Sensor Mandiri Untuk Meningkatkan Prestasi

_

Akhir-akhir ini Lembaga Sensor Film (LSF) tengah giat mensosialiasikan budaya “Sensor Mandiri” ke berbagai daerah di Indonesia. Tujuannya adalah agar masyarakat luas memahami apa arti dan manfaat sensor mandiri, bukan melakukan penyensoran terhadap film / produk audiovisual yang akan ditontonnya.

Yang dimaksud sensor mandiri adalah sikap untuk memutuskan apa yang patut atau tidak untuk ditonton, karena tidak semua tontonan itu patut untuk disaksikan oleh semua orang. Terkait program LSF itu kedengarannya memang aneh. LSF mengajak masyarakat untuk melakukan sensor mandiri. Bukankah tugas LSF itu melakukan penyensoran terhadap film-film bioskop, sinetron, iklan dan poster yang terkait dengan produk audiovisual?

Untuk apa lagi masyarakat harus melakukan sensor mandiri kalau semua materi yang disebutkan itu sudah lolos sensor? Penjelasan sederhananya seperti ini: Kerja LSF dalam beberapa tahun terakhir ini tidak lagi melakukan pemotongan terhadap adegan di dalam film, sinetron atau produk audiovisual dan gambar-gambar lain yang terkait dengan produk visual, seperti poster film.

Pertama, media yang digunakan untuk memproduksi film bukan lagi pita seluloid, melainkan media digital, sehingga tidak bisa lagi dipotong-potong. LSF hanya meminta kepada produsernya untuk membuang bagian-bagian yang dinilai tidak layak agar tidak masuk ke dalam materi yang akan ditayangkan.

Kedua, LSF hanya memberikan klasifikasi umur untuk film-film yang mendapat Surat Tanda Lolos Sensor (STLS). Yakni untuk semua umur, umur 13 tahun ke atas, 17 tahun ke atas, 21 tahun ke atas. Bila ada film yang memiliki adegan tidak patut untuk anak-anak berusia 13 tahun, LSF akan meminta membuang bagi yang tidak pantas itu kepada produsernya, atau jika produsernya keberatan, maka film tersebut bisa diklasifikasikan untuk 17 atau 21 tahun ke atas.

Setelah film mendapat STLS sesuai dengan klasifikasi umur yang diberikan LSF, “bola” berada di tangan pemilik bioskop. Pihak bioskoplah yang berhak untuk mengijinkan atau melarang penonton untuk masuk ke bioskop menyaksikan film yang akan ditontonnya.

Fenomena yang muncul selama ini, pihak bioskop biasanya kalah dengan keinginan penonton. Sering ditemui bioskop membolehkan anak-anak menonton film yang tidak sesuai dengan usianya, dengan alasan, penonton marah karena hak asasinya dipasung.

Karena takut aianggap melanggar hak asasi orang lain, bioskop membuka pintu kepada penonton, walau pun film yang ditontonnya tidak sesuai dengan usia. Berikutnya, “bola” ada di tangan penonton.

Artinya penonton bebas menentukan film apa yang akan dia tonton. Dan itu tidak terbatas hanya di bioskop, tetapi juga di televisi atau internet. Jika calon penonton bisa memutuskan untuk melihat film-film atau tayangan lain saja yang cocok dengannya, berarti dia sudah memahami arti sensor mandiri.

Memahami dan mempraktekan sensor mandiri sangat penting bagi setiap penonton, terutama kalangan muda. Dengan memahami sensor mandiri berarti calon penonton, sudah mengetahui apa yang bermanfaat atau tidak bagi jiwa dan pikirannya.

Jangan diartikan Sensor Mandiri itu hanya untuk kebutuhan menonton bioskop. Di rumah atau di tempat lain di luar bioskop, justru ancamannya lebih besar. Dengan membuka telepon genggam saja sudah ribuan konten negatif yang mengandung pornografi dan kekerasan bisa dilihat.

Menurut para ahli, tontonan sangat efektif mempengaruhi pola pikir manusia. Penonton, terutama pada anak-anak, cenderung untuk meniru apa yang dilihatnya dalam tontonan. Jika anak-anak menonton adegan kekerasan atau percabulan, maka itu juga akan ditiru oleh mereka. Tentu berbahaya bukan bila anak-anak terlibat dalam seks dan kekerasan.

Sebaliknya, bila anak-anak menonton film-film yang berisi pesan positif gambaran-gambaran yang baik dan memotivasi, mereka juga akan meniru gambaran kebaikan dalam film itu.

Lalu bagaimana agar anak-anak dapat menjaga diri untuk tidak menyaksikan tontonan negatif, tetapi memilih tontonan yang memiliki konten positif? Jawabnya adalah agar generasi muda, terutama anak-anak mampu mempraktekan sensor mandiri.

Kemampuan untuk memahami dan mempraktekan sensor mandiri tentu tidak datang begitu saja pada diri setiap anak. Harus ada yang membimbing, mengarahkan dan memberi pemahaman tentang pentingnya arti sensor mandiri. Pihak pertama yang paling bertanggungjawab untuk mengajarkan sensor mandiri kepada anak adalah orangtua itu sendiri.

Setiap orangtua berperan untuk memberi pemahaman kepada anak-anaknya tentang pentingnya melakukan sensor mandiri. Ada banyak cara untuk memberi pemahaman kepada anak tentang sensor mandiri.

Apakah melalui pelajaran budi pekerja, pelajaran agama, atau terbiasa mempraktekkan hal-hal positif dalam keluarga. Membiasakan untuk menonton / membuka internet untuk meliha konten positif juga bagian dari pelajaran budaya sensor mandiri.

Jika orangtua tidak punya waktu untuk mengajarkan anak-anaknya melakukan sensor mandiri, orangtua bisa meminta bantuan kepada guru-guru di sekolah, guru mengaji, atau pengajar agama lainnya di rumah atau lingkungan tempat tinggal.

Orangtua juga bisa meminta bantuan ahli untuk mengajar anak-anaknya melakukan sensor mandiri kepada ahli pendidikan dan terakhir, psikolog. Namun karena orangtua yang punya otoritas mengatur anak, tentu orangtua berhak untuk melakukan “ujian” terhadap anaknya, sejauh mana sang anak bisa mempraktekkan budaya sensor mandiri dalam kesehariannya.

Bila anak-anak sudah memahami dan mempraktekkan budaya sensor mandiri, tentu orangtua tidak perlu cemas lagi dengan perkembangan jiwa dan kebiasaan anak-anaknya. Sebab tidak bisa dimungkiri, di jaman yang semakin maju ini, setiap anak yang sudah bisa membaca tulis, pasti sudah mengenal gadget, bahkan memilikinya.

Tidak sedikit orangtua yang membelikan anak-anaknya telepon genggam untuk memudahkan berkomunikasi. Dan telepon genggam yang beredar di pasaran saat ini bukan lagi hanya untuk menelepon atau mengirim pesan singkat, tetapi sudah menjadi telepon pintar yang bisa membuka internet dan memutar rekaman audiovisual.

Di telepon pintar, kita bisa melihat apa saja. Konten-konten positif atau negatif, tinggal apa yang mau kita lihat. Orang-orang yang memiliki pemahaman akan sensor mandiri – syukur-syukur anak-anak – tentu akan melihat konten-konten positif. Karena telepon genggam yang memiliki sambungan internet seperti pisau, tergantung bagaimana kita menggunakannya.

Tidak sedikit pula konten positif yang sangat berguna bagi manusia terdapat dalam situs-situs internet maupun media sosial.
Kemunduran Prestasi Bangsa

Sebelum melanjutkan pembahasan tentang sensor mandiri, penulis ingin mengajak kita semua mengenang “peristiwa pahit” bagi Bangsa Indonesia di ajang Sea Games 2017 yang berlangsung di Kuala Lumpur baru-baru ini.

Pencapaian Kontingen Indonesia yang hanya berada di posisi ke-5 dari seluruh negara peserta Sea Games, merupakan hal yang sangat memprihatinkan. Bagaimana bangsa terbesar di Asia Tenggara ini, yang terkenal dengan budayanya yang adiluhung, hanya berada di posisi ke-5, di bawah Malaysia, Thailand, Vietnam dan Singapura yang jumlah penduduknya saja kurang dari setengah penduduk Jakarta!

Di ajang Sea Games ini adalah hasil terendah yang pernah dicapai. Apa yang salah dengan bangsa ini? Apakah Bangsa Indonesia memang ditakdirkan “kalah” dalam persaingan dengan bangsa-bangsa lain di dunia, khususnya di Asia Tenggara? Jawabnya tentu tidak!

Bila melihat perjalanan sejarah Nusantara yang menjadi cikal-bakal Indonesia, penghuni Kepulauan Nusantara adalah manusia-manusia tangguh.Wilayah taklukan Majapahit meliputi Kepulauan Nusantara hingga ke Trengganu (Malaysia), Serwak dan Brunei (Riana, I Ketut, 2009, Negara Kertagama).

Pelaut-pelaut Bugis sudah mendatangai Australia jauh sebelum orang-orang Eropa datang. Itu bisa dilihat dari lukisan Aborigin yang terdapat di kawasan adat Aborigin di Arnhem Land. Dalam ribuan lukisan cadas nenek moyang orang Aborigin, terdapat lukisan rumah-rumah adat Bugis dan perahu Phinisi. (Akhari Hananto, Indonesia Unik / Sosial Budaya, 2016).

Banyak lagi catatan sejarah tentang ketangguhan Manusia Nusantara, jauh sebelum bangsa-bangsa lain melakukan apa-apa. Sangat mengherankan jika sekarang Bangsa Indonesia menjadi bangsa yang “kalah”, bangsa yang tertinggal, bahkan oleh beberapa negara tetangganya di Asia Tenggara.

Tidak bisa dimungkiri, masuknya era televisi swasta dan teknologi internet, juga ikut memberi andil terhadap kemunduran bangsa. Teknologi tetapi membuat kita menjadi bangsa yang tertinggal. Kedengarannya aneh bukan? Sebetulnya tidak aneh.

Bangsa Indonesia merupakan konsumen besar perangkat teknologi canggih. Apapun perangkat canggih yang dikeluarkan negara-negara maju, laku di sini. Sayangnya kepemilikan teknologi canggih itu bukan untuk dipetik manfaatnya yang besar, tetapi sekedar untuk dinimati, menyenangkan diri.

Hanya sedikit dari sekian banyak fungsi peralatan canggih yang dipetik manfaatnya. Kalau punya televisi canggih mungkin bisa menikmati tontonan dengan lebih baik, punya telepon genggam canggih bisa melihat fitur-fitur di dalamnya dengan mudah, foto selfie jadi lebih indah, dan lain sebagainya hal remeh-temah.

Hanya sedikit yang memanfaatkan kecanggihan teknologi dari perangkat yang dimilikinya untuk produktivitas meningkatkan kemampuan diri. Dalam perjalanan pergi dan pulang menggunakan kereta api, penulis melihat mayoritas penumpangnya sibuk dengan gadget masing-masing. Tapi apa yang dilakukan? Bermain game, nonton film dan melihat media sosial merupakan kegiatan yang paling banyak dilakukan. Sedikit ilustrasi lagi.

Di kampung penulis ada sekolah sepakbola. Banyak remaja yang bergabung di dalamnya. Beberapa di antaranya memiliki bakat yang baik dan mulai dilirik oleh klub-klub sepakbola yang lebih besar. Beberapa tahun kemudian anak berbakat tersebut ternyata tak jadi apa-apa. Dia bahkan berhenti berlatih sepakbola. Menurut pelatihnya karena anak itu banyak menghabiskan waktunya di warnet hingga larut malam, sehingga kondisi fisiknya drop. Bakat bagus itu terbuang sia-sia.
Peningkatan Mutu Manusia

Di atas sudah disinggung bahwa konten dalam internet tidak melulu negative. Banyak sekali konten positif yang bisa ditemui. Di You Tube orang bisa melihat film-film porno, tetapi banyak sekali konten yang berisi pelajaran berharga. Banyak anak-anak muda yang memiliki keahlian secara otodidak karena belajar dari You Tube.

Persoalannya mana yang mau dilihat oleh pengguna internet? Apakah situs-situs atau tayangan berbau kekerasan dan pornografi, atau konten-konten inspiratif dan edukatif.

Orang-orang yang sudah memahami sensor mandiri, terutama anak-anak muda, tentu akan memilih untuk melihat konten-konten positif. Dari situlah mereka bisa belajar untuk meningkatkan kemampuan pribadinya.

Banyak pelajaran-pelajaran penting yang tidak diperoleh di sekolah atau bangku kuliah, bisa dipelajari di internet. Dengan budaya sensor mandiri, pada waktunya nanti, anak-anak Indonesia akan tumbuh menjadi generasi yang bermutu, generasi yang unggul, yang bisa mendorong kemajuan bangsa, meningkatkan prestasi bangsa di segala bidang.

Ayo ajarkan anak-anak kita membudayakan sensor mandiri dalam kehidupan sehari-hari. Lahirkan generasi bermutu dari rumah kita masing-masing.

Share This: