Rumah Orang Kanekes, Tahan Gempa Tapi Rawan Api.

_
Wanita Baduy sedang memasak (Foto: HW)

Sebuah kabar menyedihkan baru saja terjadi di Desa Kanekes, Leuwidamar, Rangkasbitung, provinsi Banten. Puluhan rumah warga yang terdapat di Kampung Cisaban, Kanekes, terbakar, Rabu (23/5/2017) malam. Tak ada laporan korban jiwa akibat peristiwa ini.

Kampung Cisaban terletak sekitar 15 km dari Ciboleger. Jalan ke kampung tersebut juga berbukit bukit sehingga sulit ditempuh oleh orang luar non warga Kanekes (Baduy). Berdasarkan informasi yang diperoleh, kebakaran terjadi sekitar pukul 20.00 WIB.

“Asalnya dari api meleleh,” kata Rasudin, tetua adat warga Kaduketug melalui pesan Whatsapp, tanpa merinci apa yang dimaksud.
Rumah warga Kankes, baik Baduy Dalam maupun Baduy Luar, dibuat dari bahan-bahan yang mudah terbakar. Tiang-tiang rumah-rumah terbuat dari kayu, dinding dari gedeg anyaman bambu dan atapnya dari ijuk. Kontruksi rumah Orang Kanekes sangat tahan gempa.

Yang amat riskan, tempat memasak orang Kanekes, dapur tradisional berada di dalam rumah, di atas balai-balai yang dilapisi tanah, sebagai penyekat. Dapur seperti ini selama memasak harus terus diawasi, karena sangat riskan bila apa memercik.

Api meleleh yang membuat kebakaran di Cisaban juga merupakan sisa api memasak di dapur. Data kerugian yang disampaikan Rasudin berbeda dengan data Jaro Saija. Menurut Rasudin, 80 rumah dan 200 lumbung padi.

Suku Baduy, suku asli masyarakat Banten yang memiliki rumah adat Sulah Nyanda. Terletak di dalam pegunungan, Suku Baduy hidup di dalam rumah adat yang terbuat dari kayu dan bambu ini.

Pembuatan rumah adat Sulah Nyanda dilakukan dengan cara gotong royong menggunakan bahan baku yang berasal dari alam. Bahan seperti kayu digunakan untuk membangun pondasi, sedangkan pada bagian dasar pondasi menggunakan batu kali atau umpak sebagai landasannya.

Hal yang unik dari pembangunan rumah ini adalah dibangun dengan mengikuti kontur tanah. Hal ini berkaitan dengan aturan adat yang mengharuskan setiap masyarakat yang ingin membangun rumah tidak merusak alam sekitar demi membangun suatu bangunan. Karenanya, tiang-tiang rumah adat Suku Baduy tidak memiliki ketinggian yang sama. Sedangkan anyaman bambu digunakan dalam pembuatan bilik dan lantai rumah. Untuk atap, rumah adat Suku baduy menggunakan ijuk yang terbuat dari daun kelapa yang telah dikeringkan.

Rumah adat Sulah Nyanda dibagi dalam 3 ruangan yaitu bagian sosoro (depan), tepas (tengah) dan ipah (belakang). Masing-masing ruangan berfungsi sesuai dengan rencana pembuatan.

Pada bagian depan rumah atau yang biasa disebut sosoro berfungsi sebagai ruang penerima tamu. Hal ini dikarenakan tamu tidak diperkenankan masuk ke dalam rumah. Fungsi lainnya digunakan sebagai tempat bersantai dan menenun bagi kaum perempuan. Bagian depan ini berbentuk melebar ke samping dengan lubang di bagian lantainya.

Sedangkan bagian tengah atau biasa disebut tepas digunakan untuk aktivitas tidur dan pertemuan keluarga. Sementara pada bagian belakang rumah atau biasa disebut imah digunakan sebagai tempat untuk memasak serta menyimpan hasil ladang dan beras. Tiap ruangan ini dilengkapi dengan lubang pada bagian lantainya.

Lubang di lantai rumah Suku Baduy berfungsi sebagai sirkulasi udara. Ini dikarenakan rumah adat Suku Baduy tidak dilengkapi dengan jendela. Tujuan tidak dibangunnya jendela agar para penghuni rumah yang ingin melihat keluar diharuskan pergi untuk melihat sisi bagian luar rumah.

Share This: