Semiloka Untuk Menyiapkan Naskah Akademik AFI.

Aktris Niniek L Karim (kanan) menjadi narasumber dalam Semiloka AFI di Hotel Alila Jakarta, 22 Juni 2017. (Foto: FB Shandy Gasela)
_

Tiga hari sebelum Hari Raya Idul Fitri 1438 H, Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbang Film) Kemdikbud menggelar acara seminar dan lokakarya (semiloka) di Hotel Alila Pecenongan Jakarta. Acara yang dijadwalkan berlangsung tiga hari, tgl 20 – 23 Juni 2017 itu ternya berakhir lebih cepat sehari. Pada 22 Juni malam berakhir.

“Karena banyak yang mau pulang mudik, acara dipadatkan. Jadi tadi malam diselesaikan,” kata salah seorang peserta yang masih berada di hotel sampai Kamis (23/6) pagi.

Untuk kepentingan semiloka itu memang seluruh peserta yang berjumlah 70 orang menginap di hotel selama 3 hari. 20 orang di antaranya wartawan dari berbagai media.

Ada 10 narasumber yang terdiri dari: Sekjen Kemdikbud, Dirjen Kebudayaan, Pejabat Kementerian Dalam Negeri, Kepala Pusbang Perfilman, Prof. Mudji Sutrisno, Prof. Ibnu Hamad (Pakar Komunikasi), Drs. Nunus Supardi, Wina Armada SA (Warrawan Senior / Lawyer), Hardo Sukoyo (Wartawan Senior), Zairin Zain (Produser), Angga Dwimas Sasongko (Sutradara) dan Taufik Rahzen (Budayawan).

Semiloka yang diadakan ada kaitannya dengan Apresiasi Film Indonesia (AFI), sebuah festival film yang sudah empat kali diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud).

Ada tiga tujuan yang ingin dicapai, yakni: Pertama: Tersusunnya Naskah Akademik AFI dengan kajian mutkahir. Kedua: Tersusunnya pedoman/standar penyelenggaraan AFI. Ketiga: Tersusunnya Penyelenggaraan Teknis AFI.

Ada beberapa hal menarik yang terlihat dari penyelenggaraan Semiloka ini. Yang pertama adalah tujuan dari Semiloka tersebut. Penggunaan kata “Naskah Akademik AFI” mengesankan proyek ini sangat luar biasa, walau pun hanya diadakan selama dua hari. Apakah mungkin sebuah Naskah Akademik bisa dilahirkan melalui sebuah semiloka yang hanya berlangsung singkat dengan narasumber tarbatas. Dalam penyusunan undang-undang, pembuatan naskah akademik biasanya melalui sebuah penelian dan kajian mendalam.

Yang kedua, apakah hasil semiloka ini akan menjadi dasar penyelenggaraan dan pedoman teknis pelaksanaan AFI mendatang?

Ketua Panitia Pelaksana Semilog Wina Armada mengatakan tujuan semiloka adalah untuk menyusun pedoman teknis pelakasanaan AFI, yang akan disusun oleh Tim Perumus dari berbagai ahli.

Kepala Pusbang Film dalam pesan Whatsapp menyatakan, Semiloka di Alila itu, rancangan awalnya adalah perumusan penyelenggaraan festival, atas masukan beberapa pihak, terkait mulai tumbuh dan banyaknya festival film yang diselenggarakan oleh masyarakat.

Menurut Maman, tujuannya semiloka adalah, pertama, pemerintah perlu mendorong dengan cara-cara yg tepat sesuai dengan karakter masing-masing festival yang ada. Oleh karena itu perlu identifikasi ciri dan karakter, lalu dirumuskan peran-peran apa yang perlu dilakukan pemerintah.

Kedua, menyediakan berbagai macam informasi terkait penyelenggaraan festival sehingga siapapun yg akan menyelenggarakan festival merasa terbantu dengan informasi tersebut.

“Cuma entah bagaimana kemudian judulnya berubah spesifik menjadi AFI,” kata Maman.

“Akan tetapi sesungguhnya mungkin tidak apa-apa, itu sebuah dinamika. Saya memandang ini adalah aspirasi teman-teman. Apapun pasti akan ada manfaatnya. Lagi pula kegiatan sejenis semiloka itu akan terus dilakukan dengan berbagai pihak yang lainnya. Saya akan selalu memerlukan informasi dari banyak kalangan. Hanya saja untuk sebuah kegiatan itu terikat dengan keterbatasan jumlah yg terlibat dan waktu,” tambahnya.

Yang menarik, semiloka ini juga tidak melibatkan Badan Perfilman Indonesia (BPI) secara kelembagaan. Padahal sejak dibentuk Pusbang Film, BPI merupakan “anak emas” di Kemdikbud. Tidak ada satu pun kegiatan perfilman yang tidak melibatkan BPI.

“Si Umaya (Dewi Umaya, Wakil Ketua BPI-Red.) sempat marah-marah karena BPI tidak dilibatkan. Memang apa pentingnya BPI?” kata salah seorang peserta semiloka kepada balaikita.

Undangan kepada BPI kabarnya dikirimkan kepada Ketua BPI, Ir. Chand Parwez Servia. Namun karena sedang berada di luar negeri, yang bersangkutan tidak bisa hadir.

Dewi Umaya yang dihubungi melalui WA mengatakan seharusnya Pusbang melibatkan BPI untuk acara tersebut. Dia sudah menghubungi Pusbang Film untuk menanyakan mengapa tidak ada undangan untuk BPI. Jawaban Pusbang, lupa menghubungi BPI karena acaranya mendadak.

“Mungkin ada orang yang merasa proyeknya terganggu kalau ada BPI,” kata Dewi.

Ketika diingatkan undangan sudah dikirim ke Chand Parwez, Dewi mengatakan, “BPI itu bukan cuma Pak Parwez ya. Pusbang itu lembaga terhormat ya, seharusnya paham cara mengundang institusi secara resmi. Kami merasa, tindakan Pusbang Film sudah melanggar etika. Ini akan kami sampaikan protes resmi ke Menteri dan Dirjen terkait,” tandas Dewi Umaya.

Menanggapi komentar Dewi Umaya, Kepala Pusbang Film Maman Wijaya mengatakan di antara yang terlibat (dalam semiloka) ada yang menjadi pengurus BPI, tetapi kapasitasnya bisa juga sebagai individu.

“Namun setiap hasil diskusi tentu akan dibahas bersama BPI secara kelembagaan,” kata Maman.

Penyelenggaraan AFI sendiri sudah sudah berlangsung 4 (empat) kali sejak tahun 2012. Bisa diaktakan AFI merupakan proyek pertama BPI dalam menyelenggarakan festival film di Indonesia.

AFI lahir tahun 2012. Waktu itu pembentukan AFI memang tidak terlepas dari kesan adanya keinginan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) untuk menunjukkan posisi sebagai kementerian yang membawahi perfilman. Kedudukan itu sesuai dengan bunyi UU No.33 tahun 2009. Sementara, sebagian besar kegiatan perfilman masih ditangani oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, kementerian yang dibentuk setelah Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata dan (Kemenbudpar) ditiadakan.

Meski pun pemerintah melalui Kemenparekraf telah memiliki Festival Film Indonesia, tetapi atas nama kewenangan terhadap perfilman, Kemdikbud mendirikan AFI. Maka terbentuklah dua festival film yang sama-sama menggunakan anggaran pemerintah. Agar terkesan beda, disebutkan kriteria film-film peserta dalam AFI, antara lain harus memiliki kekhasan tersendiri, yakni memiliki muatan budaya. Walau pada gilirannya, peserta FFI dan AFI sebagian besar sama.

Sejak tahun 2014, setelah Kemenparekraf dibubarkan, FFI dipindahtangankan ke Kemdikbud, sehingga Kemdikbud menanggung beban penyenggaraan dua festival film. Apakah itu merepotkan? Tentu saja tidak. Sejauh ada uang, tidak ada yang sulit di dunia ini. Apalagi ada badan swasta mandiri bernama Badan Perfilman Indonesia (BPI) yang tugasnya antara lain menyelenggarakan festival film di dalam negeri. Kepada BPI-lah Kemdikbud menyalurkan anggaran untuk membiayai FFI dan AFI.

Namun pada tahun 2014 ada ketidaksesuaian paham antara Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbang Film – organ di bawah Kemdikbud) dengan BPI dalam soal pembiayaan untuk pelaksanaan AFI. Sehingga ditunjuklah Abdullah Juliarso (Dudung), seorang pensiunan perwira TNI AL yang lebih dikenal sebagai penggiat film dibandingkan pensiunan tentara.

Dengan pengalamanya sebagai penggiat film, dan dasar keilmuan yang dimilikinya sebagai alumnus Institut Kesenian Jakarta Jurusan Film, Dudung telah menyusun semacam cetak biru format penyelenggaraan AFI yang membuatnya berbeda dengan FFI. Komunitas film adalah kelompok yang menjadi target peserta AFI ke depan.

Sayang persaingan di dunia film yang begitu keras, membuat Dudung terpental. Dia yang telah membuka jalur pelaksanaan AFI di Manado, Sulut, pada tahun 2015, justru ditinggalkan begitu saja. Sejak itu Dudung sakit, hingga meninggal dunia. Tahun 2015 AFI kembali direbut BPI.

Dalam obrolan penulis dengan Kepala Pusbang Film Dr. Maman Wijaya tahun lalu, sempat muncul wacana pemerintah akan menyatukan penyelenggaraan AFI dengan FFI. Kedua festival itu tidak perlu dipisah-pisah karena baik penyelenggaraan hingga pelaksanaan, nyaris hampir mirip. Menurut Maman, pemerintah berpikir untuk membuat hanya sebuah festival film, tetapi lebih besar dari yang ada sekarang ini.

Tidak jelas kelanjutan wacana itu, yang muncul berikutnya adalah sebuah seminar pembuatan “Naskah Akademik AFI”. Dan seminar ini difasilitasi oleh Pusbang Film. Konon sebagian besar pesertanya adalah wartawan film.

Dengan dilaksanakanya semiloka AFI di Hotel Alila pekan lalu itu apakah format penyelenggaraan dan teknis pelaksanaannya AFI mendatang akan berubah?

“Mohon dibedakan dulu semiloka AFI dan pelaksanaan AFI 2017. Pelaksanaan FFI 2017 dan AFI 2017 tetap seperti yang sudah-sudah akan bersama BPI, dan sudah dimulai beberapa persiapan,” kata Maman Wijaya.

Mengenai wacana mempersatukan FFI dan AFI menurutnya masih berjalan, sambil menunggu masukan dan informasi untuk dibahan bersama-sama.

 

Share This: