Perhimpunan Lembaga Quick Count Jelaskan Proses Pengumpulan Data

_

Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepi) akhirnya menjelaskan tentang metode pengumpulan data yang digunakan oleh lembaga survei untuk hitung cepat (quick count).

Menurut Ketua Persepi Philip J Vermonet, data yang digunakan berasal dari data C1 di TPS. Data itu dikirim oleh relawan yang dikirin lembaga survei ke TPS. Jika data diambil dari 2.000 TPS, maka akan ada 2.000 relawan yang bergerak, begitu seterusnya.

“Lembaga survei yang tergabung dalam Persepi, menggunakan metode random dalam mengambil suara dari TPS. intinya adalah cuma randomisasi dari TPS, metodenya itu,” kata Philip di hadapan wartawan, di The Icon Hotel, Jakarta Pusat, Sabtu (20/4).

Persepi berharap penjelasan ini bisa menjawab keraguan terkait hasil quick count lebih unggul paslon 01 Jokowi-Maruf Amin.

Philips mengungkapkan standar pengambilan data yang dilakukan pihaknya minimal dari 2.000 TPS. Hal itu untuk menekan margin of error dari tabulasi suara yang masuk.

“Kita mengambil 2.000 TPS, atau 3.000, atau 4.000 ya kan. Ada inomerator yang kita kirim tiap TPS, jadi kita juga memobilisasi ya paling enggak 2.000 orang, nanti dia hanya melaporkan saja penghitungan di TPS, C1 Pleno itu. Difoto, lalu kita ada server-server, tabulasi, sudah,” rinci Philips.

Lembaga survei yang tergabung dalam Persepi, kata Philips, tidak khawatir dengan isu negatif yang dilontarkan pihak BPN Prabowo-Sandi. Philips mengatakan hasil quick count dapat dipertanggungjawabkan.

“Jadi kan elitenya membuat distrust, padahal record kita cukup baik ya. Anggota Persepsi membuat quick count sejak beberapa pilpres yang lalu, dan 2014 juga, termasuk pilkada. Kalau hasilnya baik disukai oleh elite, kalau hasilnya tidak baik tidak bisa dipercaya dan sebagainya,” tandas Philip.

Share This: