Rektor dan Pendeta Ini Dipidanakan Oleh Murid Yang Pernah Ditolongnya

_

Malang benar nasib Matheus Mangentang, Rektor dan Ketua Yayasan STT Setia (Sekolah Tinggi Teologia Arastamar) yang juga seorang pendeta Kristen. Jasa dan pengabdiannya dalam dunia pendidikan, justru membuatnya harus merasakan terali besi. Kini Matheus sedang menjadi pesakitan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, karena didakwa menyelenggarakan pendidikan tanpa ijin dan mengeluarkan ijazah tanpa hak.

Pengacara Tommy Sihotang (kiri) dan Matheus Mangentang. (Foto: HW)

Meskipun statusnya saat ini sebagai tahanan kota bersama Direktur STT Setia Ernawaty Simbolon, yang juga seorang pendeta, bukan tidak mungkin keduanya kembali akan merasakan terali besi. Itu jika dakwaan jaksa terbukti. Sebelumnya Matheus ditahan Kejaksaan  selama 4 hari.

Bukan hanya soal 4 hari kurungan badan saja yang membuatnya menderita. Sejak perkara pidananya disidangkan, dan statusnya menjadi tahanan kota, ia merasa dirugikan baik secara moril dan materil. Sekolah teologia dan yayasan yang dipimpinnya tergganggu, tugas pelayanannya sebagai pendeta terhambat.

“Hampir dua ribu anak tidak mampu yang saya layani terbengkalai, banyak mitra dari dalam dan luar negeri wait and see, Banyak mitra gereja agak hati-hati megundang, karena mereka bilang kok pendeta dipidanakan!” ungkap Matheus kepada BALAIKITA di Jakarta, Selasa (8/5/2018) siang.

Tidak hanya itu, keluarganya pun secara psikologis tertekan. ” Saya sudah tigapuluh tahun mengabdi, tidak punya apa-apa. Tidak punya rumah, tidak punya uang, tidak punya mobil, kok saya dibeginikan!?” katanya lirih.

Matheus Mangentang adalah Rektor dari STT Setia Tangerang yang dipidanakan oleh mantan muridnya sendiri, Willem Frans Ansanay dan pengurus yayasan lainnya. Tahun 1987, ketika STT Setia berdiri, Frans adalah murid angkatan pertama. Matheus yang menyekolahkan Frans di STT Setia.

Pemidanaan Matheus oleh mantan muridnya di PN Jakarta Timur merupakan langkah ketiga Frans menyeret mantan dosen sekaligus orang yang pernah menolongnya itu ke pengadilan. Sebelumnya Matheus sudah dipidanakan di PN Tangerang dan digugat secara perdata melalui PN Jakarta Barat, beberapa tahun lalu. Namun dalam kedua perkara itu Matheus memang.

“Jadi begini, memang tidak telak masalahnya sama, tapi substansinya sama. Dulu dituduh melakukan penipuan dengan ijazah, sekarang didakwa menyelenggarakan pendidikan tanpa ijin dan mengeluarkan ijazah tanpa hak. Kan substansinya sama. Seharusnya hakim membebaskan dia. Ini nebis in idem, menyidangkan perkara yang sama lebih dari satu kali,” kata Pengacara Matheus, Tommy Sihotang, SH.

Menurut Tommy, kliennya tidak bersalah. Terbukti ketika kasus ini pernah disidangkan di PN Tangerang dengan tuduhan menipu orang, Matheus menang. Sidang perdata di PN Jakarta Barat sampai kasasi di  Mahkamah Agung, juga dimenangkan oleh kliennya. Dalam perkara di PN Jakarta Timur, Matheus dan Direktur STT Setia didakwa menyelenggarakan pendidikan tanpa ijin dan menerbitkan ijazah secara tidak sah.

Kedua dakwaan itu, menurut Tommy, mengada-ada karena, kalau hanya soal perijinan, bisa diurus. Sekarang STT Setia sudah memiliki ijin dan berganti nama menjadi STIKIP. Mengenai ijazah, tidak bisa disebut pelanggaran, karena itu hanya dipergunakan untuk kepentingan internal. Alumni STT Setia akan mengajar di sekolah-sekolah milik STT Setia sendiri yang bertebaran di tanah air.

“Itu kan jazah untuk keperluan internal, yang kedua siapa bilang itu ijazah. Ijazah itu ada bentuk formil dan bentuk materil. Bentuk formilnya ada lambang Diknas, lambang garuda, ada hak dan kewajiban siswa yang memegang ijazah. Di sertifikat yang dikeluarkan STT Setia, tidak ada itu lambang negara dan tulisan yang menjelaskan bahwa lulusan STT Setia bisa melanjutkan ke jenjang berikutnya. Bahwa kemudian lulusan STT Setia diterima sebagai pegawai negeri, itu kan karena kebijakan dan kebutuhan daerah akan tenaga guru,” kata Tommy.

STT Setia, lanjut Tommy tidak pernah menipu mahasiswanya dengan mengatakan kalau lulus akan jadi guru pegawai negeri. “Beliau ini kan menyelenggarakan PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar). PGSD itu terungkap di persidangan sebagai bagian dari PAK (Pendidikan Agama Kristen). Jadi mahasiswa itu tidak mendaftar sebagai mahasiswa PGSD, tetapi sebagai PAK. Mendaftar sebagai mahasiswa STT, kemudian dia mendapat pelajaran sebagai guru SD untuk sekolah-sekolah yang dimiliki oleh STT Setia,” papar Tommy.

Tommy menambahkan, kalaupun Matheus dianggap lalai, seharusnya cukup didenda saja, tidak perlu dipidana. Karena pidana adalah sanksi paling tinggi terhadap kesalahan seseorang (ultimum remedium).

“Prinsip hukum itu, kalau masih ada sanksi lain, tidak perlu orang dipidana kurungan badan. Ini karena ada ikut campur tangan-tangan kuat, Matheus sempat ditahan. Padahal ada keterangan Saksi Ahli dari Dikti yang mengatakan ini tidak perlu dipidana, cukup didenda saja,” kata Sihotang.

Perebutan Asset.

Menurut Sihotang, diseretnya Matheus Mengetang dan Ernawati Simbolon ke pengadilan, dasarnya bukan penipuan atau menyelenggarakan pendidikan tanpa ijin, melainkan perebutan aset yayasan yang nilainya lebih dari seratus milyar.

“Sebelum kasus ini bergulir, Saudara Frans sudah meminta bagian atas aset yayasan. Bersama pengurus yayasan yang lain mereka berencana menjual aset yayasan, tapi ditentang oleh klien kami. Sejak itulah muncul tudingan penerbitan ijazah palsu dan menyelenggarakan pendidikan dan menerbitkan ijazah secara tidak sah!,” papar Sihotang.

Matheus membenarkan bahwa sebelum membawa masalah ke pengadilan, Frans bersama beberapa pengurus yayasan yang lain sudah mengirim surat meminta bagian dari aset yayasan. Permintaan itu ditolak oleh Matheus.

Karena penolakan dari itu Frans dan beberpa pengurus yayaan lainnya membawa masalah mereka ke pengadilan. Yang pertama secara perdata di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, lalu dilaporkan secara pidana dan disidangkan di PN Tangerang. Matheus menang dalam kedua perkara tersebut, bahkan sampai kasasi di Mahkamah Agung.

Tidak cukup sampai di situ, dia dilaporkan lagi di Jakarta Timur. Matheus dan Direktur STT Setia Ernswati Simbolon sempat ditahan oleh kejaksaan selama 4 hari. Setelah kasusnya dilimpahkan ke pengadilan, atas jaminan pengacaranya, statusnya dirubah menjadi tahanan kota, hingga saat ini.

“Saya merasa dizolimi, dianiaya. Tidak ada pokok masalah yang saya langgar. Kenapa saya harus ditahan. Kenapa aparat keamanan tidak jeli. Ini ada tangan kuat yang ikut campur. Saya banyak menyekolahkan anak-anak ada yang sudah jadi pegawai negeri kok saya diperlakukan begini.  Dan tidak akan Istri dan anak-anak mau mengambil itu semua. Saya mengabdi untuk anak-anak. Pak Frans juga dulu anak yang saya tolong, dulu dia tidak punya apa-apa,” papar Matheus.

Rabu (9/5/2018) ini sidang di PN Jakarta Timur kembali akan dilanjutkan dengan agenda menghadirkan saksi meringankan (a de charge). Persidangan kasus STT Setia selalu dipenuhi pengunjung baik kalangan mahasiswa STT maupun pengunjung lain.

“Yang saya sesalkan kenapa harus bawa-bawa preman. Ketika sidang berlangsung mereka teriak-teriak. Ini kan masalah Yayasan Kristen. Sebagai orang Kristen saya malu!” tandas Tommy Sihotang.

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

 

Share This: