Peran Masyarakat Adat Dalam Melestarikan Sumber Daya Alam

_

Dalam sejarahnya leluhur kita sebenarnya sudah lama mejaga suatu tradisi kebiasaan untuk menjadi pegangan bagi kehidupan sehari-sehari. Tapi interaksi tersebut hancur akibat banyaknya izin perusahaan-perusahaan tambang yang mematikan.

Pada beberapa komunitas adat yang ada di Indonesia  kearipan lokal terbukti dapat mencegah kehancuran seperti bencana alam dan longsor akibat dari gundulnya hutan. Salah satu contoh masyarakat Baduy di Banten yang masih menjaga hutan dengan suatu tradisi kearipan lokalnya. Masyarakat adat baduy tidak pernah terlibat dalam kasus ilegal loging karena menurut mereka hutan dilingkunganya sangat penting.

Selain itu, masyarakat adat di Baduy juga kerap kali melakukan kegiatan syukuran. Hal itu dirasa penting sebagai bentuk rasa terimakasih kepada leluhur yang telah memberikan kehidupan bagi mereka. Menurut mereka, masyarakat adat tidak bisa dipisahkan dengan tanah yang telah di tempati selama turun temurun jauh sebelum indonesia merdeka mereka telah ada. Dalam hal ini, seharusnya negara menghormati keberadaan mereka dengan cara memberikan pengakuan terhadap keberadaanya lewat suatu kebijakan yang berpihak terhadap masyarakat adat.

Sampai saat ini, masih banyak kebijakan pemerintah yang tidak berpihak terhadap keberadaan masyarakat adat (lokal), pemerintah masih mengangap bahwa lahan yang kosong bisa dimanfaatkan untuk pembangunan oleh perusahaan-perusahaan.

Pemerintah berpandangan lahan kosong tersebut tidak ada yang memiliki dan tidak terurus. Pada prakteknya tanah adalah hal terpenting bagi kehidupan komunitas adat. Masyarakat menilai bahwa kehilangan tanah oleh proyek untuk kepentingan infrastruktur atau investasi swasta akan menimbulkan kerusakan bagi lingkungan dan generasinya.

Dampak dari penguasaan lahan yang dilakukan oleh perusahaan tambang batu bara atau pabrik semen tentu akan menimbulkan hilangnya mata pencaharian masyarakat lokal. Salah contoh masyarakat adat di Kendeng Suku Samin yang lahanya hancur akibat industri pabrik semen yang mematikan bahkan merenggut korban jiwa.

Dampak dari pembangunan tersebut, mereka tidak bisa bertani dan beternak karena lingkuanhnya yang telah rusak akibat aktivitas perusahaan. Selain itu, dampak negatif lain bagi mereka akan menurunya ketahanan pangan dan sumber air yang langka.

Untuk merespon situasi tersebut, pemerintah biasanya memberikan harapan kepada masyarakat yang terkena dampak dari pembangunan tentang jaminan sosial atau pekerjaan, akan tetapi hal itu kerap kali tak sesuai yang diharapkan.

Proyek pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah dalam membuka lapangan pekerjaan tak berjangka panjang karena dalam perjalanannya masyarakat sering dikriminalisasi salah satunya lewat adanya PHK oleh perusahaan. Selain itu, sumber daya air dan makanan yang biasa mereka peroleh dengan mudah harus mereka beli. Padahal sebelumnya mereka dapatkan dengan gratis diperoleh dari lahan sendiri. Sementara bantuan yang diberikan oleh pemerintah tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Dalam penataan masyarakat bisa menimbulkan konflik baru pada tempat tinggal yang ada disekitarnya, hal itu disebabkan oleh persaingan yang meningkat akibat permasalahan tanah yang menimbulkan konflik sosial. Dalam beberapa kasus di Indonesia, kerap kali terjadi perselisihan antara penduduk setempat dengan petugas keamanan. Kriminalisasi dan ancaman terjadi terutama ketika aparat dan militer turun tangan untuk melakukan penggusuran secara paksa kepada masyarakat.

Hilangnya Identitas dan Budaya

Masyarakat adat atau lokal pada umumnya menilai bahwa tanah ialah salah satu sumber identitas dan budaya yang sama pentingnya dengan sumber ekonomi. Relokasi pemukiman bisa merusak struktur dan kebiasaan masyarakat serta hilangnya simbol-simbol sakral dan budaya. Faktor-faktor yang dilihat ini tak dapat tergantikan oleh gedung-gedung bertingkat dan jalan beraspal serta pipa listrik. Penduduk mengeluhkan penurunan pekerjaan dan hilangnya tradisi yang selama ini kerap dijunjung.

Pembangunan dilahan adat juga dapat menimbulkan kesenjangan, munculnya kelompok masyarakat terpinggirkan akan mengakibatkan penggusuran yang lebih besar dan kenyataanya mereka tak mampu menuntut untuk mempertahankan hak-hak mereka. Sebagian besar masyarakat di Indonesia mengalami penggusuran akibat proyek pengembangan. Dalam hal ini, sebenarnya masyarakat adat lebih mengerti dan paham betapa pentingnya lahan mereka dengan berbagai cara-cara tradisional yang lebih kretif untuk melestarikanya.

Penulis Moh Jumri Aktivis Sosial Masyarakat Adat dan Pernah Aktif di Isu Perburuhan

Share This: