Puteri Papua 2013 Maria Fransisca, Ingin Sukses Melalui Film

Maria Fransisca, Puteri Papua Tahun 2013, hadir dalam pemutaran film "Boven Digoel" di Jakarta, Senin (6/2) - Foto: HW
_

 

Maria Fransisca, Puteri Papua tahun 2013 adalah salah satu pemeran dalam film Boven Digoel produksi Foromoko Film. Dalam film itu dia berperan sebagai Suster Antonieta, yang selalu mendampingi Dokter John Manangsang di Puskesmas hingga keliling kampung di Papua, untuk mengunjungi masyaraka yang butuh pelayanan kesehatan.

Peran sebagai suster Antonieta merupakan karakter kedua yang diberikan kepadanya, karena sebelumnya ia ditunjuk untuk memerankan perempuan bernama Jacobi, adik kandung wanita yang ditangani kelahirannya melalui operasi Caesar oleh dokter John.

Itu saya diberikan skrip sejak bulan Januari, dan saya mempelajari skripnya dari awal sampai akhir danmenurut saya itu menarik sekali. Awalnya saya disuruh menjadi Jacobi, adik pasien yang dioperasi Caesar, tetapi sudah dua bulan sebalum syuting saya dihubungai oleh sutradara untuk mengganti peran menjadi bidan antonieta, yang sebenarnya sempat disuruh untuk jadi dokter. Jadi saya lebih memilih bidang antonieta.

“Awalnya saya tidak menyangkan bisa bergabung di film ini. Saya ditelepon diajak tidak gabung denganfilm ini, kita mau syuting layar lebar. Saya siap. Saya lalu dibawa ke studio dan dikasih skrip. Di situ saya dikasih peran Jakobi, tapi di situ perannya sedikit antagonis. Sebenarnya saya mulai mendalami. Tapi sebelum dua bulan syuting saya dipindah ke Antonieta, jadi belajar lagi,” tutur Maria, yang hadir dalam preview film Boven Digoel di Epicentrum XXI Jakarta, Senin (6/2).

Saat mengikuti syuting selama 18 hari, ia harus ke luar masuk hutan dan kampung, bertemu dengan medan berat dan berhadapan dengan alam yang liar. Tentu saja gigitan nyamuk yang bisa menyebabkan malaria juga harus dihadapinya. Tapi Maria tidak mengeluh, dia ingin perannya sesuai dengan pengalaman tokoh aslinya.

“Kalau secara fisik saya biasa saja. Tetapi harus lebih menjaga stamina, minum vitamin, jaga istirahat pola makan yang sehat. Untuk peran itu, menurut saya harus secara alami. Kalau mau digigit nyamuk ya digigit. Kalau kena penyakit malaria sudah pernah. Selama ini belum tapi sampai tiga tahun terakhir sudah kena malaria,” kata gadis kelahiran Biak, 11 Oktober Tahun 1995.

Menurut mahasiswa semester delapan, Jurusan Unversitas Cendrawasih, Teknik Planologi ini, pengalaman di film tidak jauh berbeda dengan ketika mengikuti ajang Puteri Indonesia. Tiap hari harus mengikuti program yang padat. Bedanya, menurut anak kedua dari tiga bersaudara ini, jika di ajang Puteri Indonesia harus mengikuti ceramah, duduk di dalam ruangan, di film harus ke luar masuk hutan.

“Melalui film saya bayangkan menjadi terkenal, banyak dikagumi oleh banyak orang. Mungkin banyak haters, tapi tidak terlalu saya pikirin. Yang saya pikirin adalah masa depan. Mungkin melalui film ini mungkin dapat tawaran film atau iklan yang bisa membantu saya mempromosikan diri,” kata gadis berdarah Manado – Papua ini.

Selain kuliah, Maria juga bertugas memabantu pemerintah daerah Papua untuk mempromosikan pariwisata, selain membantu Polda Papua sesuai dengan perannya sebagai Duta Polda Papua. Sebelumnya Maria ikut membantu Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak Provinsi Papua.

“Melalui film ini saya harap jalan saya untuk berkarier di film atau iklan akan terbuka lebar. Mimpi saya menjadi orang sukses di dunia apa saja. Mudah-mudahan siap dengan segela konsekwensinya. Saya harus siap. Setelah kuliah saya akan tinggal di Jakarta,” kata duta pariwata Papua yang sering ke Jakarta untuk mengikuti kegiatan pariwisata.***

 

 

 

 

 

 

 

Share This: