Sejumlah Pengurus PARFI Mengundurkan Diri

_

Organisasi artis tertua di Indonesia, Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) seakan ditakdirkan untuk selalu menghadapi masalah dalam perjalanannya.

Baru tiga bulan membentuk kepengurusan baru hasil Kongres PARFI tanggal 10 Maret 2020 lalu, organisasi ini kembali dilanda gonjang-banking. Kali ini sejumlah pengurus PARFI periode 2020 – 2025, menyatakan mundur. Salah satu di antaranya adalah Sekretaris Umum Mutiara Sani.

Pengurus lain yang juga ikut mengundurkan diri adalah Bendahara Umum Dedeh Sritatu, SH, Koordinator Pembinaan Daerah Syamsul B Adnan, Anggota Bidang Pendidikan Rully Rahadian, dan Anggota Bidang Hukum Edy Triyono Sumartadi.

Surat pengunduran diri mereka ditandatangani bersama, dan diserahkan ke Sekretariat PARFI pada Senin (16/6/2020) siang. Sedangkan Dedeh Sritatu sudah membuat surat pengunduran diri sejak tanggal 23 April 2020.

Wakil Ketua Umum Paramitha Rusady juga dikabarkan ikut mengundurkan diri. Tetapi sampai berita ini diturunkan, artis film dan penyanyi itu belum bisa dikonfirmasi.

Mutiara Sani yang ditemui di Plaza Festival Kuningan, Jakarta, Senin siang menjelaskan, dirinya memutuskan mundur karena tidak bisa lagi duduk dalam kepengurusan, karena merasa dirinya kurang berfungsi di organisasi.

“Sebetulnya saya bergabung di dalam kepengurusan PARFI ini, ingin berbagi pengalaman dari organisasi lain yang saya ikuti di luar. Ternyata terlalu banyak yang tidak saya ketahui di organisasi ini.  Jadi ini masalah transparansi. Baik program, rencana maupun pertemuan, banyak yang saya tidak ketahui,” ungkap janda sastrawan Drs. Asrul Sani ini.

Menurut Mutiara Sani, selama ini yang aktif melakukan kegiatan dan bertemu dengan pihak luar adalah Ketua Umum Alicia Djohar bersama Wakil Sekjen Sham L. Fin dan Wakil Bendahara Umum Evie Singh. Jika ada kegiatan Sekjen justru diberitahu oleh Wasekjen.

“Pernah ada pertemuan di hotel, mereka masuk ke ruang pertemuan, saya malah tidak diajak masuk, dengan alasan sudah cukup diwakili. Apakah memang seperti itu aturannya atau bagaimana, saya tidak tahu,” kata Mutiara Sani.

Sebagai Sekjen Mutiara Sani mengaku sudah mengingatkan agar Pengurus PARFI lebih berhati-hati berhubungan dengan pihak luar, karena PARFI belum memiliki SK Kemenkumham. Selain itu ia berharap agar PARFI independen, tidak berafiliasi dengan partai politik manapun. Tetapi di masa pandemi covid-19 ini PARFI ikut menyalurkan bantuan sembako dari sebuah partai politik  selain mendapat bantuan dari parpol tersebut.

“Yang terakhir mau saya sampaikan adalah soal pencatatan uang masuk dan keluar yang masih kurang transparan,” ujar Mutiara Sani.

Penjelasan Mutiara Sani dibenarkan oleh Syamsul B Adnan. “Bicara transparansi dan mekanisme kerja Ketum, sudah sejak awal saya tentang. Tetapi berulang lagi, berulang lagi. Banyak kegiatan yang hanya dilakukan oleh kelompok kecil di kepengurusan, tanpa diketahui oleh pengurus lain. Ini organisasi bukan perusahaan. Kalau perusahaan, saya sebagai pegawai kecil bolehlah tidak tahu, karena saya di gaji. Tapi ini organisasi, saya datang ke organisasi memakai uang sendiri,” kata Syamsul.

Soal transparansi, tambah Syamsul, itu yang kurang di Parfi. Soal uang keluar masuk di organisasi, seringkali tidak dicatat. Ketika diingatkan baru dilakukan pencatatan.

“Dan yang agak fatal itu soal bantuan sembako dari Partai pokitik. Okelah Nurul Arifin orang partai, waktu ngasih bantuan untuk artis terdampak pertama kali dia datang. Tapi yang kedua dan ketiga kita menjemput ke sana. Bahkan yang ketiga kita membagi-bagikan foto Nurul Arifin di jalanan. Memang kita budaknya Nurul Arifin apa?” kata Syamsul.

Sedangkan Rully Rahadian mengungkapkan, ketika diajak masuk ke PARFI dirinya merasa surprise, apalagi bidang kebudayaan yang ditanganinya selama ini cocok dimasukan ke dalam film.

“Tapi setelah saya masuk ternyata tata kelola organisasinya tidak sinkron dengan pemahaman saya. Masih banyak polemik dan masalah yang terjadi. Sebagai orang baru saya tidak ingin masuk terlalu dalam, jadi lebih baik saya belajar dulu di luar,” kata mantan anggota grup musik Kahitna yang banyak menangani bidang kebudayaan ini.

Share This: