Pesan Toleransi Dalam Film Komedi “Mama Mama Jagoan”

Sutradara Sidi Saleh (kanan berkacamata) bersama beberapa pendukung film "Mama Mama Jagoan", di antaranya Ratna Riantiarno (tengah depan) dan Widyawati (kiri)
_

Gagasan tentang keberagaman, keindonesiaan dan toleransi bisa dari mana, dan dengan apa saja. Sutradara Saleh Sidik membungkus ide itu melalui sebuah film komedi segar dan bernas, berjudul Mama Mama Jagoan.

Film ini mengisahkan tiga perempuan yang tidak muda lagi, yakni Myrna (Niniek L Karim), Dayu (Widyawati) dan Hasnah (Ratna Riantiarno). Ketiganya bersahabat. Tidak ada kecanggungan dalam hubungan mereka, meski pun ketiganya memiliki agama berbeda. Myrna beragama Kristen, Dayu penganut Hindu, dan Hasnah seorang muslimah. Ketiganya bersahabat sejak SMA hingga masing-masing telah menjadi manula.

Dalam perjalanan hidup mereka, Hasnah telah menikah dengan lelaki yang kerap menganggap sepi dirinya; Myrna menikah dengan Johan, lelaki satu suku dengannya dan memiliki anak lelaki bernama Monang, sedangkan Dayu tetapi menjomblo sampai tua setelah patah hati dengan Patra yang menikah dengan wanita lain, lantaran orangtua Dayu tak setuju.

Hubungan ketiganya tetap terjaga meski pun Myrna sempat mengalami gangguan jiwa gara-gara suaminya meninggal, dan anaknya pergi entah ke mana.

Ketika Myrna mengajak mencari Monang, Hasnah dan Dayu, sehingga mereka bertiga berangkat ke Bali dan menghadapi pengalaman-pengalaman tidak terduga.

Dikemas ke dalam bentuk komedi situasi, film produksi Buddy Buddy Film ini merupakan sebuah tontonan menghibur sekaligus memiliki pesan yang kuat tentang keberagaman dan toleransi.

Ketiga tokoh utama yang ditampilkan: Myrna, Dayu dan Hasnah, memiliki latar belakang etnik dan agama berbeda. Perbedaan itu ternyata bukan masalah besar dalam hubungan mereka. Masing-masing menghormati agama dan kepercayaan yang lain.

Informasi itu mulai disampaikan oleh Sidi Saleh ketika Myrna mengalami gangguan jiwa dan membuat lubang kuburan di halaman rumahnya, agar mereka bertiga bisa dikubur bersama. Tetapi dengan tegas Dayu mengatakan dirinya beragama Hindu dan akan dibakar setelah mati, Hasnah juga menolak karena sebagai seorang muslim dia akan dikubur dengan tatacara sendiri.

Gambaran tentang agama yang dianut dimunculkan kemali ketika Myrna berdoa dengan cara Kristen dan Hasnah melaksanakan shalat di dalam penjara. Adegan itu sudah cukup memberikan gambaran yang jelas tentang latar belakang masing-masing tokoh.

Selebihnya adalah perjalanan persahabatan mereka yang indah, meski pun di dalamnya juga diwarnai konflik-konflik pribadi. Namun bukan latar belakang kepercayaan mereka yang menyebabkan konflik itu muncul, melainkan rasa kebersamaan berlebihan yang membuat seseorang mengkritik sahabatnya karena menjalani hidup yang menurut sahabatnya yang lain, kurang tepat.

Di dalam tahanan, ketika ketiganya tidak sadar membeli narkoba di sebuah tempat hiburan di Bali, Hasnah dan Dayu sempat bertengkar hebat, ketika Dayu mengkritik Hasnah yang begitu patuh kepada suaminya, padahal selama ini sang suami tidak begitu memperhatikan Hasnah.

Sebaliknya Hasnah mengkritik Dayu sebagai perempuan yang tidak memahami kehidupan berumahtangga karena tetap menjomblo. Pertengkaran mereka bisa diredakan setelah Myrna marah. Setelah itu keduanya bisa mencairkan suasana.

Di tahanan polisi itu mereka berhadapan dengan sel yang berisi tiga orang kriminal dari berbagai latar belakang. Seorang berlogat Indonesia Timur yang ditahan karena kasus kekerasan; seorang lelaki berwajah Timur Tengah yang ditahan karena tuduhan terlibat terorisme; dan seorang lelaki Jepang yang ditahan akibat minuman keras.

Ketiga tahanan itu memepertegas bahwa stigma yang seringkali menimpa orang-orang dengan ciri fisik atau latar belakang tertentu.

Sambil terus merajut plot bermuatan komedi menghibur, Sidi terus membebani para tokohnya untuk membawa pesan-pesan yang kuat. Premis yang ingn disampaikan, bahwa manusia tidak bisa dinilai dari penampilannya semata, karena di balik itu ada kecenderungan berbeda.

Myrna yang semula digambarkan bersikap keras sesuai dengan latar belakang etniknya, ternyata tetap seorang ibu yang lembut, ibu yang sangat merindukan anaknya sehingga ia harus pergi ke Bali untuk mencari buah hatinya, Monang. Padahal dalam kultur Batak, anak yang merantau meninggalkan orangtuanya sudah biasa.

Dayu yang digambarkan tomboy, suka berkelahi sejak sekolah, ternyata memiliki juga berjiwa melankolis. Dia memiliki cinta yang kuat terhadap Patra, lelaki yang menikah dengan wanita lain. Cinta terhadap Patra tetap disimpan sampai ia bertemu kembali dengan sang lelaki yang telah berpisah mati dengan isterinya.

Sementara di balik ketaatannya kepada suami sebagi perempuan muslimah, Hasnah juga memiliki jiwa pemberontak. Da pergi bersama Myrna dan Dayu ke Bali tanpa memberitahukan suaminya, dan selama beberapa hari ia mendiamkan telepon dari suaminya, sehingga sang suami “teller” sendiri di rumah.

Sidi Saleh agak nakal menggambarkan “pemberontakan” Hasnah. Dengan keluguannya Hasnah dibiarkan berkeliaran sendirian di Bali, masuk ke pub dan minum-minuman keras hingga mabuk, lantaran tidak tahu apa yang diminumnya. Dan wanita yang sehari-hari berpakaian muslimah, diam-diam membeli pakaian renang, meski pun untuk menggunakannya ia minta dicarikan pantai yang sepi di Bali.

Mama Mama Jagoan merupakan sebuah antithesis dari Sidi Saleh. Dia tidak terjebak dalam selera pasar yang kini dikuasai oleh penonton muda. Sidi Saleh nampaknya mengincar penonton dewasa, kalangan intelektual yang bisa mencerna isi film dan menangkap pesan di dalamnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share This: