Ramon Papana : “Sebut Saya Pendiri Bisnis Komedi!”

_

Ramon Papana, tak ingin lagi disebut pelopor stand-up komedi di Indonesia. Kini ia minta dirinya diaebut sebagai “Pendiri Bisnis Komedi”.

“Meskipun saya pelopor stand-up komedi di Indonesia, tapi jangan sebut saya lagi pelopor stand-up komedi, tapi saya ingin disebut pendiri bisnis komedi,” kata Ramon ketika ditemui di Sekretariat Perfiki, Lantai IV Pusat Perfilman H. Usmar Ismail, Jakarta.

Ramon tengah bersiap-siap untuk memindahkan sekolah stand-up komedinya dari kawasan Pondok Indah Jakarta Selatan ke PPHUI di Jl. Rasuna Said Kuningan, Jakarta, tepatnya di kantor sekretariat Perfiki (Persatuan Film Keliling Indonesia). Ramon Papana bisa menempati kantor itu karena bekerjasama dengan Ketua Umum Perfiki, Soni P Sasono.

Menurut Ramon, ruangan yang ada di sekretariat Perfiki sudah cukup memadai untuk dijadikan sekolah stand-up komedi, “Karena belajar stand-up komedi itu kan seperti workshop. Satu kelas paling siswanya maksimal dua belas orang, tidak sampai puluhan,” katanya.

Ia menuturkan, awalnya ingin menunggu pemberian lisensi dari London School Comedy Inggris, untuk menjalankan sekolah, tetapi karena lisensi tak kunjung ke luar akhirnya ia memutuskan untuk berjalan sendiri.

Sekolah stand-up comedy yang telah lama dijalankan, menurutnya, sudah memenuhi syarat untuk mendapatkan lisensi, karena sudah berhasil mendidik 4 batch (angkatan). Tetapi pihak London School of Comedy tidak memberikan sampai sekarang.

“Stand-up comedy itu kan seni ya, kita bisa menggali sendiri. Nah, aku kan sudah punya ilmunya yang bisa diberikan kepada anak didik, ya itu aja yang aku berikan. Lisensi kan hanya untuk menunjukkan bahwa metode yang kita pakai, sama dengan di sana,” paparnya.

Ramon Papana mengaku mengenal stand-up comedy sejak tahun 90-an di Amerika. Ketika itu ia sedang berjalan-jalan di Amerika bersama Harry de Fretes (almarhum) dan Eno Sigit (cucu Pak Harto), dia melihat ada orang melawak sendirian. Dia lalu membeli buku-buku dan rekaman video stand-up comedy untuk dibawa ke Indonesia dan dipelajari.

“Waktu itu aku lihat aneh juga ya, orang kok melawak sendiri. Sedangkan di Indonesia selalu rame-rame, seperti grup lawak atau Srimulat. Aku pikir menarik juga kalau dikembangkan di Indonesia,” katanya.

Ramon juga bolak-balik bertemu dengan beberapa stand-up comedyan dunia terkenal untuk belajar, sehingga ia merasa yakin untuk mengembangkan stand-up comedy di Indonesia.

Ramon pernah ingin mengambil lisensi stand-up comedy dari Amerika, tetapi mengingat komedi di Amerika kasar dan kadang rasis, ia lalu mengalihkan ke Inggris. Di Indonesia sendiri banyak comic atau stand-up comedyan yang masih memainkan joke-joke (lawakan) kasar, sehingga tahun 2012 ia memutuskan memisahkan diri dengan mereka.

Share This: