Polwan Cantik Bripda Muthia Akhirnya Maafkan Penganiaya Dirinya

Bripda Muthia (terbaring) yang tengah dirawat di sebuah rumah sakit di Jakarta, bersama ibunya artis sinetron Yanti Yaseer. (Foto: Ist)
_

 

Bripda Muthia (kanan) dan Yanti Yasser (Foto: Ist)

Tahun lalu berbagai media diramaikan dengan pemberitaan kasus penganiayaan yang dialami oleh Polisi Wanita (Polwan) cantik asal Kota Bogor, Bripda Muthia, oleh atasannya seorang perwira polisi berpangkat AKBP berinisial Bbg. Kasus itu lalu ditangani oleh internal kepolisisan, dan sampai awal tahun 2017 ini belum kedengaran bagaimana akhirnya. Bripda Muthia sendiri sudah pulih dari luka-luka yang dialaminya, dan telah bertugas lagi di kepolisian.

Ketika bertemu dengan Balaikita di Jakarta akhir tahun lalu, ibu kandung Bripda Muthia, aktris sinetron Yanti Yaseer, mengatakan tetap akan meneruskan kasus yang dialami anaknya sesuai dengan hukum yang berlaku, baik di internal kepolisian maupun sesuai perundang-undangan.

“Ibu mana melihat anaknya, perempuan, dianiaya begitu rupa oleh lelaki yang bukan apa-apanya. Anak adalah segala-galanya buat saya. Apa pun akan saya pertaruhankan untuk membela anak. Walau pun saya perempuan, saya akan teruskan masalah ini sampai di mana pun,” kata Yanti Yasser, ibu kandung Bripda Muthia yang dikenal sebagai artis sinetron.

Yanti Yasser dan suami, Edy Triyono Sumartadi, SH, MH (Foto: HW)

Yanti mengaku sudah banyak berkorban untuk memperjuangkan keadilan bagi anaknya. Waktunya habis untuk bolak-balik mengurus masalah itu, perasaannya hancur melihat anak yang disayanginya mengalami aniaya. Tetapi Yanti tetap berusaha tegar, meski diakui, bila berada di rumah, cucuran air matanya tak bisa dibendung bila melihat nasib anaknya.

Namun perjalanan hidup sulit diduga. Manusia berubah, batu yang kokoh pun bisa hancur oleh tetesan air. Itulah yang dialami oleh Yanti Yasser sekarang. Meski harus melawan egonya, akhirnya ia memutuskan untuk memaafkan lelaki yang telah menganiaya anaknya.

“Kalau mengikuti kata hati, saya tetap ingin berjuang sampai titik darah penghabisan. Tetapi Mas Edi banyak memberi pengertian kepada saya, dia terus menerus mengingatkan bahwa tidak ada gunanya menyimpan dendam, karena selain merugikan orang lain, itu akan merusak diri kita juga,” kata Yanti ketika ditemui di rumahnya, di Bogor Utara, Sabtu (9/4) malam.

Orang yang dipanggil Mas Edy oleh Yanti Yasser adalah Edy Triyono Sumartadi, SH, MH, suami Yanti atau ayah Muthia sendiri. Yanti mengaku banyak mendapat wejangan dari sang suami yang telah meluluhkan hatinya, yang semula keras seperti batu karang, dalam membela anaknya.

Perkembangan sikap Yanti terhadap penganiaya anaknya rupanya memiliki latar belakang yang menarik. Sebelum menikah dengan Yanti, Edy Triyono adalah Penasihat Hukum dari AKBP Bbg, yang merupakan lawan dari Yanti sendiri. Seperti dikatakan ungkapan Jawa, witing tresno jalaran soko kulino, pertemuan demi pertemuan antara Yanti dan Edy Triono akhirnya melahirkan perasaan suka antara dua insan yang masing-masing tidak memiliki pasangan hidup ini.

Edi merupakan seorang duda beranak tiga, sedangkan Yanti yang telah bercerai dengan suaminya, memiliki empat orang anak. Sikap kedewasaan dan kelembutan Edy Triyono terhadap Yanti ternyata telah meluluhkan hati Yanti, walau awalnya Yanti melihat pengacara asal Samarinda, Kalimantan Selatan itu sebagai musuh.

“Walau pun saya marah seperti apa, Mas Edy menghadapinya dengan tenang. Dia tidak pernah menunjukkan reaksi yang sama dengan kemarahan saya. Kalau saya marah dia malah mengingatkan saya untuk istighfar, menganjurkan saya shalat. Kan lama-lama saya juga malu jadinya,” tutur Yanti.

Bagi Edy sendiri sosok Yanti adalah seorang wanita yang luar biasa tegar dan gigih dalam membela anak. Sebagai lelaki yang telah mengalami kepahitan berumahtangga, Edy memang selalu iba melihat anak-anaknya tidak bisa melihat orangtuanya dalam keadaan utuh berkumpul. Melihat sosok Yanti yang begitu mati-matian membela anak, Edy jadi simpati.

“Orang yang membela anak berarti dia sayang anak. Orang yang sayang anak berarti dia orang yang baik. Wanita seperti inilah yang saya harapkan bisa mendampingi saya,” kata Edy Triyono.

Dalam satu kesempatan, Edy mengutarakan maksudnya kepada Yanti, dan mendapat respon yang baik. Tetapi karena masing-masing memiliki anak, keduanya menegaskan harus ada persetujuan dari setiap anak untuk “merestui” hubungan mereka. Keduanya lalu menyampaikan maksud mereka kepada ketujuh orang anak – 3 dari Edy dan 4 anak Yanti – ternyata semua anak-anak mereka setuju dengan keinginan orangtua mereka. Di hadapan keluarga besar Edy di Kalimantan, keduanya menikah dan akan dilanjutkan dengan acara untuk mengundang orang-orang terdekat maupun kolega, dalam waktu dekat ini.

Edy pula yang pertama-tema melontarkan ide agar kasus antara Muthia dan AKBP Bbg yang kini tengah ditangani internal kepolisian agar ditutup. Yanti sendiri awalnya menolak, terlebih bila mengingat penderitaan sang anak dan perjuangannya yang melelahkan dalam membela sang anak. Tetapi dengan pemahaman yang diberikan oleh suaminya, Yanti akhirnya menerima. Apalagi saat ini Muthia sedang menderita sakit dan tengah menjalani perawatan di sebuah rumah sakit besar di Jakarta.

“Dalam hati kecil memang tidak rela. Kok enak aja orang yang menganiaya anak kita dibiarkan begitu aja. Tapi Mas Edy memberi pengertian begitu dalam, bahwa memaafkan itu lebih baik daripda menyimpang dendam. Apalagi Muthia sedang sakit, dia butuh ketenangan. Buat saya kesehataan anak jauh lebih penting dari apapun,” kata Yanti dengan mulut bergetar.

Tidak ada kompensasi yang dituntut oleh Edy maupun Yanti dari AKBP Bbg, meski Edy yang notabene memiliki hubungan keluarga dengan AKBP Bbg menggugah sang perwira polisi untuk, setidaknya, ikut meringankan beban Muthia.

“Saya katakan saya tidak butuh uang dia. Seperak pun jangan, karena kalau begitu kita sama saja menjual anak. Saya masih sanggup untuk membiayai pengobatan Muthia. Dia anak saya, sama seperti anak-anak saya yang lain, dan saya harus bertanggungjawab. Saya tahu dia juga sudah menderita akibat perbuatannya, pengajuan kenaikan pangkatanya tiga kali ditolak oleh Mabes Polri. Tetapi saya bilang sama dia (AKBP Bbg), di mana letak tanggung jawabmu, tunjukkan. Akhirnya dia mau menunjukkan simpatinya,” papar Edy.

Muthia sendiri menurutnya bersedia memaafkan AKBP Bbg. Dia tidak ingin menyimpan akar pahit di dalam hatinya. Edy lalu datang ke Mabes Polri untuk mengurus SP3 bagi perkara penganiayaan yang dialami anaknya. Semua sudah selesai.

“Penyidik yang menangani bingung, Pak Gion (RM Bagiono, pengacara Muthia) juga bingung. Kok bisa begini? Saya bilang bisa. Kuncinya adalah keikhlasan. Semua yang kita alami sudah ada dalam rencana Allah, tergantung bagaimana kita menyikapinya. Apakah kita akan marah terus, dendam terus, atau memaafkan dengan iklhas. Saya memilih yang terakhir,” kata pengacara yang kerap memilih jalan mediasi untuk menangani perkara ini.

Persoalan hukum selesai. Kini Bripda Muthia harus berjuang melawan penyakitnya. Baik Edy maupun Yanti yakin, Muthia akan kuat menghadapinya sampai ia bisa kembali menjalankan aktivitasnya sebagai abdi negara, pelayan masyarakat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share This: