Pesan Persatuan dan Cinta Tanah Air dari “Harmoni 8”.

_

Sejumlah anak muda dari kota berencana mengibarkan bendera merah putih di sebuah gunung. Mereka lalu berangkat ke sebuah desa yang terdapat gunung. Di desa mereka melihat alam yang indah, para petani menanam sayuran, dan para punakawan yang selama ini terdapat dalam cerita-cerita wayang.

Namun perjalanan mereka menuju puncak gunung tidak mulus. Di desa mereka bertemu dengan sekelompok pemuda desa yang melarang mereka mendaki gunung. Mereka juga mengolok-olok anak kota sebagai anak manja dan suka merusak lingkungan. Tak segan-segan mereka menunjukkan sikap kasar.

Untunglah ada punakawan, yang mengingatkan bahwa pada dasarnya tidak ada perbedaan antara orang desa dan orang kota, karena sama-sama orang Indonesia. Orang kota berhak datang ke desa, dan orang desa boleh datang ke kota, karena itu tanah air mereka.

Setelah mengajukan beberapa pertanyaan dan memberi pengertian, Punakawan meminta mereka – orang desa dan orang kota – saling membantu, hidup rukun dan harmonis, karena satu sama lain saling membutuhkan.

Pesan-pesan itu cukup relevan dan tidak terdengar menggurui, di tengah situasi masyarakat yang “terpecah belah” , saat ini.

Itulah sekelumit adegan dalam pementasan gerak dan tari bertajuk “Mencari Arti Merdeka” yang ditampilkan oleh grup teater Harmoni 8, yang diselenggarakan Musik Hana Midori di Titan Center Bintaro, Kamis (17/8/2017) malam, dengan bintang tamu Bastian Steel, Tarzan Srimulat dan Wayang Orang Bharata.

Pementasan “Mencari Arti Merdeka” (Foto: HW)

Harmoni 8 beranggotakan Adek, Chika, Aleta, Adinda, Ardra, Nabila, Moza dan Mika.

Pementasan dengan konsep gerak (tari) lagu dan dialog ini menarik untuk dilihat. Konsep pementasan yang sudah jarang ditemui ini cukup memukau karena menggabungkan beberapa unsur yang bisa dinikmati.

Sutradara Alex Hassim berhasil memadukan unsur tradisional kekinian dengan mulus, sehingga tidak ada kesan dipaksakan. Kolaborasi itu justru menjadi tontonan yang enak dinikmati.

Penggunaan multimedia untuk menggambarkan situasi ketika para tokoh berada, membuat panggung terasa lebih hidup. Walau pun gambar-gambar masih menggunakan teknik blue/greenscreen, apa yang ingin dicapai terpenuhi.

Kelompok Harmoni 8 adalah representasi anak-anak muda masa kini yang modis, trendy, mencerminkan generasi yang menikmati pembangunan. Itu bisa dilihat dari cara mereka berpakaian, cara berkomunikasi dan ekspresi seni mereka.

Pementasan “Mencari Arti Merdeka” (Foto: HW)

Wayang Orang Barata, termasuk pentolan Srimulat Tarzan, jelas mewakili kesenian yang berjaya di masa lalu. Tetapi kolaborasi antarmanusia dari jaman berbeda itu justru melahirkan sebuah pementasan yang segar.

Kehadiran para Punakawan yang dimainkan oleh Tarzan dan personil WO Bharata, tidak hanya sebagai penyampai pesan, tetapi juga memberi suasana segar, karena WO Bharata dan Tarzan dengan kemampuan improvisasinya kerap melempar celetukan-celetukan segar.

Misalnya ketika Tarzan yang berperan sebagai Gareng, bertanya kepada anak-muda dari desa maupun kota tentang cita-cita mereka. Setelah dijawab, Tarzan langsung mengatakan, “Silahkan ambil sepeda di sana!”.

Kalimat itu langsung disambut tawa penonton, karena penonton tahu, itu adalah ucaoan Presiden Jokowi di dalam beberapa kesempatan. Ketika melakukan kunjungan ke daerah biasanya Presiden Jokowi selalu membagi-bagi sepeda kepada anak-anak.

Bintang tamu lainnya adalah mantan personil kelompok vokal Cowboy Junior, Bastian Steel. (17). Babas sengaja dilibatkan sebagai salah satu tokoh penting dalam cerita ini mengaku senang bisa dilibatkan. Dalam teater musikal ini, Babas berperan sebagai kakak dari Moza (salah satu personil Harmonil 8.

“Ini bukan pementasan teater musikal yang pertama buat saya. Dulu saya pernah ikut Laskar Pelangi,” kata pemuda tampan berambut keriting yang biasa dipanggil Babas ini.

Pemusik Roedyanto Wasito mengemas sekitar 15 lagu ini, “Lagu-lagu yang dinyanyikan, sebagian diambil dari album yang pernah direkam Harmoni 8, sebagian lagi adalah lagu anak yang sudah popular,” kata Roedyanto.

Bagi bassis kelompok Emerald ini, proses penggarapan Teater Musikal semacam ini, bukan yang pertama kali.

“Ini sudah yang ketiga kali, jadi nggak ada kesulitan yang berarti. Kesulitannya hanya kerena waktu untuk penggarapan musik yang terhitung mepet, dan membuat scoring-nya jadi agak gimana gitu. Kan musik scoring perlu dibuat beda untuk adegan serem, lucu atau tegang,” katanya sambil tertawa.

Bagi Harmoni 8 sendiri, ini merupakan kali pertama mereka manggung dalam format teater. “Biasanya mereka hanya nyanyi, tapi kali ini mereka harus acting juga,” ungkap Alex.

Bagi dua personil Harmoni 8 yang tinggal di luar kota, seperti Moza dan Nabila, bagian terberat dalam mengikuti event ini adalah, soal membagi jadwal dan menyiasati kondisi fisik.

“Maklum, Moza kan peserta paling jauh tinggalnya! Di Surabaya” katanya.

Namun, ia buru-buru menambahkan, event itu tetap memberi manfaat. “Melatih disiplin dan menambah rasa percaya diri. Ini pengalaman yang sangat menarik,” ungkap Moza yang pernah menjadi Pelajar Teladan saat duduk di kelas 5 SD.

Nabila yang tinggal di Semarang juga mengaku cukup lelah, harus bolak balik ke Jakarta. “Tapi saya menikmati rasa capek itu. Alhamdulillah, main di teater musical ini jadi pengalaman berharga, terlebih saya juga punya keinginan jadi bintang sinetron!” ungkap Nabila.

Yen Sinaringati, Excecutive Produser Musik Hana Midori menyebut ide dasar penyelenggaraan acara ini dibuat lantaran ia melihat sekarang ini banyak anak-anak yang hanya tahu perayaan kemerdekaan sebatas seremoni.

“Misalnya menaikan bendera di tiap tanggal 17 Agustus,” ujar Yen. “Di samping itu, kami juga ingin memberikan hiburan yang bermanfaat dan berbagi informasi kepada masyarakat tentang arti merdeka bagi masing-masing orang di segala umur.

Karin Item, Direktur PT Hana Musik Midori menyebut, pembuatan acara ini bertujuan agar generasi muda Indonesia bisa memaknai arti kemerdekaan.

”Di tengah itu, kita juga ingin mengapresiasi budaya tradisi. Dengan memberi tempat kepada seniman yang mungkin saja sudah semakin terkikis di era golobalisasi ini. Karena itu kami menampilkan dan memperkenalkan tokoh pewayangan dalam kemasan yang lebih segar dan dekat dengan hati anak muda!” ungkap Karin.

Share This: