Reni Kusumawardhani Ajarkan Berkain yang Benar

_

Kebaya merupakan busana khas Indonesia. Namun sekarang sudah jarang generasi muda yang mengenakannya, kecuali di moment-moment tertentu saja. Selain kurang praktis, berkebaya juga bukan perkara mudah bagi sebagian wanita masa kini.

Banyak orang yang suka membeli, tetapi asal beli,   tidak mengetahui bagaimana cara memakainya.

“Jaman dulu orang tua kita dulu suka pakai kain kebaya. Ternyata makin ke sini rantainya putus.  Orang enggak tahu lagi bagaimana caranya. Dari situlah saya terpikir untuk membuat buku, bagaimana cara menggunakan kain yang praktis,” kata Reni Kusumawardhani, mantan wartawan yang kini menggeluti dunia fashion.

Ditemui saat Pameran di Galery Street di Pondok Indah Mal Jakarta Selatan, Minggu (11/2), Reni menjelaskan, melalui bukunya ia memaparkan  sejarah dari kain itu, supaya semua orang tertarik dan tahu mengenai kain Indonesia.

“Karena saya lihat mereka banyak yang tidak mengerti kaya batik itu apa sih, batik itu bukan motif tapi batik itu proses mewarnai kain. Sehingga mereka tahu saat belanja, kain meteran itu seratnya berbeda. Selama saya mengajar,  batik  meteran aja mereka gak tahu,” tutur Renny yang sudah menulis 9 buah buku.

Reni memulai debutnya dengan menulis, menyunting, dan mengarah gaya untuk buku dan majalah-majalah terkemuka di bidang fashion dan kecantikan.  Selama lebih dari 10 tahun ia bergabung di Majalah Femina, kini  Reni Kusumawardhani kini sering mengisi berbagai materi tentang bagaimana berkain yang benar.

Mulai dari situ ia mengajar untuk menggunakan kain dengan cara yang mudah.

“Dulu saya kan di majalah femina jadi fashion editor dan beauty fashion, saya jadi sering bikin buku-buku kecantikan, dari situ saya jaddi senang dengan kain-kain khususnya kain batik,” katanya.

Dengan Mari Berkain ia juga mengajar ke berbagai kota-kota di Indonesia, “Mengajar berkain yang benar ke komunitas-komunitas, instansi pemerintah di berbagai kota di Indonesia, yang terakhir kemarin di Balikpapan.” Jelasnya.

Dulu Saat pemerintah mencanangkan batik sebagai busana kerja, banyak kain impor dari Cina dan negara lain yang masuk. Kebanyakan dari mereka tidak mengetaui beli meteran atau bukan, jadi enggak nyambung dengan program pemerintah. Dengan mengajar mereka berkain, paling tidak mereka tahu menggunakan batik yang ada prosesnya,” jelas Reni.

Share This: