PM Toh: Imajinasi Kita Sudah Ngawur!

Agus Nur Amal atau PM Toh (Foto: HW)
_

Seniman berututur asal Aceh, Agus Nur Amal menilai imajinasi yang dimiliki sebagian bangsa Indonesia sudah ngawur. Imajinasi yang ngawur membuat orang tidak bisa memilah-milah lagi mana yang benar dan mana yang salah.

Menurutnya, imajinawi ngawur itu disebabkan oleh pengaruh politik yang semakin kuat. Kesalahan bangsa ini tambah Agus, adalah terlalu banyak menghabiskan uang untuk politik dari pada kesenian atau kebudayaan.

“Karena kurangnya literasi kesenian sehingga kita menjadi ngawur,” kata seniman yang memiliki panggilan PM Toh, usai diskusi dan pertunjukkan dari Rokateater di Graha Bhakti Budaya, TIM, Jakarta, Jum’at (21/9/2018).

Agus mencontohkan tentang labelisasi yahudi dan kafir yang begitu masif di tengah masyarakat, sehingga apa saja yang tidak sesuai dengan keinginan masyarakat dicap kafir atau yahudi.

“Ilmu pengetahuan itu ya datangnya dari sana. Barang-barang yang kita pakai kebanyakan produk kafir dan Yahudi,” kata PM Toh.

Kekacauan imajinasi juga terjadi dalam kasus toa masjid. Menurutnya, soal azan memang sesuai syariah, tapi speaker toa adalah benda buatan manusia.

“Kalau toa dinilai mengganggu, ya toanya dikecilin, bukan azannya yang dilarang,” kata Agus.

Dalam diskusi teater yang bertema “Keaktoran dan persentasi Performatif”, PM Toh tampil sebagai pembicara bersama Anggun Angendari dari Teater Stasiun dan Dendi Madya dari.

PM Toh menjelaskan tentang pemakaian benda-benda dalam setiap pertunjukkannya, dengan alasan benda-benda itu murah dan bisa dilakukan oleh siapa saja, dan bisa membawa penonton berimajinasi.

“Dalam teater benda-benda, saya tidak menjebak penonton masuk ke dalam ilusi. Saya hanya memainkan imajinasi manusia. Penonton harus punya pengalaman sendiri terhadap benda-benda yang diasosiasikannya,” kata PM Toh.

Anggun angendari dari Teater stasiun mengatakan setiap aktor harus penuh kecurigaan. Aktor harus mencari sendiri bentuk dari suatu akting, tidak melulu mengikuti kecenderungan yang sudah lazim.

“Ketika sutradara memberikan kamu peran harus sedih, kita jangan percaya bahwa sedih itu harus menangis. Sama seperti aktor mengatakan bahwa sedih tidak harus menangis, maka saya mencari. Marah itu juga bisa menangis. Jadi kecurigaan itu menjadi ilmiah. Pendekatannya lebih ke Rene Descartes. Pendekatannya penuh kecurigaan,” papar Anggun.

Dendi Madya memaparkan, ketika ia bermain di Bandar Teater Jakarta, sutradara Malmahamang Zamzam cenderung menghindar dari sesuatu yg meledak ledak, atau ekspresif.

Sutradara Malhamang lebih cenderung pada hal datar, dingin dan menghindari akrobat tubuh yg canggih, menatap dengan biasa dan tidak merespon orang yg menatap.

“Respon terhadap sesuatu lebih dingin, lebih ingin beralih ke gerak impresif daripada ekspresif,” kata Dendi.

Diskusi yang diadakan merupakan rangkaian terakhir dari program Djakarta Teater Platform “Silent Mass” yang berlangsung sejak 6-21 September 2018 di Graha Bhakti Budaya.

 

 

 

Share This: