Mengenalkan Kopi Melalui Jaringan Warkop

_

Minum kopi (ngopi), sekarang sudah menjadi gaya hidup di kalangan masyarakat urban. Tua / muda menggemari kopi. Mulai dari kopi di warung-warung bubur kacang ijo, kopi yang dijual oleh pedagang bersepeda, sampai kopi yang dijual di kedai-kedai mewah di mal-mal, yang harga secangkirnya mungkin tidak pernah dibayangkan oleh masyarakat kebanyakan.

Melihat besarnya peluang berdagang kopi, Setya Yudha Indraswara, seorang enterpreneur muda ingin memasarkan kopi dengan citarasa mewah, tetapi harganya terjangkau kantong masyarakat. Melalui Jaringan Warkop Nusantara (JWN) Setya Yudha Indraswara ingin memperkenalkan Kopi Indonesia di warung kopi (warkop) yang ramah kantong.

Ini dilakukannya berdasarkan pengalamannya yang sulit untuk mendapatkan kopi asli yang bukan kopi sachet, sewaktu pindah di Jakarta. Padahal dirinya mengaku bahwa ketika itu sangat menginginkan minum kopi asli yang tidak dibungkus dalam saset.

Dari pengalaman itulah dia lalu terpikir untuk meracik kopi ala coffee shop ternama, tetapi harganya terjangkau kantong masyarakat kebanyakan.

“Kita bukan untuk menggangu atau mengambil market orang. Justru kita memberi alternatif. Kita ngenalin kopi Indonesia yang bener, bagus, kualitas oke dan masih terjangkau,” ungkap Setya Yudha Indraswara kepada balaikita di Taman Suropati, Jakarta, Sabtu (4/3/2017).

Ia juga menjelaskan bahwa JWN ini bukanlah group atau membership dimana mereka datang harus bayar. Ini free, semua memesan kopi ke JWN, kemudian menyebar ke berbgai daerah.  Mulai dari Lampung, Kalimantan, Makasar, sampai  Jawa.

“Kegiatan ini awalnya ini pure sosial, berawal dari dana pribadi. Tapi kalau gitu terus, tekor dong. Gimana caranya hidup, sosial jalan bisnis jalan. Untuk menghidupkan sosial, mulai saya bisnis di distribusi kopi untuk warung-warung. Tetap ada suplay harga tetep subsidi. Setelah distribusi dapet jaringan, saya dapet retail,” paparnya.

Program mengcreate kopi ala coffee shop tenama yang diterapkan di warung kopi (warkop), kini mulai dilirik oleh para pemilik warkop.  JWN dibantu oleh beberpa temen-temen Setya yang ahli dalam bidang kopi, memberikan pengajaran tentang bagaimana standar growing hingga proses menyeduh kopi yang baik.

Treatmen yang akan diberikan oleh para pengusaha adalah tekhnik umum bagaimana cara pengolahan dan residunya.

“Katakanlah yang umumkan selama ini kita mainnya tubruk. Tubruk ini yang orang lihat paling sederhana. Emang sih paling gampang, tapi justru di situ seninya paling susah buat saya. Kalau pakai alat, ketahuan metodenya. Begini ukuran, begini alat,  hasilnya kira-kira kan begini. Kalau tubruk enggak semudah itu, kayak lebih nyeni lebih art ,” katanya.

Menurutnya JWN bertekad untuk mengenalkan semua kopi yang ada di Nusantara secara bertahap. Saat ini JWN telah melisting sekitar 80-an jenis kopi yang akan diperkenalkan kepada startup warkop-warkop yang bergabung dengan JWN.

“Yang sekarang kita kenalin awal 9 varian umum, mulai dari Aceh Gayo, Lampung,  Flores, Toraja,  Papua, sampai ke Jawa semua, yang umum. Yang orang recallnya cepat, gampang ingatnya, umumnya Toraja. Di bilang Pengalengan  mereka enggak tahu, tapi kalau Toraja, udah tahu,” tutur Setya.

Selama ini menurutnya masyarakat terbiasa dengan kopi yang besar dan umum. “Toraja, Lampng udah dikenal rasanya. Setelah tahu rasa, tahu nama. Lalu kita kenalin sekarang kopi  murni tanpa campuran (pure coffee). Kopi Toraja, Kopi Lampung, yang bener yang origin,” ungkapnya.

Saat ini para JWN baru memberikan penyuluhan kepada pemilik warkop dalam teknik penyuduhan. Nantinya akan ada pengenalin ke alat.

“Bahkan kalau mungkin, ada espresso di warkop kenapa enggak? Cuman kayak gitu kan listrik gede, susah. Yang ada aja dulu. Jadi ya lebih tradisional tekniknya, tapi kita training kenapa harus diaduk kenapa tidak, kenapa harus dikasih gula kenapa tidak. Itu ada ilmunya dan kita kasih free,” ungkapnya.

Mengenai harga, ia mengatakan lebih mahal Rp1.000 hingga Rp2.000 dibandingkan dengan kopi saset yang umumnya ada di warkop.

“Harga kopinya itu kita gak lebih murah. Kalau  di warkop kopi sasetan Rp3.000, kita harus di atas itu.  Itu karena kualitas juga beda. Jika harganya Rp 8000 sampai Rp.10.000 ke atas, dia mainnya kelas kedai. Kafe itu di atas Rp15. 000an,” tegasnya.

Untuk alat pembuatan kopi menggunakan alat mereka sendiri. Tapi itu semua bertahap dulu, nanti ia akan memperkenalkan kepada pemilik kopi melalui mesin, seperti bagaimana caranya menggunakan mengiling kopi.

Share This: