Sebelum Meninggal, Adi Kurdi Sempat Video Call Dengan Para Pemain “Keluarga Cemara”

_

Ikatan pemain sinetron TVRI “Keluarga Cemara” terus terjalin sampai hari ini. Mereka tidak lagi merasa sebagai teman seprofesi, tetapi sudah menjadi seperti keluarga.

Ketika pemeran tokoh Abah, Adi Kurdi masuk RS Pusat Otak Nasional (PON) Jakarta, semua pemain penting termasuk sutradara Dedi Setiadi datang,menjenguk. Tetapi karena kondisi Adi Kurdi tidak memungkinkan untuk ditemui, mereka hanya melakukan video call. Beberapa pemain ada yang sambil menangis.

“Kita dapat kabar katanya Abah sakit. Itu pun tahunya dari Clara Shihta, putri WS Rendra. saya kejar ke RS Pon bersama Novia Kolopaking dan pemain lainnya. Kita sempat video call. Abah sadar tapi tidak bisa bicara, dia hanya bergerak ke arah suara. Waktu itu beberapa pemain menangis,” tutur Dedi Setiadi ketika ditemui di Bengkel Teater WS Rendra, Cipqyung, Depok, Jumat (8/5/2020).

Dedi Setiadi berjani akan datang lagi ke RS PON. Kata menantu Adi Kurdi, Andre, silahkan, nanti akan diatur naik ke lantai 9, Tetapi menurut Vena, anaknya, tingkat imun Adi Kurdi sudah rendah, jadi dibatalkan untuk bertemu.

“Saya lalu ke rumah Abah, karena ada amanah dari teman-teman Keluarga Cemara dan produser. Akhirnya saya ke rumahnya, ketemu dengan isterinya yang juga sedang sakit kanker. Tadi pagi saya mendengar beliau menghembuskan nafas terakhir,” kata Dedi.

Jauh sebelum masuk rumah sakit, Adi Kurdi sudah tidak bisa melihat karena terserang glukoma. Namun demikian ia masih tetap melakukan aktivitas, jika diajak. Salah satunya dalam film “Terima Kasih Abah, Terima Kasih Emak”,

Film itu seperti reuni bagi seluruh pemain “Keluarga Cemara”. Syutingnya sudah selesai, rencananya lanuching pada bulan April 2020 lalu. Tetapi karena ada corona diundur Juli mendatang.

Waktu syuting, walaunpun matanya sudah tidak melihat, Adi Kurdi begitu semangat, karena bertemu dengan para pemain Keluarga Cemara yang sudah seperti keluarganya. Apalagi pendekatan cerita film juga seperti Keluarga Cemara.

“Abah jadi punya semangat baru. Karena sudah lama dia vakum dan ingin muncul kembali,” kata Dedi Setiadi.

Karena penyakit glukoma yang dideritanya, Adi Kurdi kurang bisa melihat. Dedi Setiadi lalu membuat adegan di  Emak dan anak-anaknya minta agar Abah tidak bekerja lagi. Tapi Abah bilang dia tetap harus bekerja.

Selama syuting, Abah juga tidak mau diprioritaskan. Dia tidak mau didahulukan. Dia akan mengikuti jadual, asal nanti diantar pulang.

Setiap syuting, aktor yang pernah kuliah teater di Amerika — satu angkatan dengan aktor besar Amerika Al Pacino itu — selalu latihan. Sehingga pengambilan gambar tidak pernah diulang,

Menurut Dedi Setiadi, jika filmnya kalau berhasil kelak, akan dibuat sequelnya, karena dalam film “Keluarga Cemara” produksi Visinema   Abah tidak main. Film layar lebarnya dibintangi oleh Ringgo Agus Rahman sebagai Abah, karena hak sudah dibeli. Oleh karena itu film yang disutradarai Dedi Setiadi memakai judul “Terima Kasih Emak, Terima Kasih Abah”, yang melibatkan seluruh pemain asli sinetron “Keluarga Cemara”.

“Film itu tadinya dibuat untuk tribute to Mas Wendo, nanti akhirnya jadi berdua, termasuk untuk Abah juga,” ujar Dedi.

Melatih Teater 

Dosen Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Romo Mudji Sutrisno menuturkan, ketika dirinya pulang study dari luar negeri tahun 1987, STF Diryarkara sudah punya dosen hebat. Tapi sisi indahnya belum ada. Lalu didirikanlah teater. Ketika itu Driyarkara mengundang Adi Kurdi, Soenarti WS Rendra untuk main dan mengajar teater dalam lakon “Caligulla”.

“Dia yang menanamkan Teater Driyarkara, sudah 20 tahun ini. Dan kita sudah menetapkan, kalau anak-anak ingin melanjutkan teater, harus ada kaderisasi, sehingga sampai sekarang masih bertahan,” kata Romo Mudji yang datang ke Bengkel Teater, Jumat (8/5/2020) sore.

Selain melatih di Driyarkara, Adi Kurdi juga melatih di Di SMA Kamisius untuk drama, bahasa Inggris dan sutradara, termasuk melatih di SMA Theresia.

“Kalau sebagai guru teater, dia dahsyat!” puji Romo Mudji.

Ketika terlibat dalam sinetron “Keluarga Cemara” bersama Arswendo dengan ikonnya Abah, Romo Mudji menilai itu sebagai karya yang luar biasa.

“Dia menjadi contoh pendidikan untuk anak-anak. Keluarga Cemara dengan tokoh Abahnya itu menjadi pendidikan karakter, moral dan budi pekerti dan keluarga,” tandasnya.

Romo Mudji menilai Adi Kurdi sebagai orang yang sederhana. “Dia menjadi Katolik, dia menekuni iman dan menjadi pewarta iman juga. Kami sama-sama mencintai Indonesia. Kita seering bertemu ketika dia menjadi pewarta iman dan pewarta kemanusiaan juga.”

Ardi Kurdi yang lahir di Pekalongan, 22 September 1948 itu merupakan alumni School of Art, Theater Program New York University. Ia memulai karier sebagai pemain teater. Ia sudah bergabung dengan Bengkel teater sejak 1970.

Kemampuan berakting Adi Kurdi diakui sastrawan W. S Rendra dengan menjadikannya pemeran utama dalam Kisah Perjuangan Suku Naga.

Namanya mulai dikenal penikmat layar lebar sejak membintangi Gadis Penakluk pada 1980. Perannya dalam film tersebut membuatnya masuk nominasi Festival Film Indonesia 1981.

Sebelum dikabarkan meninggal dunia, Adi Kurdi sempat disebut terlibat dalam pembuatan film keluarga bertajuk ‘Terima Kasih Emak Terima Kasih Abah’ (TETA) yang menggandeng para pemain asli sinetron Keluarga Cemara.

 

 

 

Share This: