Perpusnas Luncuran Website Slamet Rahardjo dan Mieke Wijaya.

_

Perpustakaan Nasional (Perpusnas) kembali meluncurkan website tokoh perfilman Indonesia. Kali ini Perpusnas meluncurkan website Slamet Rahardjo dan Mieke Wijaya. Keduanya adalah aktor dan aktris kawakan di Indonesia.

Peluncuran berlangsung di Teater Perpustakaan Nasional, Jl. Merdeka Selatan nomor 11, Jakarta, dihadiri oleh Slamet Rahardjo, Kepala Sinematek Indonesia Adisurya Abdy, Ketua Parfi 56 Marcella Zalianti, dan undangan lainnya.

Kepala Bidang Kerjasama dan Otomasi Wiratna Tirtawirasta mengatakan, pembuatan website tokoh perfilman merupakan
terobosan dan inovasi Perpusnas. Situs web ini alah satu inovasi, yang pembuatannya bekerjasama dengan Sinematek Indonesia (SI).

“Tujuan pembuatan website ini yang pertama sebagai apresiasi atas tokoh perfilman yang telah berjasa mengabdikan dirinya di bidang teater dan film, kedua memberikan referenai dalam bentuk pustaka digital bagi masyarakat, kemudian mengurangi kesenjangan akses informasi bagi mahasiswan dan pelajar, terakhir memberi inspirasi kepada pustakawan di tanah air dalam mengelola pustaka digital,” papar Wiratna

Di dalam website terdapat informasi penting tentang tokoh yang dimasukan, mulai dari biodata, karya, cuplikan film-film yang diperankan maupun disutradarai, penghargaan hingga kliping-kliping tulisan tokoh yang bersangkutan.

Kerjasama pembuatan web tokoh perfilman antara Perpusnas dan SI sudah terjalin sejak tahun 2007, ketika SI masih dipimpin oleh Misbach Yusa Biran (alm.). Hingga kini sudah ada 22 tokoh yang dibuatkan website, antara lain Usmar Ismail, Teguh Karya, Asrul Sani, Wim Umboh, Idris Sardi, Rima Melati, Benyamin Suaeb, dan lain-lain. Slamet Rahardjo adalah tokoh ke-21 dan Mieke Wijaya yang ke-22.

Kalau kita bicara tentang tokoh film, sangat banyak. Memang agak sulit mana yang harus didahulukan. Kalaun sekarang baru bisa membuat 2 tokoh setahun, ke depan akan semakin banyak,” kata Kepala Sinematek Indonesia, Adisurya Abdy.

Slamet Rahardjo mengaku bersyukur ada yang membuatkan website tentang dirinya. Itu artinya ia merasa diakui.

Namun Slamet menyoroti kekurangan data tentang dirinya yang dimuat dalam website. “Saya ini dosen, profesor di IKJ, dan saya bangga dengan pekerjaan itu. Yang kedua, saya pernah memperoleh penghargaan Satyalencana Kebudayaan. Nah saya juga bangga dengan itu, karena tidak semua orang mendapatkannya. Tapi di website ini, keduanya tidak tertulis,” kata Slamet.

 

 

 

 

Share This: