“Silariang”, Kawin Lari dan Budaya Siri Bugis – Makassar

_

Silariang adalah sebuah film yang menggambarkan betapa kuatnya budaya dalam satu masyarakat, yang kadang sulit dikompromikan dengan kebutuhan atau keadaan tertentu.

Film karya sutradara Ichwan Persada dengan pemain utama Bisma Karisma dan Andania Suri ini mengisahkan tentang sepasang kekasih, Yusuf (Bisma Karisma) dan Zulaikha (Andania Suri).

Hubungan keduanya tidak disetujui oleh keluarga Zulaikha, karena meski pun Yusuf anak orang berada, dia tidak berasal dari keluarga bangsawan. Namun karena cinta yang kuat keduanya melarikan diri dan menikah tanpa restu orangtua, atau kawin lari (silariang).

Merasa terhina, keluarga Zulaikha terus memburu, dan bahkan akan menghabisi nyawa Yusuf. Dalam budaya Bugis, Makassar atau Mandar, dikenal budaya Siri na Pace, menempatkan harga diri di atas segala-galanya. Demi harga diri, nyawa bisa menjadi taruhannya.

Dalam pelarian itu akhirnya Zulaikha melahirkan. Ketika anak hasil kawin larinya dengan Yusuf sakit parah, Yusuf memberanikan diri menemui keluarga Zulaikha. Meski pun awalnya menolak, keluarga besar Zulaikha akhirnya menerima permintaan maaf Yusuf, dan merestui hubungan anaknya. Penerimaan itu harus melalui acara adat.

Linier

Kisah yang diangkat dalam Silariang merupakan cerita yang sangat universal. Banyak cerita serupa dari belahan dunia lain. Yang sangat terkenal adalah kisah Romeo and Juliet karya William Shakespeare.

Dalam mengangkat cerita ini, sutradara Ichwan Persada juga tidak mau bersusah payah membuat alur yang lebih berliku. Plotnya sangat linier, dan tidak ada sesuatu yang mengesankan dari film ini. Apalagi dialognya juga menggunakan bahasa Indonesia dialek Bugis.

Kalau saja latar belakang cerita ini terjadi di Sulawesi Selatan dan pengambilan gambar di kawasan Ramang Ramang, Kabupaten Maros yang menjadi salah satu destinasi wisata di Sulsel, rasanya tidak ada nilai lebih yang dapat memperkaya keragaman film Indonesia.

Kisah kawin lari dengan setting masyarakat Bugis Sulawesi Selatan, setidaknya sudah tiga kali diangkat ke dalam film. Bahkan yang memakai judul Silariang sendiri sudah dibuat oleh sutradara Rere Art2Tronic, dengan para pemain aktor-aktor lokal.

Tahun 1990 sutradara Nurhadi Irawan membuat film berjudul Jangan Renggut Cintaku yang dibintangi oleh Gito Gilas (sebagai Patongai) dan Dian Nitami (Andi Tentiwaru).

Dikisahkan Andi Patongai (Gito Gilas) saling jatuh cinta dengan Andi Tenriwaru (Dian Nitami), namun hubungan mereka tak disetujui orangtua Tenri karena ada permusuhan lama dengan orangtua Patongai.

Dua remaja ini terpaksa melakukan silariang alias kawin lari. Peristiwa ini mengakibatkan orangtua Tenri jatuh sakit dan memanggil anak lelakinya yang menjadi buronan Polisi, Andi Sumange (Mathias Muchus), untuk mengejar dan membunuh suami adiknya itu.

Dendam hampir terbalaskan ketika badik di tangan Sumange tinggal ditancapkan, tiba-tiba terdengar rintihan Tenri yang sedang melahirkan. Sumange mengurungkan niatnya dan memeluk Patongai.

Siri na Pacce

Mengapa kekasih yang melakukan kawin lari (silariang) selalu diburu dan diancam nyawanya?

Persoalan ini ada hubungannya dengan budaya Siri na Pacce yang dipegang teguh oleh masyarakat Bugis, Makassar dan Mandar. Siri na pacce adalah budaya yang menempatkan harga diri di atas segala-galanya. Harga diri itu kalau perlu ditebus dengan darah dan nyawa.

Pasangan yang melakukan kawin lari dianggap telah merendahkan martabat keluarga. Karena itu untuk menebus rasa malu dan mengembalikan harga diri keluarga, orang yang melakukan penghinaan harus dihukum, bahkan dengan tusukan badik yang mematikan.

Dalam blog dilannatsir dipaparkan, Siri na pacce sebenarnya bukan cuma membalas dendam demi harga diri. Siri na pacce lebih kepada penonjolan jiwa ksatria. Membela orang yang lemah, perduli dengan sesama juga termasuk bagian dari budaya siri. Orang yang memahami nilai-nilai dalam siri, adalah orang yang rendah hati.

 

Share This: