“Pretty Boys”, Debut Tompi Sebagai Sutradara Film

_

Selain dikenal sebagai penyanyi, Tompi selama ini dikenal sebagai penyanyi. Ternyata hari ini Tompi membuktikan, masih ada bakat tersembunyi lain yang dimilikinya, yakni sebagai sutradara.

Melalui film “Pretty Boys” yang merupakan debutnya sebagai sutradara, Tompi membuktikan bahwa ia juga memiliki talenta yang patut diperhitungkan. Boleh dibilang, karya Tompi tak berbeda, bahkan mengungguli banyak sutradara terkenal di Indonesia.

“Saya memang tidak belajar khusus penyutradaraan. Tetapi saya penonton film yang fanatik. Saya menonton hampir semua film bagus. Itulah sarana saya belajar. Yang kedua, saya penggemar fotografi, dan saya tahu mana gambar-gambar yang bagus,” kata Tompi usai pemutaran film “Pretty Boy” di Epicentrum XXI Kuningan, Jakarta, Senin (16/9/2019)

Film ini mengisahkan Rahmat (Deddy Mahendra Desta) dan Anugerah (Vincent RompieS) adalah dua sahabat yang sejak kecil bercita-cita ingin terkenal. Namun, Anugerah selalu mendapat tentangan dari Ayahnya, Pak Jono (Roy Marten), bahwa dunia entertainment dekat dengan hal-hal yang buruk. Karena kesal, Anugerah pun kabur dari daerahnya dan mengadu nasib ke Jakarta bersama Rahmat.

Namun, nasib berkata lain. Karier mereka hanya mentok menjadi pelayan dan koki restoran. Untunglah, ada Asty (Danilla Riyadi) yang selalu menjadi penyejuk bagi keseharian Anugerah. Hingga suatu hari, Anugerah dan Rahmat yang sedang menjadi penonton bayaran di sebuah acara bincang-bincang “Kembang Gula” bertemu Roni (Onadio Leonardo), koordinator penonton super rempong, dan Mas Bayu (Imam Darto).

Selain sebagai pemain, dalam film ini Desta menjadi co produser. Dialah yang meminta Tompi untuk menjadi sutradara walaupun Tompi belum pernah menjadi sutradara film bioskop.

“Tompi emang bukan sutradara. Tapi gua udah lihat instagramnya bagus-bagus, di juga pernah buat film pendek. Menurut gua sih keren. Makanya gua yakin bisa ngerjain film ini,” ungkap Desta.

Ide film ini berawal dari keprihatinan Tompi terhadap tayangan-tayangan televisi yang mulai bergeser jauh dan’ pakemnya. Tompi mengakui skenario yang ditulis oleh Imam Darto dan editing Cesa David Luckmansyah, yang membuat film ini berbeda.

Share This: