Seniman Peduli TIM Adukan Nasib ke DPR RI

_

Puluhan seniman yang tergabung dalam
Forum Seniman Peduli TIM, Senin 17 Februari 2019 pagi melakukan RAPAT DENGAR PENDAPAT UMUM dengan Komisi 10 DPR RI.

Kedatangan mereka adalah Untuk menyampaikan tuntutan penyelamatan Taman Ismail Marzuki atau #Save TIM.

Dalam rapat dengar pendapat itu / para seniman yang dipimpin oleh budayawan Radar Panca Dahana dan penyair Noorca M Masardi, menjelaskan alasan penolakan mereka terdahap tindakan sepihak Pemda DKI yang akan merevitalisasi TIM.

Kini seluruh bangunan lama yang dibangun sejak Gubernur DKI Ali Sadikin, sudah dirobohkan.

“Kami sudah ngomong sama JakPro, DPRD DKI dan anak buah gubernur, tetapi tidak ada respon. Ini benar-benar gubernur budeg,” kata budayawan Radhar Panca Dahana.

Penyair Noorca Massardi yang sempat membacakan puisi karya WS Rendra menjelaskan, Pemda DKI berjanji akan berbicara dengan Akademi Jakarta dan Dewan Kesenian Jakarta sebelum merevitalisasi TIM tetapi sampai sekarang tidak pernah bicara.

“Ini ada Surat Keputusan yang baru, ada disebutkan Akademi Jakarta dan DKJ, tetapi nama orangnya tidak ada. Ini hantu atau apa?” kata Noorca.

Komisi sepuluh DPR memahami kemarahan seniman. Seluruh anggota Komisi 10 DPR sepakat revitalisasi dihentikan sementara, sampai semuanya jelas.

Anggota Komisi X Dede Yusuf mengatakan, secara pemerintahan dia setuju TIM dibangun, tetapi bukan untuk dibuat hotel.

“Kalau dibuat hotel kan sama saja menyuruh semua orang masuk,” katnya.

Senada dengan Dede, anggota Komisi X yang dikenal sebagai aktor dan sutradara Rano Karno menegaskan, seniman di manapun harus diberi tempat dan disubsidi oleh pemerintah.

Menanggapi keluhan seniman Komisi X DPR RI menegaskan perlu dilakukan moratorium pembangunan TIM, dan Komisi X akan memanggil Gubernur DKI Anies Baswedan, DPRD DKI dan PT. Jakpro yang menangani revitalisasi TIM.

Share This: