Quo Vadis Parfi (Bagaimana Seharusnya Parfi?)

_

Quo vadis adalah sebuah kalimat dalam bahasa Latin yang terjemahannya secara harafiah berarti: “Ke mana engkau pergi?”. Tidak perlu dijelaskan asal-usul kata itu, karena mungkin akan sensitive bagi sebagian orang.

Kata Quo Vadis itu dua hari lalu digunakan oleh Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) pimpinan Pelaksana Tugas Ketua Umum Parfi Soultan Saladin (sebut saja Parfi Bogor), dalam diskusi yang berlangsung di Hotel Amaris Pakuan Bogor, Kamis (16/6) sore dengan tema “Quo Vadis Parfi, Mau ke Mana Parfi?”

Bila mengingat umur Parfi yang sudah 60 tahun, lahir tahun 1956, pertanyaan itu rasanya janggal. Bagaimana mungkin organisasi yang sudah hidup selama 60 tahun masih bertanya mau ke mana. Jadi ke mana saja selama 60 tahun terakhir ini? Itu pertanyaannya.

Namun bila kita melihat persoalan yang tengah membelit Parfi, pertanyaan itu amat menarik. Parfi dalam beberapa tahun terakhir ini, memang seperti kehilangan arah. Dan puncaknya adalah pasca penangkapan terhadap Ketua Umum Parfi terpilih Aa Gatot Brajamusti di Mataram, akhir Juni tahun lalu.

Parfi menjadi seperti sepiring santapan lezat bagi yang mampu melihat peluang, tetapi menjadi bola panas bagi yang mencoba berjalan sesuai aturan. Makanan lezat itu lalu menjadi rebutan. Karena masing-masing mempertahankan isi piring, maka dengan membawa remah-remah yang diperolehnya, berdirilah sempalan-sempalan Parfi, yakni Parfi 1956 (kemudian menjadi Parfi 56), Parfi kubu Kuningan dan Parfi di bawah kepemimpinan Pelaksana Tugas Parfi Soultan Saladin.

Kubu mana yang kemudian dinyatakan benar-benar sah, akan ditentukan oleh SK Kemenkumham. Namun sejauh ini tidak satu pun kubu yang memperoleh SK tersebut, meski kabarnya dengan mengusung nama Parfi 56, organisasi yang dipimpin oleh artis dan produser film Marcella Zalianti itu sudah mengantongi SK Kemenkumham. Sedangkan Parfi kubu Kuningan yang kini dipimpin oleh Ketua KFT Febryan Adithya maupun Parfi di bawah Soultan Saladin, masih berjuang untuk mendapat pengakuan dari Kemenkumham.

Di tengah kesulitan-kesulitan yang dihadapi, Parfi di bawah kepemimpinan Soultan Saladin terus berusaha melakukan konsolidasi, meski pun tidak terlalu mudah karena masih banyak anggota Parfi lama yang memiliki agenda berbeda.

Lalu bagaimana Parfi seharusnya?

Dalam diskusi yang dipandu oleh Sekjen Parfi Bogor, Dr. Kun Nurachadijat itu, tampil pembicara antara lain mantan Menteri Pariwisata Marzuki Usman. Peserta yang hadir antara lain musikus Areng Widodo, anggota Parfi kubu Kuningan Irwan Burnani, artis film Lela Anggraini dan sejumlah undangan lainnya.

Marzuki Usman yang tampil sebagai pembicara pertama mengatakan pentingnya Parfi mengarahkan tujuannya ke dalam aktivitas ekonomi. Parfi dengan sumberdaya manusianya yang besar bisa dijadikan modal untuk menjadi sumber pendanaan bagi organisasi itu sendiri.

Banyak jalan yang bisa dilakukan, kata Marzuki Darusman yang dalam kesempatan itu menyampaikan kiat-kiat berbisnis, bagi Parfi untuk menggali sumber pendapatan pada pada gilirannya bisa dijadikan sumber pendanaan untuk menghidupi organisasi atau membantu kesejahteraan anggota.

“Artis itu kan profesi yang sangat dikenal oleh masyarakat. Artis bisa terlibat dalam mensosialisasikan program-program pemerintah yang selama ini sulit dimengerti oleh rakyat. Itu satu. Dan kedua, Parfi boleh dong mulai memikirkan produksi film sendiri, lalu mengatur distribusinya di kota-kota kecamatan atau Kabupaten yang belum terjangkau oleh bioskop besar. Itu bisa dilakukan bekerjasama dengan pemerintah setempat,” kata Marzuki.

Musikus Areng Widodo juga berpendapat sama. Menurutnya, sudah saatnya Parfi berpikir bisnis, karena organisasi itu harus mampu mensejahterakan anggota. “Kalau organisasi tidak bisa mensejahterakan anggota, untuk apa kita ikut organisasi,” kata Areng.

Mengenai adanya keterbatasan Parfi baik dari segi aturan maupun pendanaan yang membuatnya sulit untuk berbisnis, katakanlah membuat film, menurut Areng harus dicarikan solusinya. Sebab kalau Parfi terus-menerus dalam kondisi seperti saat ini, mungkin tidak akan menarik bagi banyak orang.

“Seperti saya, kalau saya mau dekat dengan seseorang atau suatu organisasi, kan saya juga harus tahu apa benefitnya bagi saya. Kalau cuma ngomongin pepesan kosong buat apa? Jadi harus dicari jalanlah supaya bagaimana Parfi bisa memproduksi film. Aturan yang lama itu ditinggal aja,” tambah Areng.

Mengomentasi perpecahan di tubuh Parfi yang kini melahirkan kubu-kubuan, artis Lela Anggreaeni yang juga menjadi Parfi 56 tetapi kemudian mengundurkan diri, tetap berharap Parfi bisa bersatu. Karena dengan keadaan yang sekarang ini masyarakat dibuat bingung.

“Bagi saya yang terbaik Parfi itu bersatu. Kita lupakan perbedaan, kita satukan potensi kita yang luar biasa ini. Kalau sekarang ada yang mengklaim Parfi ini, Parfi itu, mudah-mudahan mereka sadar, bahwa Parfi itu asalnya satu,” kata Lela.

Soultan Saladin yang mendapat mandat dari Ketua Parfi terpilih dalam Kongres Lombok Gatot Brajamusti berjanji akan terus berusaha memperkuat Parfi yang dipimpinnya, serta mempersatukan potensi yang ada.

“Jadi ke depan, Parfi itu tidak semata-mata harus diisi oleh kalangan artis. Bukankah pada tahun 1956 ketika Parfi didirikan, tidak semua anggotanya artis film. Nah potensi itu yang akan kita satukan untuk memperkuat Parfi ke depan,” kata Soultan.

Soultan mengaku sedih Parfi terpecah-pecah, apalagi kubu yang mengklaim Parfi di Kuningan, yang semakin tidak jelas bentuknya karena Ketua Parfi yang dipilih juga masih menjabat sebagai Ketua Umum KFT (Organisasi Karyawan Film dan Televisi).

“Jadi baru pertama kali dalam sejarah Parfi, Ketua Umumnya dijabat oleh orang yang juga menjabat sebagai Ketua Umum organisasi film lain. Ini bukan saja aneh, tetapi telah mengkhianati tujuan Parfi itu sendiri, apalagi yang jadi Ketua Umum Parfinya juga tidak jelas latar belakangnya! Saya kira ini harus dikoreksi, dan Parfi ke depan harus lebih jelas arahnya,” kata Soultan.

Diskusi yang sempat dihentikan untuk memberi kesempatan peserta berbuka puasa, dilanjutkan hingga pukul 20.30 malam. Usai diskusi, seluruh peserta yang hadir menandatangani pernyataan untuk menjadi anggota.

Share This: