Perum PFN Siap Rilis Film “Kuambil Lagi Hatiku”

_

Setelah lama “tertidur” Perum Produksi Film Negara (PFN) siap mengedarkan film produksinya, berjudul “Kuambil Lagi Hatiku” (Borobudur Love Story). Produksi film ini menggandeng beberapa pihak di antaranya Dirut PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko.

Menurut Direktur Utama Perum PFN Abduh Aziz, geliat perfilman Indonesia juga semakin bergairah dan maju, merupakan alasan utama PFN untuk kembali memproduksi film.

“Saya rasa sekarang saat yang tepat bagi PFN untuk kembali berproduksi. Kita punya banyak cerita tentang kekayaan budaya dan keragaman Indonesia yang tidak habis-habis untuk diangkat. Di tengah situasi serius tentang disintegrasi bangsa karena keberagaman justru dianggap sebagai ancaman, maka inilah saat yang tepat untuk menghadirkan sebuah film yang diproduksi PFN,” kata Abduh Aziz Direktur Utama PFN di Kemang, Jakarta Selatan, Selasa (5/3/2019).

Film ini akan diperankan oleh beberapa artis dan aktor ternama seperti Cut Mini, Lala Karmela, Dimas Aditya, Ria Irawan dan Dian Sidik, yang akan dikemas dengan genre drama berbumbu komedi. Film ini akan memulai shooting pada September 2018 dan direncanakan akan tayang di bioskop pada Februari 2019.

Kuambil Lagi Hatiku yang mengangkat kisah ibu dan anak dengan problema masa lalu tekait nilai-nilai keberagaman.

Produser Salman Aristo menyambut baik tawaran untuk memproduseri film yang disutradarai oleh Ashar Kinoy Lubis ini. Bagi dia PFN mempunyai sumbangsih besar dalam membentuk nilai-nilai dan cara pandang tentang Indonesia.

Dipilihnya setting film di Candi Borobudur menurut Dirut Taman Wisata Candi (TWC) Edi Setijono adalah pilihan yang tepat. Meski bukan hal baru Borobudur dijadikan setting film, namun latar ini menjadi sebuah aspek komunikasi penting dari film ini.

“Borobudur bukan sekadar tempat, tapi dia simbol tentang budaya, tentang nilai-nilai kehidupan. Untuk itulan TWC sangat mendukung pembuatan film ini,” katanya.

Produksi Film Negara (PFN) yang pernah memproduksi film ‘Penghianatan G30S / PKI” karya Arifin C. Noer, terakhir memproduksi film Surat untuk Bidadari (Sutradara Garin Nugroho) dan Pelangi di Nusa Laut (Sutradara MT Risyaf).

Share This: