Sha Ine Febriyanti, Memilih Teater Dibandingkan Film

_

Naskah teater “Panembahan Reso” karya besar dramawan dan penyair WS Rendra (almarhum) kembali akan dipentaskan.

Sejumlah artis dan pemain teater yang akan terlibat dalam pementasan ini, diantaranya: Whani Darmawan, Sha Ine Febriyanti, Gigok Anuraga, Djarot Budi Darsono, Kodok Ibnu Sukodok, Meong Purwanto, Dedek Witranto, Maryam Supraba, Sruti Respati, Ruth Mariani, Ucie Sucita dan Dimas Danang.

Bagi Ine Febriyanti, Panembahan Reso adalah lakon teater kesekian yang sudah diikutinya. Sebelumnya dia beberapa kali bermain bersama tetaer Koma, antara lain dalam lakon Miss Julie (1999 dan 2012), Teater Lembaga karya August Stindberg , sutrada Joseph Ginting; “Opera Primadona” (2000), Teater Koma, karya dan sutradara Nano Riantiarno; “Whalers On The South Seas (2000), Rinko Gun Japan, sutradara Yoji Sakate; “Ekstrimis” (2003), karya William Mastrosimone, sutradara Eka D Sitorus; “Surti dan Tiga Sawunggaling” (2011), dan teater monolog, karya Goenawan Mohamad, dan beberapa pementasan lainnya termasuk yang disutrdarai sendiri.

Sementara banyak artis berbondong-bondong berkiprah di film atau sinetron, Ine justru asyik dengan teater. Dia seolah tak terusik sedikit pun dengan godaan materi dari dunia film yang saat ini sedang booming.

Padahal dengan modal kemampuan dan kecantikannya, meski kini ia telah berusia 43 tahun, tentu bukan persoalan besar bagi ini untuk masuk ke panggung film yang gemerlap.

“Buat aku teater adalah untuk mengisi jiwa dan pikiran. Kita tidak harus selalu mengejar uang dan popularitas ya dalam hidup, jadi ya teater buat aku makanan batin yang sangat perlu,” kata artis kelahiran Semarang, 18 Februari 1976 ini, ketika ditemui di Bengkel Teater WS Rendra, di kawasan Cipayung, Depok, Jum’at (26/4/2019)

Ine sendiri mengawali kariernya di dunia akting dengan bermain dalam TV series berjudul “Dewi Selebriti” (1997) karya sutradara Aria Kusumadewa. Kemudian menjadi Engtay dalam serial tivi berjudul “Sampek Engtay” (2000), dengan sutradara Idris Pulungan, kemudian dalam FTV “Marinka” (2000), sebagai Marinka, dengan sutradara Didi Petet.

Sedangkan dalam layar lebar, ia juga mengawalinya bersama Aria Kusumadewa dalam film “Beth” (2000), sebagai Beth, kemudian menjadi Dajang Soembi dalam film “Perempoean jang Dikawini Andjing” (Film Pendek, 2004), sutradara EdwinLaksamana “Keumalahayati” (2007), sebagai Laksmana Keumalahayati, sutradara H. Alfadin, “Nay”
(2015), sebagai Nay, sutradara Djenar Maesa Ayu dan “I’am Hope” (2015), sebagai Sadina, sutradara Adilla Dimitri.

Dari keterlibatannya di film itu, “Nay” telah memberi banyak penghargaan baginya. Yakni menjadi
Nominasi Pemeran Utama Wanita Terbaik Usmar Ismail Award 2016, Pemeran Utama Wanita Terbaik, Nay Indonesian Movie Actors (IMA) Awards 2016, Pemeran Utama Wanita Terpuji, Nay (2015), Festival Film Bandung 2016, Nominasi Pemeran Utama Wanita Terbaik, Nay (2015), Festival Film Indonesia 2016.

Seperti cukup puas sampai di situ, Ine tak terdengar lagi kiprahnya di film.

“Sebetulnya bukan tidak mau ya. Yang nawarin juga banyak. Tetapi film seperti apa yang aku inginkan, itu yang belum ketemu. Karena bagiku, terlibat di film itu bukan sekedar bermain, lalu dapat honor. Tetapi harus ada kesesuaian antara cerita, pembuatnya dan keinginan aku juga. Artinya, film itu juga memikiki pesan yang kuat bagi masyarakat,” kata ibu tiga anak yang salah satunya sudah duduk di SMA ini.

Ine mengaku ingin juga menyutradarai film. Dan kini kesibukan itu tengah dirintisnya. Tetapi ia tak ingin buru-buru karena targetnya bukan semata ingin disebut sebagai sineas, melainkan ingin menawarkan gagasan baru bagi perfilman.

“Saat ini ada proyek yang sedang aku kerjakan. Tapi aku enggak mau terburu-buru. Sambil jalan ajalah, karena harus disambi juga dengan kegiatan lain, seperti teater ini, selain mengurus suami dan anak,” kata isteri dari DoP Judi Datau ini.

 

 

 

Share This: