“Reivan dan Reina” : Cinta Tidak Harus Memiliki

Foto: WP Pictures
_

Reivan dan Reina adalah dua anak muda berlainan jenis yang merasa saling membutuhkan. Ada benih-benih cinta di antara mereka, tetapi lebih kepada cinta platonis, bukan cinta yang disertai keinginan yang lebih kuat: ingin memiliki dalam suatu ikatan yang sah.

Reina merasa terhibur ketika bersama Reivan, dan Reivan merasa kehadiran Reina memberikan kebahagiaan, walau setelah itu mereka kembali tenggelam dalam persoalan dan mimpi masing-masing.

Itulah premis yang bisa ditangkap dari film Reivan dan Reina produksi WP Pictures bekerjasama dengan MD Pictures. Film hasil adaptasi dari novel berjudul “Revan dan Reina”. Novel yang telah dibaca 8 juta kali ini ditulis oleh Jujur Prananto.

Film berdurasi 90 menit disutradarai oleh Andreas Sullivan, mengambil lokasi di Jakarta dan memakan waktu 15 hari shooting. Proses casting cukup panjang untuk medapatkan pemain yang diinginkan. Dan peran Revan dimainkan oleh Bryan Domani dan Reina dimainkan oleh Angela Gilsha.

Film ini bercerita tentang Revan dan Reina yang berteman sejak kecil. Dari berteman jadi pacaran, begitulah hubungan unik mereka. Meskipun umur Revan lebih muda 3 tahun, tapi Reina merasa nyaman dekat dengan Revan.

Reina memiliki cinta masa lalu bernama Fabian. Dulu Fabian kerap membuat Reina berharap padanya, namun Fabian menghempaskannya begitu saja. Fabian pergi meninggalkan Reina hanya dengan satu kata terucap: maaf, tanpa mau menjelaskan apa yang terjadi. Hingga saat ini pun Reina masih mempertanyakan alasan laki-laki itu meninggalkannya. Bahkan setelah ia menjalin hubungan dengan Revan.

Tiga tahun kemudian, Reina dipertemukan lagi dengan Fabian yang kembali datang dari Jerman dan berusaha memperbaiki hubungan mereka. Reina, yang sudah bersama Revan pun sempat merasa bimbang dengan pilihannya.

Sementara di lain pihak, hubungan Revan dan adik kelasnya, Dira, perlahan-lahan berubah menjadi sesuatu yang spesial di mata Dira, meski Revan sama sekali tidak pernah menganggapnya begitu.

Tak harus memiliki

Cinta segitiga antara Reivan – Reina – Fabian yang digambarkan dalam film ini cukup bagus untuk menjadi tontonan bagi kaum muda yang tengah memasuki kehidupan asmara. Paling tidak ada satu pelajaran penting yang ditarik mengenai hubungan dengan orang yang dicintai.

Benarkah orang yang selama ini begitu dekat dengan kita adalah orang yang benar-benar mencintai kita? Lalu bagaimana dengan orang yang pergi begitu saja tanpa pesan meski pun sudah menyatakan cinta?

Dengan melihat cerita film ini kita bisa lebih bijak dalam melihat persoalan. Antara suka dan cinta mempunyai perbedaan yang tipis, meski pun tidak sama. Sikap Reina kepada Reivan lebih kepada suka, sedangkan cintanya diberikan untuk Fabian.

Reivan adalah lelaki yang bisa membuat Reina tertawa, meskipun dalam waktu yang berdekatan setelah itu, ia bisa marah karena hal-hal sepele. Begitu pula sikap Reivan terhadap Reina. Namun konflik yang tidak didasari hal-hal prinsipil itu dengan mudah mencair.

Sedangkan Fabian adalah seorang pria pada siapa Reina menginginkan jalinan cinta yang lebih serius. Berbeda dengan pandangan Reina terhadap Reivan yang oleh teman-teman Reina dianggap sebagai berondong, kepada Fabian ada harapan Reina yang tidak sekedar menjalin hubungan biasa, karena Fabian jauh lebih dewasa dari segi umur maupun sikap. Namun cinta tidak berarti harus memiliki. Reina terpaksa gigit jari karena Fabian pergi meninggalkannya begitu saja tanpa pesan apa pun.

Dibuka dengan adegan yang ringan, dialog-dialog remeh-temeh antara Reivan dan Reina, film ini dalam 15 menit pertama sangat menjemukan. Tidak tahu ke mana cerita akan dibawa. Tetapi sejak tokoh Fabian muncul, konflik-konflik disodorkan, drama semakin menguat. Akan tetapi ke mana arah hubungan Reivan – Reina dan Fabian menuju, masih penuh misteri.

Fabian ditampilkan sebagai tokoh yang penuh misteri. Terkesan seperti tokoh yang memiliki karakter ambigu. Dia menyatakan mencintai Reina, mengatur pertemuan dan menunjukkan keinginan yang kuat untuk bertemu, tetapi di tengah pertemuan dia pamit meninggalkan Reina. Apa yang menyebabkan Fabian berbuat seperti itu baru terjawab di akhir cerita.

Meski pun di bagian awal terasa menjemukkan, setengah cerita film ini menuju akhir asyik untuk diikuti. Karakter yang setiap tokoh cukup tegas, dan semua pemain bisa menjalankan tugasnya dengan baik.

 

 

 

 

Share This: