Perayaan Hari Film Nasional 2019

_

Beberapa stand-up komedian asuhan Ramon Papana bergantian menunjukkan kebolehan mereka untuk menghibur. Mereka mengerahkan segala kemampuan untuk membuat penonton tertawa. Entah kenapa hampir semua penonton, tidak terusik materi lawakan yang mereka tampilkan. Tidak terlihat satu pun penonton yang tertawa, apalagi terbahak-bahak.

di antaranya aktor lawas Pong Hardjatmo, Clara Sinta (Auk) pemilik PT Inte4 Studio Rudy Sanjoto, Ketua Yayasan PPHUI Irwan Usmar Ismail, produser film Dilan Ody Mulya Hidayat, Ketua GPBSI Djonny Sjafruddin, Direktur Operasional jaringan bioskop XXI Jimmy Haryanto, dan beberapa insan film lawas lainnya.

Selain stand-up comedy, dilakukan pemotongan tumpeng dan sambutan Sekretaris Umum Yayasan PPHUI Soni P. Sasono dan pemutaran 3 (tiga) judul film nasional, masing-masing Yowis Ben 2, Dilan 1991 dan Suzanna – Bernafas Dalam Lumpur.

“Pusat Perfilman adalah satu-satunya situs perfilman bersejarah yang masih tersisa. Di sinilah tersimpan arsip-arsip film dan film-film lama Indonesia yang harus dijaga. Hari Film Nasional sendiri, tanggal 30 Maret, ditetapkan sesuai dengan syuting pertama film Darah dan Doa yang dibuat oleh H. Usmar Ismail, yang namanya digunakan untuk tempat ini,” kata Soni.

Soni menambahkan, untuk mengenang jasa-jasanya, almarhum H. Usmar Ismail tengah diusulkan sebagai pahlawan nasional.

Terlepas dari semangat yang diperlihatkan untuk memperingati HPN, situasi yang terlihat di PPHUI dalam memperingati HPN sangat ironis. Di satu sisi tempat ini disebut Pusat Perfilman, tetapi suasana perayaannya sangat minim kehadiran insan film. Terutama insan film yang masih eksis saat ini.

“Menyedihkan. Selalu begini tiap tahun. Ini karena Pusat Perfilman tidak punya daya cengkeram atau pengaruh apa-apa terhadap insan film, terutama dari kalangan muda yang rata-rata sibuk,” kata produser film H. Zairin Zain.

Zairin yang mengaku ikut terlibat dalam pengusulan Hari Film Nasional kepada Presiden BJ Habibie, tahun 1991 mengaku prihatin dengan penyelenggaraan HFN beberapa tahun terakhir ini.

“Dulu Presiden Habibie menyatakan bahwa HFN bisa dilaksanakan di Istana Negara tiap tahun, sekaligus pemberian penghargaan kepada insan film yang telah berjasa dan mendedikasikan hidupnya kepada dunia film.

“Masa untuk Hari Musik bisa diadakan di istana, tapi Hari Film enggak. Musik kan cuma bagian dari film. Seharusnya pemerintah juga mencanangkan Hari Film selalu diadakan di istana. Selain itu selurih bioskop juga harus memberikan semua layarnya untuk film nasional,” kata Zairin.

Berbeda dengan Zairin, Ketua Sinematek Indonesia Adisurya Abdy yang ikut sibuk dalam pelaksanaan HFN

Begitulah suasana yang terlihat dalam peringatan Hari Film Nasional (HFN) 69, Sabtu (30/3/2019) yang berlangsung di Pusat Perfilman H. Usmar Ismail (PPHUI) Jakarta.

Kegiatan peringatan dan perayaan Hari Film Nasional (HFN) ke-69 tahun 2019 ini berlangsung hampir serentak di berbagai tempat. Selain pemerintah (Kemdikbud), ada acara yang diselenggarakan atas kerjasama Pusbang Film Kemdikbud dan pihak lain, atau yang murni diselenggarakan oleh masyarakat dan pemerintah daerah (Pemda).

Menurut Kepala Pusbang Film DR Maman Wijaya, penyelenggaraan HFN 2019 ini berlangsung dengan tiga cara. Pertama, acara yg dikemas kemdikbud sendiri diselenggarakan di 264 titik.

Jumlah itu meliputi 127 pada instansi yg diberi bantuan mobil bioskop keliling, 40 pada Dinas Pendidikan dan kebudayaan yang diberi bantuan peralatan penayangan tanpa mobil, 73 sekolah yang dilengkapi studio, dan 24 SMK yang membuka kompetensi keahlian film.

Kedua, penyelenggaraan dengan kerjasama Kemdikbud dan pihak lain sebanyak 9 event, termasuk salah satunya yang (oleh Badan Perfilman Indonesia / BPI) di Bandung, seperti pameran film di Paskal Mall bandung dan di ISBI bersama 17 perguruan tinggi yang membuka Prodi (Program Pendidikan) film.

“Selain itu ada pula yang diselenggarakan murni oleh masyarakat atau komunitas beserta pemda setempat tapi tanpa bantuan pemerintah pusat,” jelas Maman.

Share This: