3/2018) pagi.

Hari ini adalah sidang perdana kasus sengketa hak cipta film “Benyamin Biang Kerok” antara H Syamsul Fuad selaku penulis dan pencipta judul itu dengan PT Falcon Pictures berlangsung di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Meskipun langkahnya agak lemah, lelaki berusia 83 tahun itu tetap semangat datang ke pengadilan, untuk menyaksikan perjalanan kasus gugatannya ke PT Falcon.

“Saya hanya minta hak atas cerita bikinan saya,” kata Syamsul Fuad (83), usai persidangan.

Selain Syamsul, sidang dihadiri oleh pengacara penggugat Bakhtiar Yusuf SH dan Hasraldi SH selaku kuasa hukum.

Sidang berlangsung cepat tanpa dihadiri pihak tergugat. Majelis hakim menskors sidang sampai 5 April mendatang.

Gugatan disampaikan H Syamsul Fuad setelah pihaknya tidak mendapatkan respons positif dari produser film “Benyamin Biang Kerok” yang disutradarai Hanung Bramantyo itu.

H Syamsul Fuad adalah penulis asli cerita dan judul film “Benyamin Biang Kerok” di tahun 1972. Dia juga menulis film Benyamin Biang Kerok Beruntung”.

Kedua judul film itu kemudian diproduksi ulang oleh Falcon Pictures, salahsatunya berjudul Benyamin Biang Kerok yang sudah tayang sejak 1 Maret 2018.

Sementara itu, pengacara Bakhtiar Yusuf SH mengungkapkan materi gugatan yang diajukan pihaknya antara lain royalti sebesar Rp1000/ tiket.

“Gugatan material lainnya, kami sampaikan yaitu Rp1 Miliar per satu judul film,” kata Bakhtiar,

Falcon sendiri dalam siaran pers yang pernah disiarkan sebelumnya, menyebut telah membeli hak cipta film “Benyamin Biang Kerok” dan “Benyamin Biang Kerok Beruntung” dari pihak keluarga almarhum Benyamin S.

Tentang hal tersebut, Bakhtiar Yusuf mengatakan tidak menjadi masalah. “Kami tidak persoalkan jual-beli film itu. Yang kami gugat adalah soal hak karya atas cerita itu yang masih melekat pada pak Syamsul Fuad,” jelas Bakhtiar.

Pengacara Hasrialdi SH, mengatakan pihaknya sudah mengirim dua surat somasi dan tidak mendapat tanggapan pihak Falcon.

“Kami mengajukan gugatan setelah film Benyamin Biang Kerok diputar di bioskop dan artinya pihak tergugat sudah memanfaatkan karya penggugat secara komersial,” kata Hasrialdi SH.

Tujuan gugatan tersebut, menurut Hasrialdi SH karena pihaknya tidak ingin berpolemik di media.

“Gugatan ini untuk menguji kebenaran. Janganlah melarang orang membajak karya sementara hak karya orang diabaikan,” katanya.

Share This: