Peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-74 di Kalibata City

_

Kalibata City merupakan sebuah apartemen terbesar di Asia Tenggara. Ada 13.700 unit dengan penghuni kurang lebih 30.000 jiwa! Tempat ini tak pernah sepi. Tempat parkir yang berada di samping kiri-kanan, depan / belakang bangunan dipenuhi oleh kendaraan… Letaknya yang strategis, hanya beberapa puluh meter dari Stasiun kereta api Duren Kalibata dan jalan raya di depannya, membuat apartemen “murah” ini sangat diminati. 

Sebuah mal cukup luas yang dibangun untuk kepentingan warga bersosialisasi, membeli kebutuhan mereka dan pengunjung yang sengaja datang untuk refresing, juga tak pernah sepi. Kalibata City menjadi sebuah kota mini di Jakarta.

Keriuhan manusia yang demikian banyak dengan segala aktivitasnya, tentu akan diikuti pula dengan eksesnya. Suara-suara miring mengatakan Kalibata City merupakan tempat bersemayamnya Bandar narkoba dan perempuan-perempuan penjaja cinta kelas atas.

Di aparteman ini juga banyak berdiam para WIL (Wanita Idaman Lain) pejabat dan orang-orang berduit. Berbagai kasus menggemparkan juga pernah terjadi di Kalibata City. Penangkapan pengedar dan pemakai narkoba, pelacuran terselubung dan pembunuhan yang menggegerkan.

Kalibata City adalah tipikal permukiman kota besar yang warganya saling tidak peduli satu sama lain. Nafsi-nafsi. Warga yang tidak pernah usil, bahkan tidak kenal dengan tetangganya. Maka sangat masuk diakal jika berbagai penyimpangan juga terjadi karena semua orang sibuk dengan urusan masing-masing. 

Gambaran seperti itu ternyata tidak sepenuhnya benar. Paling tidak ada orang yang memiliki keinginan untuk menjalankan hidup secara normal, bisa berkomunikasi, bersosialisasi dengan orang-orang di sekitarnya. Saat ini penghuni Kalibata City memiliki forum untuk bersilaturahmi yang diberinama

Perhimpunan Pemilik dan Penghuni Satuan Rumah Susun (P3SRS) yang dimotori oleh seorang wanita bernama Musdalifah Pangka.

Bekerjasama dengan pengelola apartemen, Musdalifah selalu memanfaatkan moment-moment tertentu untuk menumbuhkan ikatan silaturahmi antarwarga, seperti acara buka bersama saat Ramadhan, atau mengadakan berbagai kegiatan saat memperingati HUT Kemerdekaan RI.

Pada HUT Kemerdekaan RI ke-74 ini Kalibata City mengadakan berbagai kegiatan yang dapat melibatkan seluruh penghuni, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Berbagai lomba untuk digelar. Seperti lomba makan kerupuk, futsal, tenis meja maupun tenis lapangan, sepakbola mengenakan sarung, main gaple, karaoke hingga lomba pakaian adat.   

Agar masyarakat mau berpartisipasi, panitia menyiapkan sebuah odong-odong gandeng yang terus berkeliling di setiap apartemen untuk menjemput warga. “Sejak pukul delapan pagi hingga pukul lima sore odong-odong terus berputar.
Ada 40 kali putaran!” kata Musdalifah yang ikut menyetir sendiri odong-odong penjemput warga.

“Waktu kuliah saya naik motor. Tetapi setelah lulus saya tidak pernah lagi bawa motor. Ternyata masih bisa. Asyik juga bawa odong-odong,” tambah Musdalifah sembil tertawa.

Sebelum lomba, warga juga diajak untuk memperingati detik-detik proklamasi sembari mengingat jasa-jasa para pejuang yang telah berkorban demi kemerdekaan Indonesia.

Acara terus berlanjut hingga malam hari, yang lebih ditekankan pada acara pemberian hadiah dan hiburan. Banyak penghuni yang datang mengenakan pakaian adat daerah, sehingga gambaran Indonesia yang utuh terlihat di komplek aparteman (rumah susun) yang sempat tercoreng citranya itu.

Warga memamakai pakaian adat atas himbauan panitia dan pengelola apartemen. “Kita ingin warga kembali ke jatidirinya sebagai bangsa Indonesia dan memahami bahwa kita ini beragam,” kata Isak Lopung, General Manager Pengelola Kalibata City yang mengenakan pakaian adat Bali, meskipun dia berasal dari NTT.

Musdalifah sendiri memakai pakaian khas Makassar yang disebut Baju Labbu, dan seorang warga lain, Syamsul, mengenakan pakaian Bugis lengkap dengan badik di pinggang.

Malam, 18 Agustus 2019 kemarin, di antara kedai-kedai kopi, makanan dan toko-toko lainnya di Kalibata City, suasana terasa berbeda. Sebagian penghuni guyub memperingati HUT RI ke-74, meski pun ada penghuni lain yang terlihat tetap tidak peduli ketika sebagian besar orang bersikap khidmat menyanyikan lagu “Indonesia Raya”.

Memang tidak semua warga mau merenungkan makna peringatan Hari Kemerdekaan. Tetapi apa yang dilakukan oleh pengelola dan sebagian warga di Kalibata City adalah sebuah upaya untuk menanamkan kesadaran bahwa kita adalah Bangsa Indonesia yang sangat beragam, dan bisa ikut bersama-sama menikmati kemerdekaan.

Share This: