Seleksi Film Peserta FFI 2017 Diserahkan Kepada Asosisasi Perfilman.

Ketua FFI 2017 Leni Lolang (Foto: HW)
_

Festival Film Indonesia (FFI) 2017 kembali akan bergulir. Panitia Pelaksana sudah terbentuk, diketuai oleh produser film Leni Lolang, dengan penyelenggara Pusat Pengambangan Perfilman (Pusbang Film), Badan Perfilman Indonesia (BPI). Rencananya acara puncak FFI 2017 akan dilaksanakan di Kota Manado, 11 November mendatang.

Ada sedikit yang berbeda dalam penyelenggaraan FFI kali ini, terutama dalam mekanisme penilaian film-film peserta. Panitia akan melibatkan asosiasi-asosiasi dan komunitas perfilman untuk melakukan seleksi film-film peserta, dan hasilnya akan diserahkan ke Dewan Juri yang akan dibentuk oleh panitia. Sebanyak 70 orang akan duduk sebagai anggota Dewan Juri. Mereka berasal dari asosiasi-asosiasi perfilman yang ada di Indoanesia.

Skema penjurian baru yang akan dilakukan untuk  FFI 2017, sehingga nantinya bisa digunakan secara berkelanjutan.  “Untuk penentuan nominasi dan penjurian nanti, kita akan melibatkan asosiasi profesi. Dan kita bekerja tahap demi tahap. Ada 110 film yang akan kami seleksi, film yang telah diputar dari September 2016 sampai September 2017,” kata sutradara Riri yang diangkat menjadi Ketua Bidang Penjurian.

Ketua Panitia Pelaksana FFI 2017 Leni Lolang menjelaskan, panitia akan meminta kepada seluruh asosiasi perfilman yang telah terverifikasi untuk membentu tim seleksi film-film peserta FFI. Hasil kerja mereka kemudian dimasukan ke dalam tabulasi sebanyak 3 – 7 judul film. Hasil tabulasi itu, disebut Film Pilihan, yang kemudian akan dinilai oleh Dewan Juri.

Dewan Juri FFI yang berjumlah 70 orang merupakan perwakilan dari asosiasi-asosiasi perfilman. Merekalah yang akan menilai film-film pilihan secara bersama-sama.

“Nanti anggota Dewan Juri wajib menonton film-film pilihan tersebut, dan hasilnya dimasukan ke dalam mesin tabulasi milik lembaga akuntan Delloite,” kata Leni.

Menjawab kekhawatiran kasus FFI 2014 – 2016 di mana banyak juri yang tidak menilai seperti pengakuan Ketua FFI 2017 Lukman Sardi, menurut Leni setiap anggota Dewan Juri wajib menonton film-film yang masuk pilihan.

“Pada saat penjurian akhir, seluruh juri wajib nonton dan itu kita kontrol. Cara ngontrolnya, dia datang ke bioskop dan kita ada chop (stempel). Dan setiap juri punya chop jurinya. Kalau ada satu film dia tidak hadir, dia tidak berhak menilai film lain. Sekarang ini kita memberi satu film, mengantisi-pasi juri tidak available kita sediakan waktu 3 hari. Kalau tidak bisa hari ini, dia boleh nonton di hari yang lain. Jadi yang namanya kontrak dan komitmen itu sangat dipegang. Dan Riri tidak main-main. Ada sanksinya,” papar Leni.

Untuk menghindari konflik kepentingan, Leni menambahkan, bila ada anggota asosiasi yang filmnya masuk pilihan, dia tidak boleh masuk ke dalam anggota Dewan Juri FFI 2017. Panitia akan meminta nama lain dari asosiasi untuk dimasukan ke dalam Dewan Juri FFI.

Dalam melaksanakan pekerjaannya menyeleksi film-film yang akan menjadi film pilihan, setiap asosiasi diharapkan bekerja secara mandiri. Penitia sejauh ini belum menyediakan anggaran untuk membantu masing-masing asosiasi dalam bekerja.

“Tidak ada biaya yang dikeluarkan. Sejauh ini biaya itu tidak terlihat dan tidak ada juga asosiasi yang mengajukan dana, karena ini menjadi bagian dari kita semua. Ke depannya seiring dengan perkembangan festival, sangat mungkin asosiasi profesi akan mendapat penguatan dan bantuan dari pemerintah,” kata Leni.

Terhadap film-film yang belum dirilis, panitia menganjurkan agar film tersebut dipertontonkan kepada seluruh tim seleksi dari masing-masing asosiasi. Misalnya IFDC (Indonesia Film Directors Club) membentuk 10 orang tim juri, ya 10 orang ini yang diundang   ikut screening. Jadi dipastikan semua anggota Dewan Juri sudah menonton filmnya.

 

Share This: