Perjuangan Melawan Hepatitis, Nyaris Membuat Zul dan Ebai Frustrasi.

Zul (kiri) dan Egai, membei testimoni tentang perjuangan mereka melawan Hepatitis C. (Foto: HW)
_

Andaikata mereka tahu akibat yang akan dialami akibat menggunakan napza (narkota dan zat adiktif) dan seks bebas, tentu keduanya tidak berani coba-coba. Tetapi surga dunia memang memabukkan, sehingga membuat orang lupa.

Zul mengahbiskan masa muda begelimang dengan kesenangan duniawi. Akibat pergaulan bebas, dia menjadi pecandu napza. Penampilannya yang macho dengan cambang dan kumis menghias wajahnya, membuat ia juga mudah bergaul dengan lawan jenis. Dari situlah ia menjalani seks bebas.

Tetapi masa-masa indah itu telah berlalu. Yang dirasakan saat ini adalah dampak dari penggunaan napza dan seks bebas itu, yakni penyakit berbahaya Hepatitis C. Virus hepatitis memang banyak bersemayam di lever (hati) para pengguna napza, selain virus HIV.

Zul divonis mengidap Hepatitis C setelah menjalani tes kesehatan tahun 2008. Ketika itu dunia seperti mau kiamat, dia tak percaya sekaligus takut. Keluarganya pun tidak bisa menerima.

Yang membuatnya nyaris putus asa, pengobatan hepatitis ketika itu sangat mahal. Sekali suntik interferon saja membutuhkan Rp.2,5 juta. Pengobatan harus berlangsung penuh selama setahun tanpa putus, yang bisa menghabiskan biaya sampai Rp. 1 milyar.

“Pokoknya waltu itu paling enggak kita harus menjual mobil Kijang Inova. Nah gua warisan tanah sejengkal aja kagak ada,” kata Zul ketika memberikan testimoni kepada wartawan peserta pelatihan hepatitis di Hotel 101 yang diadakan oleh Persaudaraan Korban Napza Indonesia (PKNI), Sabtu (4/11/2017).

Zul baru menjalani penbobatan interferon pada tahun 2014 – 2015, setelah ada program pengobatan gratis dari pemerintah, bagi pemegang kartu BPJS.

Sebelum menjalani pengobatan hepatitis, Zul menjalani pengobatan untuk HIV. Untuk menghindari stigma, dia melakukan pengobatan di Bogor, meskipun ia tinggal di Jakarta. Setelah keluarganya bisa menerima dan para tetangga tahu kondisinya, barulah Zul menjalani pengobatan di Jakarta.

Pengobatan memang harus dijalankan, karena replika virus hepatitis sangat cepat. Penderita hepatitis C awalnya memang tak merasakan keluhan apa-apa, kecuali merasa capek. Tetapi dampak yang besar baru dirasakan setelah hati penderita mengalami sirosis (kanker hati).

Pengobatan dengan interferon banyak dihindari oleh penderita hepatitis. Selain biayanya mahal, jaminan kesembuhannya juga sangat kecil. Belum lagi dampak yang ditimbulkan bagi penderita.

Beruntung kini ditemukan jenis obat baru yang ditelan, sehingga pengobatan makin murah, jaminan keberhasilan lebih besar dan obat bisa diperoleh secara gratis melalui program yang dibuat oleh Kementerian Kesehatan, terlebih sejak dibentuknya Subdit Hepatitis di Diejen P2PL.

“Bagi pemegang kartu BPJS tidak perlu ragu. Yang penting kita tahu di mana tempat pelayanannya. Kita memahami skema BPJD tentang jenjang. Kita datang ke Puskesmas dulu, lalu dirujuk ke tempat lain. Ikutin aja,” kata Zul.

Pengobatan dengan interferon juga membuat Egai takut. Lelaki berusia 37 tahun yang terkena hepatitis akibat memgkonsumsi napza, selama bertahun-tahun tidak berani menjalani pengobatan.

“Dengan interferon dampaknya luar biasa. Teman yang badannya putih jadi hitam, hangus. Berat badan terus turun” ujar Egai.

Di masa lalu, pengobatan hepatitis dengan program pemerintah hanya bisa diakses oleh orang-orang tertentu. Akibatnya banyak penderita hepatitis yang berakhir hidupnya karena tak bisa menjalani pengobatan.

Saat ini pengobatan hepatitis jauh lebih mudah sejak ditemukan obat DAA (Direct Acting Antiviral). Sudah banyak rumah sakit di kota-kota besar yang membuka layanan pengobatan hepatitis.

“Yang penting sekarang adalah memgedukasi orang-orang agar memahami proses yang harus dijalani, dan pentingnya menjalani pengobatan, karena ini penyakit yang sangat mematikan dalam jangka panjang,” kata Egai.

Di Indonesia terdapat 1 persen penduduk (2,5 juta orang) mengidap hepatitis, terutama Hepatitis C. Persoalan yang dihadapi dalam penanganan hepatitis secara nasional adalah minimnya kesadaran masyarakat untuk melakukan tes dan akses pengobatan yang masih terbatas. Para penghuni lapas masih banyak yang belum terjangkau.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share This: