Setelah Putusan MK Tidak Ada Lagi Dikotomi Pendukung Nomor 1 dan Nomor 2

Foto-foto: Humas DPD RI
_

Perkara gugatan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden tahun 2014 saat ini sedang disidangkan di Mahkamah Konstitusi (MK). Dalam beberapa hari ke depan, Majelis Hakim MK akan mengambil keputusan, yang merupakan tonggak penting bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena dengan putusan MK itu polemik tentang kecurangan Pilpres 2014 berakhir, dan siapa yang akan memimpin Indonesia ke depan sudah ada kepastian.

Hj. Anna Mariana dan suami H. Tjokorda Ngurah Agung Kusumayudha, SH

“Insha Allah Mahkamah Konstitusi akan membuat keputusan sebaik-baiknya sesuai keadilan dan kebenaran. Kalau melihat jalannya persidangan dengan bukti-bukti yang ada, Insha Allah pasangan Jokowi – Amin akan menjadi pemenang,” kata Disainer tenun dan songket Anna Mariana, usai halal bihalal relawan Jokowi yang tergabung dalam Gerakan Kemajuan (GK) Jokowi, Minggu (23/6/2019)

Sekitar 500 undangan hadir di rumah Anna Mariana yang besar di kawasan Kemang Jakarta. Tokoh-tokoh yang hadir antara lain tokoh politik dan Watimpres Sidarto Danusubroto, Eva Kusuma Sundari, Mendagri Tjahjo Kumolo, Ketua GK Jokowi Kelik Wirawan dan banyak undangan lainnya.

“Alhamdulillah semua tumplek blek di sini. Ini silaturahmi kami, para relawan, akan kita tetap bersama-sama berjuang mengawal pemerintahan yang akan datang di bawah kepemimpinan Pak Jokowi dan Kyai Ma’ruf Amin,” kata Anna.

Menurut Anna, setelah selesai sidang di MK, dan pemimpin Indonesia ke depan diketahui, maka dikotomi pendukungan pasangan capres dan cawapres yang selama ini mengental di masyarakat, diharapkan tidak ada lagi.

“Mari kita lupakan perbedaan, kita bersama-sama membangun bangsa ini, siapapun pemimpinnya, harus kita dukung. Sebab suka atau tidak suka, pemimpin itu lahir dari proses demokrasi yang kita sepakatai bersama, dan melalui jalur yang sudah ditentukan konstitusi,” kata Anna.

Tjokorda Ngurah Agung Kusumayudha, S.H., M.H., M.Sc, suami Anna Mariana yang ikut mendampingi menjelaskan, dengan keputusan yang akan diambil MK, tidak ada lagi sebutan Presiden dan Capres yang terpilih disebut tidak legitimate.

“Putusan MK itu kan final dan mengikat. Siapa pun harus patuh pada putusan MK. Dan kita percaya hakim-hakim MK adalah orang yang jujur, berintegritas dan takut kepada Allah Swt. Jadi tidak mungkin mereka mengambil keputusan yang mengingkari nurasinya sendiri. Jadi hasil putusan MK kelak sangat legitimate,” kata H. Tjokorda.

Watimpres dan sesepuh PDIP Sidarto Danutirto dalam orasi singkatnya memaparkan, Indonesia harus belajar dengan apa yang terjadi di Irak dan Suriah. Kedua negara itu adalah dulu disebut Mesopotamia, yang memiliki peradaban tinggi. Tetapi karena konflik terus-menerus, terutama akibat fanatisme agama, maka kedua negara itu hancur berantakan.

“Dulu Mesopotamia itu memiliki peradaban yang tinggi, ketika bangsa-bangsa di Eropa masih duduk di tanah. Sekarang bangsa-bangsa yang duduk di tanah itu sudah demikian maju, sementara yang di Mesopotamia hancur lebur. Apa kita ingin seperti itu? Oleh karena itu marilah, kita pikirkan kemajuan bangsa bersama-sama. Perbedaan itu sunatullah, Tuhan yang menciptakan perbedaan itu. Kita harus bisa menjaganya,” kata lelaki yang dipanggil Eyang ini.

 

 

 

Share This: