Ringgo: Butuh Kedewasaan Untuk Menonton “Satu Hari Nanti”

Ringgo Agus Rahman. (Foto: Yulia Dewi)
_

Tak banyak film tanah air yang menyasar usia 21 tahun ke atas, mungkin sebelumnya ada film yang memang ditujukan untuk penonton dewasa. Namun kadang yang terjadi bukan hanya adegan-adegan yang vulgar saja tetapi menyuguhkan juga pemain-pemain yang berpakaian minim dan seksi.

Dalam segi cerita film “Satu Hari Nanti” merupakan suatu hal yang baru dan menarik, ada beberapa pesan yang cukup tabu disampaikan disini namun sering kita jumpai pada masa sekarang ini. Perselingkuhan dan hubungan seks sebelum menikah yang sering kita jumpai dan menjadi fenomena di era millineal saat ini.

Film arahan sutradara Salman Aristo ini memang menyasar penonton khusus 21 tahun ke atas, dan mempunyai caranya sendiri untuk menyampaikan suatu pesan tersebut. Film yang berlatar belakang negara Swiss secara konten cerita memang merupakan suatu cerita yang khusus dikonsumsi oleh orang dewasa dan juga berdasarkan fakta yang terjadi selama ini.

“Film ini adalah suatu cerita yang menarik tentang permasalahan dewasa, dan seharusnya bisa diterima oleh penonton yang sudah dewasa, intinya cerita ini bukan tentang yang memang konsumsi orang dewasa, tapi tentang keseluruhan dari karakter pemainnya,” ujar Ringgo Agus Rachman yang memerankan seorang Din di film ini, ditemui sebelum gala premier film Satu Hari Nanti di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, Selasa (5/12)..

“Jadi memang sebenarnya film ini bicara tentang masalah dewasa, ceritanya seperti apa, bukan tentang benar atau salahnya. Jadi memang dibutuhkan kedewasaan untuk berfikir dalam menonton film ini,” tambahnya.

Ringgo selama ini selalu mendapat peran yang berbau komedi. Namun di film ini dipercaya memerankan peran yang serius bukan lagi tokoh yang kocak. Dalam memerankan sebagai Din yang berprofesi sebagai pemandu wisata, Ringgo diharuskan menguasai beberapa bahasa yang pada awalnya sempat menolak dua kali untuk mengambil peran ini.

“Gua gak sanggup waktu pertama kali ditawari film ini, karena waktu yang disediakan hanya 10 hari, jadi kalau misalkan film ini mau gua ambil, dalam sepuluh hari itu gua harus bisa belajar semua bahasa itu,” ungkap Ringgo terlepas soal peran yang dia lakoni, dimana di film ini ia menggunakan bahasa Inggris, Swiss-Jerman, Thailand, dan Tamil (India).

Hal ini menjadi suatu tantangan tersendiri buat Ringgo, karena selama ini selalu mendapat peran yang menguras tawa. Menurutnya ditawari film ini adalah suatu kepercayaan yang harus dijalankan, dengan peran yang berbeda.

“Lihat saja sementara ini gua memerankan film seperti apa, disini gua melihat bukan yang harus berkomedi atau gimana. Gua merinding juga bisa gak ya jadi seorang yang tour guide dan harus belajar banyak bahasa. Buat gua yang selama ini mencoba berakting, ini adalah hal yang tidak pernah terlihat dan dijalankan selama ini,” ujarnya.

Satu hal yang pasti, tokoh Din itu ia anggap sebagai peran paling nyata yang pernah ia dapatkan.

“Bukan soal perannya serius atau lucu. Masing-masing karakter punya momen serius atau lucunya. Tapi dari semua karakter yang pernah gue mainin, ini adalah karakter paling real,” ucap ayah satu anak ini.

Film satu Hari nanti memang mengisahkan tentang dua pasangan yang hidup dan tinggal dengan budaya Barat yang mengalami perselingkuhan satu dengan lainnya. Dengan kategori 21+ film ini membahas hal tersebut secara gamblang dan nyata.

Mengisahkan tentang dua pasangan Indonesia yang tinggal di Swiss, Alya (Adinia Wirasti) dan Bima (Deva Mahenra) memiliki masalah dalam hubungannya, mereka akhirnya bercerita soal masalahnya pada sahabat masing-masing, Alya kepada Din (Ringgo Agus Rahman) dan Bima kepada Chorina (Ayushita). Tanpa menunggu lama, mereka akhirnya terjebak pada kisah perselingkuhan masing-masing dan putusnya hubungan cinta antara Chorina dan Din.

Dengan mengambil latar belakang Interlaken dan beberapa kota di Swiss, bercerita tentang pilihan dan kegelisahan anak uda dalam membangun sebuah komitmen di Swiss, baik dalam lingkup cinta, keluarga maupun pekerjaan. Lika liku pertemanan dan kisah cinta yang kelam tumbuh bersama dalam pencarian makna dan jati diri mereka di negeri orang.

Suatu hal yang mungkin sering dan sudah terjadi di luar sana, bukan membahas tentang adegan demi adegan romantisnya, tetapi film ini meminta kita fokus pada permasalahan manusia yang terjadi. Bagaimana pasangan yang sama-sama sudah tinggal bersama dalam kurun waktu yang lama, dan ditimpa masalah yang justru berakhir dengan adanya pencarian jati diri mereka.

“Menurut gua aneh aja kalau yang muncul dan yang dilihat adalah permasalah seperti itu, dari dulupun bahkan dari kecil gua sering melihat yang lebih ‘aneh’ dari ini. Mari kita lihat ceritanya seperti apa, banyak anak muda sekarang yang kita gak tahu terjebak dalam permasalahan seperti itu. Coba bayangkan Din ini hanya memanfaatkan situasi bagaimana caranya hidup di negeri orang dan dituntut untuk berhemat, gimana caranya supaya bisa berhemat. Lihat dari pesan apa yang disampaikan” kata Ringgo.

Film yang akan tayang mulai tanggal 7 Desember 2017 ini, memang sengaja memilih rating 21 tahun keatas, dan memang bukan konsumsi untuk anak 21 tahun ke bawah yang banyak menceritakan tentang obrolan anak SMA saja.

Adegan-adegan itu terlihat benar-benar menggambarkan kondisi pasangan di usia 20-an dengan pengaruh budaya baratnya. Keberanian ini juga mungkin didasari oleh diikutsertakannya film ini dalam Jogja Asian Film Festival. (Dewi)

Share This: