Rektor STT Arastamar: “Memangnya Saya Penjahat Negara Dituntut Sembilan Tahun!”

_

“Ini kelewat batas. Memangnya saya pelaku kriminal? Memangnya saya koruptor? Memang saya korupsi uang negara? “ gerutu Matheus Mangentang, Rektor Sekolah Tinggi Theologia Injili Arastamar (STT Setia) usai persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur (PN Jaktim), Senin (21/5/2018).

Matheus bersungut-sungut menanggapi tuntutan Jaksa Asnawi, SH yang meminta agar dia dihukum sembilan (9) tahun penjara dan denda Rp.1 miliar, karena dianggap terbukti telah menjalankan kegiatan pendidikan tanpa ijin dan mengeluarkan ijazah tanpa hak, pada Program PGSD yang sudah ada pada tahun 2003 – 2009. Selain Matheus, Direktur STT Setia Ernawaty Simbolon mendapat tuntutan yang sama.

“Saya ini penyelenggara pendidikan. Dari ribuan mahasiswa, 654 sudah lulus dan tersalur. Banyak yang jadi PNS. Yang lainnya mengajar di pedalaman. Apa lagi? Tuntutan itu tidak wajar, seolah olah saya pelaku kriminal, “ kata Matheus lagi.

Ia berharap dalam vonisnya nanti, Majelis Hakim melihat fakta fakta yang ada, antara lain, kasusnya sudah disidangkan beberapa kali dan dia bebas.

Program pendidikan di STT Setia sudah meluluskan 654 mahasiswa dengan gelar Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Ijazah ini dikeluarkan tanpa seizin Dirjen Pendidikan Tinggi, saat beberapa saksi yang merupakan mahasiswa STT Setia mencoba melamar pekerjaan menggunakan ijazah tersebut.

Dalam sidang pekan lalu, sebanyak enam saksi meringankan dihadirkan. Mereka semua sudah menjadi PNS dan bahwa ijasah dari STT tidak ada masalah. Para saksi, tiga laki laki dan tiga perempuan, menyatakan, mereka menjadi siswa ke STT Setia untuk sekolah agama Kristen dan mengabdi di wilayah pedalaman.

Ketika kuliah, mereka  ditawari Pendidikan Guru SD (PGSD) untuk disalurkan ke sekolah sekolah di bawah naungan di STT Setia. Namun di antara lulusan mereka melamar menjadi guru negeri, dan menjadi PNS dan diterima.

“Kami melamar untuk pendidikan agama. Lalu ada program tambahan PGSD. Kami tidak pernah dijanjikan untuk menjadi pegawai negeri, walau pun sekarang saya menjadi guru sekolah negeri,” kata salah seorang saksi.

Pembela dari  Tim Pengacara Tommy Sihotang SH menyatakan tuntutan itu menunjukkan jaksa tidak melihat fakta fakta yang ada dipersidangkan. “Tetapi itu haknya jaksa melaksanakan tuntutan 9 tahun. Kami juga punya hak membela diri, “ kata Roberto, SH, dari tim pembela.

Matheus Mangentang kepada wartawan yang mengkonfirmasi sebelumnya membantah bahwa ada 659 mahasiswa menjadi korban STT Setia. Yang benar justru ada 300 orang alumni STT Setia yang sudah jadi guru dan PNS di pedalaman, antara lain di Sulawesi, Kalimantan dan Papua.

“Tidak benar adanya 569 korban itu. Justru sebaliknya, “ katanya. “Tapi itu baru tuntutan. Belum vonis. Dan saya masih bisa banding. Jadi urusan masih panjang, “ kata Matheus Mangentag pendiri Sekolah Tinggi Teologi Setia itu.

Matheus mengingatkan lagi, bahwa di balik kasus ini ada upaya perebutan aset perguruan yang nilainya ratusan miliar. Dia menuduh pihak pihak yang memperkarakannya sedang mengincar aset tersebut.

Dia dilaporkan ke polisi oleh 6 orang mantan muridnya, tetapi 4 orang mencabut laporan. Seorang lagi mengaku tandatangannya dipalsukan dalam laporan. Matheus pernah melaporkan balik ke polisi, tetapi menurutnya tidak ada tanggapan.

“Saya ini sudah mendidik ribuan anak-anak miskin di pedalaman tanpa campur tangan negara. Saya tidak punya rumah, tidak punya mobil atau deposito karena mengabdi puluhan tahun di dunia pendidikan, tetapi sekarang dibeginikan. Pembunuh, koruptor saja tidak sampai begitu tinggi tuntutannya. Masa saya pendidik sampai dituntut tinggi begitu. Ini ada apa?” keluh Matheus.

Sidang akan dilanjutkan Kamis (24/5) untuk mendengarkan pembelaan dari pengacara dan terdakwa. -***

Share This: