Roby Bo : Mengawali Karier di Dunia Musik, Akhirnya Jadi Aktor

Roby Bo (Foto: HW)
_

Badannya kekar dengan berat 90 Kg dan tinggi 170 Cm, lelaki berdarah Manado – Belanda ini tidak mengesankan sebagai seorang aktor. Kepalanya dibiarkan plontos, kumis agak tebal menghiasi wajahnya. Penampilannya sedikit seram, mirip debt collector. Siapa pun yang baru mengenalnya pasti segan bertatapan mata langsung dengannya. Apalagi ia memiliki tatapan mata yang agak tajam.

Roby Bo (Foto: HW)

Tapi seperti kata ungkapan, “jangan menilai buku dari sampulnya”, kepribadian lelaki ini sangat bertolak belakang dengan penampilannya. Roby Bo, nama panggilannya, adalah lelaki yang ramah, humoris dan ngeklik bila diajak bernyanyi. Jiwa seni yang bersemayam dalam dirinya cukup kuat.

Siapa Roby Bo? Pertanyaan itu mungkin akan dilontarkan oleh setiap orang yang baru mendengar namanya. Padahal kalau melihat wajahnya sudah tidak asing lagi. Dia banyak muncul di televisi, baik dalam sinetron maupun iklan. Di iklan pun ia kerap diberi dua karakter: wajah lelaki seram sekaligus jenaka. Lihatlah karakternya dalam iklan makanan ringan Kit Kat, di mana ia berperan sebagai bos yang marah-marah kepada anak buahnya, tapi di sisi lain ia tampil seperti geisha yang kemayu.

Nampaknya pihak yang melakukan casting paham benar kemampuan yang dimiliki Roby dalam berakting, sehingga ia diberi peranan seperti itu.

Bahkan dalam film yang dibintanginya, Kasinem is Coming (Bidar Batavia Film, sebuah film komedi, ia berperan sebaga penarik becak. yang lucu. Di film karya sutradara Hasto Broto itu ia bermain bersama Naysila Mirdad dan Randy Martin.

Roby Michael Sontpiet kelahiran Ternate 7 Mei 1970, mengaku tidak pernah menyangkan kalau akhirnya eksis di dunia akting. Padahal perjalanan kariernya dimulai di dunia musik. Roby memiliki latar belakang sebagai pemusik dan menguasai alat musik perkusi, sebagai drummer. Sampai saat ini pun masih aktif bermusik dan memenuhi undangan-undangan.

“Aku masih bergabung dengan grup musik di dekat tempat tinggalku. Masih sering latihan dan main kalau ada panggilan. Pokoknya musik tidak bisa dipisahkan dengan hidupku,” kata Roby dalam bincang-bincang di kawasan Kuningan, Jakarta, baru-baru ini.

Namun kesibukannya bermusik kadang harus ditinggalkan karena banyak kesempatan yang diperoleh dalam dunia akting. Entah bermain film, sinetron atau iklan.

Memang peran-peran yang diperolehnya belum terlalu besar. Tapi Roby bersyukur kesempatan untuk memperlihatkan kemampuannya berakting terus berdatangan. Tawaran demi tawaran terus diterima, sehingga ia mantap memutuskan untuk berkarier di dunia akting.

“Tampang aku kan bukan seperti Dimas Anggara, atau kalau cewek seperti Chelsy Islan, jadi memang belum ada kesempatan untuk mendapat peran utama atau peran pembantu utama. Kita tahu kan di dunia perfilman kita factor fisik masih yang utama. Tapi aku bersyukur kesempatan untuk bermain selalu datang,” tutur Roby.

Keterlibatannya di dunia akting diakui berawal dari ketidaksengajaan. Suatu hari Roby diajak temannya untuk mengikuti casting sinetron. Sampai di tempat casting ternyata ia ditawari untuk ikut, karena ada peran yang cocok untuk dirinya. Saat itu Roby diterima. Jadilah ia main dalam sinetron pertamanya, Tirai Kasih Yang Terkoyak (1995).

Walau pun jalan telah terbuka, passion Roby masih kuat ke musik, sehingga ia lebih memilih musik ketimbang menekuni film, sampai suatu hari ada lagi kesempatan untuk bermain dalam sinetron Samsonwati (TPI tahun 2000). Itu pun Roby belum sepenuh hati mencurahkan keinginannya berakting.

Setelah sekian lama, lagi-lagi ia didorong oleh teman-temannya untuk mengikuti casting. Roby diterima untuk main dalam sinetron Si Cemong (Screenplay/SCTV, 2013), lalu Security Keliling (Aspro, 2013), sinetron serial Raden Kian Santang (MD Entertainment / MNC Picture, 2012 – 2014), Suamiku Sindikat Manusia Gerobak (Layar Kemilau MNC TV), Cintaku Berlabuh di Pelabuhan Ratu (FTV), dan Robot Cantik (Soraya Intercine, 2017).

Tidak hanya sinetron, Roby juga mulai merambah ke dunia iklan. Wajahnya muncul dalam iklan-iklan Kartu Axis, Kit Kat Greentea, Mie Kremes, Tiket.com dan Ichi-ocha. Setelah itu ia masuk ke layar lebar, antara lain dalam film Bukan Jodoh Biasa, Antologi Rasa, dan Kasinem Is Coming yang beredar tahun 2018 ini, dan masih terlibat dalam produksi film di Soraya Intercine, termasuk sebuah film layar lebar bertema horor produksi PT. Multi Cahaya Dimensi, milik Ketua Pafindo, RM Bagiono.

Kini Roby makin mantap di film. Apalagi lelaki yang menghabiskan masa kecilnya di Belanda ini kemudian bergabung dengan organisasi artis Pafindo (Perkumpulan Artis Film Indonesia), di mana ia menjadi salah seorang pengurus di organisasi tersebut.

“Berakting itu mengasyikan. Suasana syuting bikin kangen. Apalagi kalau kita syuting di luar kota, kumpul dengan teman-teman seprofesi atau kru, berasa banget kalau kita ini orang-orang yang punya profesi unik. Bayangin kadang kita harus meninggalkan rumah berhari-hari untuk syuting. Luar biasa,” papar Roby.

Ia merasa yakin masa depannya ada di dunia film. “Aku hanya menunggu kesempatan sutradara atau produser melihat kemampuanku, dan memberi peran yang menantang. Aku yakin bisa melakukannya,” kata Roby, mantap.

 

 

 

 

 

 

Share This: